Bude Puji adalah pedagang nasi yang terkenal di Pelabuhan Bakauheni karena sering menggratiskan makanan untuk orang yang membutuhkan.
IDXChannel—Nama Pujiati, atau Bude Puji, adalah nama yang paling dikenal oleh para pegawai Pelabuhan Bakauheni, Lampung. Bukan karena menyandang jabatan penting, melainkan karena sering memberi makanan gratis.
Bude Puji adalah wanita berusia 45 tahun yang bekerja sebagai penjual nasi. Namanya dikenal bahkan oleh pedagang asongan di sekitar pelabuhan karena kebiasaannya memberikan nasi gratis kepada setiap orang yang membutuhkan di pelabuhan tersebut.
Bude Puji sudah lima tahun berjualan di Bakauheni. Tujuannya membuka usaha tak lagi sekadar mengejar keuntungan dan penghasilan. Puji mengaku kini hanya berfokus mencari keberkahan dalam setiap piring yang disajikannya kepada para pemudik dan awak kapal.
“Uang berapa pun yang didapat, kami selalu bersyukur. Terus niatkan kita ini usaha, jualan nasi, kopi ini ridanya Allah, insya-Allah berkah. Dulu aku memang pedagang, tetapi bukan pedagang nasi. Terus juga enggak pernah berbagi, jadi rasanya uang banyak pun enggak ada artinya. Sekarang uang sedikit tapi ada artinya,” kata Bude Puji saat ditemui di Pelabuhan Bakauheni.
Prinsip yang dia pegang teguh itu tumbuh dari titik terendah dalam hidupnya pada 2020. Sebelum berjualan di Bakauheni, dia adalah pengusaha di Lampung Timur yang terjerumus dalam investasi bodong hingga mengalami kerugian besar.
“Hijrah saya itu gara-gara saya ketipu. Jadi, ketipu di trading itu hampir Rp1 miliar. Terus saya ketemulah buku merah itu di kesalahan-kesalahan fatal pengusaha mengembangkan bisnis dengan utang. Dari situ saya terus belajar di komunitas itu,” ucap dia.
Kejadian itu menjadi tamparan keras bagi dirinya hingga akhirnya mengerti arti spiritualitas dalam membuka usaha. Kini setiap Jumat, Puji membagikan makanan gratis kepada setiap orang yang membutuhkan.
Semangat berbagi ini bahkan meluber ke hari-hari biasa. Puji mengaku tidak pernah tega menolak siapa pun yang datang ke warungnya untuk meminta makan, meskipun orang tersebut tidak memiliki uang yang cukup.
“Ada orang ke sini minta nasi, saya nyuruh karyawan bungkusin, malah tak suruh kasih yang enak. Kasih ayam, kasih telur. Terserah dia pura-pura atau bagaimana, terserah, saya niatnya karena Allah. Pernah ada orang punya uang Rp10.000 beli nasi, saya kasih,” ungkap Bude Puji.
Tidak hanya dikenal karena kebaikannya, Budi Puji juga dikenal karena harga makanan yang ramah di kantong meski lapak jualannya di area pelabuhan. Padahal, umumnya harga makanan di pelabuhan cukup mahal karena biaya sewanya yang mahal.
Ketika banyak penjual lain di pelabuhan menaikan harga, Puji justru menolak mengambil keuntungan berlebih meskipun di tengah musim mudik Lebaran. Baginya, harga normal adalah cara terbaik untuk menjaga kepercayaan dan keberkahan usaha warung nasinya.
“Kalau saya tetap sama. Nasi ayam untuk orang sini Rp20.000 sudah lengkap. Kalau sama penumpang itu Rp25.000. Kalau nasi telur sama sayur-sayur Rp15.000 per porsi. Paling mahal bebek Rp35.000,” tutur dia.
Meskipun pendapatannya terlihat lebih kecil dibandingkan masa jayanya dulu, justru ia merasa hidupnya jauh lebih tenang dan berkecukupan saat ini.
Bahkan, dari hasil berjualan nasi saja, Bude Puji mampu membayar karyawan, membiayai sekolah anak-anaknya di pondok pesantren, hingga menebus sawah yang sempat digadaikan karena terjebak penipuan trading.
“Walaupun pendapatannya segitu, enggak pernah sehari dapat misalnya Rp10 juta, enggak pernah. Kenapa kok bisa cukup? Alhamdulillah, sawah yang saya gadaikan dulu sudah ditebus. Tadinya motor cuma satu, sekarang sudah ada tiga,” pungkas Bude Puji.
Hingga saat ini dia masih setia berjualan di Pelabuhan Bakauheni dan semakin dikenal oleh para kru kapal, pedagang asongan, bahkan orang-orang yang dia tolong dahulu saat terlantar di Pelabuhan Bakauheni.
(Nadya Kurnia)





