Kematian dua anak harimau benggala di Bandung Zoo menjadi sorotan publik dan memicu perhatian dari Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi atau KDM. Ia menyatakan akan mengambil langkah lebih aktif untuk memastikan penanganan dilakukan dengan baik.
KDM menjelaskan, selama ini tidak terlalu mengikuti persoalan teknis terkait pengelolaan satwa karena menghormati kewenangan masing-masing pihak.
“Ya kan saya selama ini tidak ngikutin secara teknis karena kewenangannya kan pemerintah kota ya,” ujarnya saat ditemui di Gedung Sate, Bandung, Senin (30/3).
Ia menegaskan bahwa dirinya sengaja membatasi diri agar tidak terlalu masuk ke wilayah yang menjadi otoritas lembaga tertentu.
Namun, melihat adanya kejadian kematian satwa tersebut, KDM siap turun langsung untuk memastikan tidak ada lagi kejadian serupa.
“Kalau seperti ini, ya sudah nanti saya juga akan turun teknis untuk menangani. Karena Saya nggak mau lagi ada korban berikutnya,” ujar politikus Gerindra ini.
KDM juga membuka peluang intervensi pemerintah daerah dalam bentuk bantuan logistik untuk mendukung kebutuhan satwa. “Kalau kemudian seluruh hewan itu memerlukan bantuan logistik untuk kebutuhan pangan mereka dan pegawainya yang penting bisa bekerja, kita bersedia,” ujarnya.
Ia bahkan menyatakan kesiapannya membantu kebutuhan operasional, termasuk jika pengelola mengalami keterbatasan anggaran.
“Misalnya ada berapa sih pengurus hewan di situ? Kita nggak ada pendapatan, kita bersedia membantu dalam setiap bulan. Ada berapa kebutuhan untuk hewan itu? Kita bersedia membantu” katanya.
KDM menyatakan memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan dan satwa karena ketertarikannya pada bidang ekologi.
“Saya dulu sampai menawarkan, kalau mau dititipin tempat saya, titipin dulu deh. Saya bilang saya bikinin, saya kasih makan tiap hari dengan baik,” kata KDM yang memiliki ekosistem pedesaan Lembur Pakuan di Subang ini.
Ia menambahkan, langkah awal yang akan dilakukan adalah mengidentifikasi kebutuhan secara rinci, mulai dari jumlah pegawai hingga kebutuhan operasional setiap bulan.
“Nah, saya hari ini mau minta untuk segera diidentifikasi pegawainya berapa gajinya dalam setiap bulan, ada berapa orang, kemudian kebutuhan dagingnya berapa dalam setiap bulan,” pungkasnya.
Huru dan HaraDua anak harimau benggala (Panthera tigris tigris) bernama Huru dan Hara berusia delapan bulan dilaporkan mati pada Kamis (26/3) dan Selasa (24/3) di Kebun Binatang Bandung (Bandung Zoo).
Huru dan Hara merupakan salah satu koleksi satwa di Bandung Zoo yang lahir pada 12 Juli 2025 dari pasangan induk jantan bernama Sahrulkan dan betina Jelita.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat menyampaikan berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan nekropsi, kedua satwa dinyatakan mati akibat infeksi feline panleukopenia virus (FPV), yaitu penyakit virus yang sangat menular dan memiliki tingkat kematian tinggi pada satwa famili Felidae, khususnya pada usia muda.





