REPUBLIKA.CO.ID, BOYOLALI -- Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkapkan strategi menghadapi musim kemarau panjang sebagai dampak dari El Nino untuk menjaga ketahanan pangan. Beberapa strategi disiapkan antara lain dengan upaya modifikasi cuaca.
"Saya bilang masih ada beberapa cara yang bisa kita kerjakan. Pertama, operasi modifikasi cuaca agar di hulu bendungan ini terjadi hujan sehingga air hujan akan masuk ke hulu dan secara bertahap turun ke bendungan," ujar Dody di Boyolali, Jawa Tengah, Ahad (29/3/2026).
Pemerintah Klaim Perang Timur Tengah tak Ganggu Pasokan Pangan Indonesia, Zulhas: Stok Aman
Perang Iran Picu Krisis Pupuk dan Ancam Harga Pangan Dunia
Kementerian PU juga sedang berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian dalam rangka menyiapkan pompanisasi untuk mengairi sawah yang sudah tidak bisa menerima air lagi, baik dari bendung maupun bendungan.
"Kedua, kita bersama dengan Menteri Pertanian akan melakukan program pompanisasi. Pompanisasi sudah pernah dilakukan beberapa tahun lalu dan berhasil menyangga produksi pertanian secara nasional agar tidak turun," kata Dody.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sebagai informasi, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjamin stok pangan berupa beras di tengah ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada tahun ini.
Mentan Amran mengatakan stok beras nasional saat ini berada dalam kondisi paling aman sepanjang sejarah Republik Indonesia dengan cadangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga 10 bulan ke depan.
Ia menjelaskan stok yang tersedia saat ini tidak termasuk yang baru akan dipanen dalam beberapa bulan ke depan.
Ia memproyeksikan minimal terdapat produksi dua juta ton per bulan selama tujuh bulan ke depan.
Artinya, kata dia, hal itu mampu menghasilkan total cadangan hingga 14 juta ton yang diprediksi mampu menutupi kebutuhan hingga Mei 2027. Ancaman El Nino biasanya hanya berlangsung selama enam bulan sehingga tidak sampai berpengaruh besar terhadap stok pangan.