Pakistan Siap jadi Mediator Dialog AS dan Iran untuk Akhiri Perang

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Pakistan menyatakan siap untuk memfasilitasi pembicaraan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam beberapa hari ke depan setelah perang semakin intens memasuki pekan kelima. 

Untuk diketahui, perang di kawasan Timur Tengah ini diawali oleh serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari 2026 lalu. Serangan ini kemudian menyebabkan korban nyawa berjatuhan termasuk warga sipil. 

"Pakistan sangat senang bahwa baik Iran dan AS telah menyatakan kepercayaannya kepada Pakistan untuk memfasilitasi pembicaraan mereka," ujar Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar pada konferensi pers yang disiarkan Minggu (29/3/2026), dilansir dari Bloomberg

Pria yang sekaligus menjabat Wakil Perdana Menteri Pakistan itu juga menyatakan negaranya merasa terhormat untuk mengadakan serta memfasilitasi pembicaraan dua pihak terkait dengan penyelesaian konflik secara komprehensif. 

Hal ini disampaikan Dar usai pertemuan antara Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Turki dan Mesir. Namun, dia tak mengolaborasi perkiraan waktu maupun tempat untuk melaksanakan pembicaraan tersebut. 

Hasil pertemuan antara Menlu negara-negara tersebut, terang Dar, adalah untuk menciptakan berbagai kondisi untuk negosiasi terstruktur di antara pihak-pihak terkait. Mereka juga mendorong bahwa jalur diplomasi hanyalah jalan yang bisa diwujudkan untuk mengakhiri konflik. 

Baca Juga

  • Prabowo Beri Contoh Pakistan Hadapi Krisis, Pangkas Gaji Menteri hingga DPR
  • Makin Memanas! Pakistan Deklarasikan Perang Terbuka Dengan Afghanistan

Menurut Dar, pemerintah Pakistan sangat aktif terlibat dalam berbagai upaya dan inisiatif yang bisa mengakhiri konflik. 

"Kami tetap secara aktif terlibat dengan kepemimpinan AS sekaligus dalam upaya-upaya kami untuk melakukan eskalasi situasi dan menemukan solusi atas konflik ini," paparnya. 

Pakistan muncul sebagai pemain utama dalam menjadi pialang perdamaian. Negara itu memanfaatkan kedekatannya dengan Trump dan hubungan yang lama dengan Iran. 

Di sisi lain, negara itu memiliki pakta pertahanan dengan Arab Saudi, yang menjadi salah satu negara target serangan misil Iran karena memfasilitasi markas militer AS. Untuk itu, pemerintah Pakistan memiliki motivasi untuk mencari resolusi atas pertikaian tersebut guna menghindari terseret ke dalam konflik. 

Kendati demikian, baik AS dan Iran sudah menunjukkan belum menunjukkan keinginan untuk berbicara satu sama lain. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam satu kesempatan sempat menyatakan keinginannya untuk berbicara dengan Iran, namun dalam kesempatan lain mengatakan bersiap untuk mengeskalasi pengeboman. Belum lagi, dia telah mengirimkan ribuan prajurit militer AS ke kawasan tersebut. 

Adapun, dalam wawancara bersama The Financial Times, Minggu (29/3/2026), Trump menyinggung bisa merebut hub ekspor Iran di Pulau Kharg. Tujuannya yakni ingin mengambil minyak di Iran. Presiden dari Partai Republik itu mengeklaim pulau itu bisa diambil dengan mudah, kendati beberapa ahli menyebut langkah itu bisa berisiko dan melibatkan banyak korban dari AS. 

Klaim lain dari Trump adalah Iran telah mengizinkan 20 kapal tanker minyak berbendera Pakistan melewati Selat Hormuz. Jumlah ini meningkat dari 10 kapal sebelumnya. 

Di sisi lain, Wall Street Journal melaporkan bahwa Trump tengah mempertimbangkan untuk mengekstraksi 1.000 pon uranium dari Iran.

Di sisi lain, AS telah mengirimkan 15 poin gencatan senjata ke Iran melalui Pakistan yang telah ditolak pemerintah Iran. Negara tersebut telah memanfaatkan kemampuannya untuk melakukan disrupsi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran utama bagi pasokan gas dan minyak dunia. Disrupsi itu telah menyebabkan kekurangan pasokan di Asia.

Hanya beberapa kapal tanker yang telah diperbolehkan untuk melewati Selat Hormuz yakni China, India dan Pakistan. 

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud telah bertemu secara terpisah dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Menlu Dar dan Penasihat Keamanan Nasional Muhammad Asim Malik, Minggu (29/3/2026). 

"Sejalan dengan mengafirmasi kembali solidaritas dan dukungan penuh kepada Kerajaan Arab Saudi, Perdana Menteri Pakistan mengapresiasi kendali yang dilakukan Arab Saudi di tengah krisis saat ini, dan meyakinkan Menteri Luar Negeri Arab Saudi bahwa Pakistan akan selalu berdiri berdekatan dengan Arab Saudi," ujar Sharif melalui unggahan di X. 

Konflik ini terlihat semakin meluas di beberapa hari belakangan. Sejalan dengan prajurit militer AS yang kini mulai masuk ke kawasan, pemberontak Houthi di Yaman memasuki perang dengan meluncurkan misil balistik ke Israel pada hari yang sama.

Kepala Militer Pakistan, Marsekal Marsham Asim Munir menyebut telah mengembangkan hubungan yang lebih dekat dengan pemerintahan Trump sejak tahun lalu sehingga meningkatkan posisi Pakistan sebagai juru damai di tengah krisis saat ini. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Roy Suryo dan Dokter Tifa Bakal Gugat Jokowi ke PN Solo terkait Transparansi Ijazah
• 10 jam lalurctiplus.com
thumb
Deretan Saham yang Bisa Kasih Cuan Tipis-tipis Hari Ini
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Media Asing Tak Habis Pikir, Performa Beckham Putra Bungkam Jadi Sorotan di FIFA Series 2026
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
 DPR Anggap Wacana Gaji Pejabat Dipotong Usaha Prabowo Bangkitkan Sense Of Crisis
• 23 jam lalujpnn.com
thumb
Praka Farizal Rhomadhon Gugur dalam misi UNIFIL, TNI Ungkap Kronologi Awal
• 2 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.