TABLOIDBINTANG.COM - Kenaikan pangkat Iswan Nusi menjadi Brigadir Jenderal TNI baru-baru ini memantik perhatian publik. Di balik sorotan tersebut, perjalanan karier perwira TNI itu memperlihatkan bahwa kepemimpinan militer tidak hanya dibentuk oleh pengalaman tempur, tetapi juga oleh kemampuan mengelola dinamika sosial dan strategi organisasi.
Iswan, yang sebelumnya berpangkat Kolonel Infanteri, kini dipercaya mengemban jabatan Asisten Operasi (Asops) di Kodam Jaya. Promosi ini terjadi setelah melalui proses panjang yang mencakup berbagai penugasan lapangan, pengalaman komando, hingga pendidikan militer tingkat tinggi.
Dalam perjalanan kariernya, Iswan pernah menjabat sebagai Komandan Distrik Militer (Dandim), posisi yang menuntut interaksi langsung dengan masyarakat. Ia menilai tugas tersebut membutuhkan kemampuan kepemimpinan yang adaptif di tengah situasi yang tidak selalu stabil. “Dalam peran tersebut menuntut saya punya ketegasan, ketenangan, dan kemampuan mengambil keputusan cepat di tengah situasi yang cair,” kata Iswan Nusi kepada awak media, Senin (30/3).
Pengalaman lainnya didapat saat memimpin Batalyon 764/Lamba Baua di Kaimana, Papua. Di wilayah dengan tantangan geografis dan sosial yang kompleks, ia menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor. “Karena medan yang dihadapi bukanlah peluru, melainkan kerumitan koordinasi lintas sektor demi menjaga stabilitas wilayah,” lanjutnya.
Tak hanya bertugas di lapangan, Iswan juga pernah berkiprah di bidang penerangan militer. Dalam era arus informasi yang cepat, peran ini dinilai semakin penting dalam membangun komunikasi publik. Ia menegaskan bahwa seorang perwira dituntut mampu membaca situasi secara luas.
“Seorang perwira seperti saya dituntut memiliki kemampuan membaca situasi bukan hanya secara fisik di lapangan, tetapi juga di ruang publik dan media digital,” ucapnya. “Saya juga perlu menguasai teknologi terbaru termasuk AI,” sambung lulusan terbaik Pendidikan Reguler 54 Sesko TNI tahun 2025 dengan gelar Magna Cumlaude.
Puncak pembentukan kariernya ditempa melalui pendidikan di Sekolah Staf dan Komando TNI (Sesko TNI). Di lembaga tersebut, para perwira diuji untuk berpikir strategis dalam menghadapi persoalan pertahanan negara yang kompleks. “Di sinilah seorang perwira diuji kemampuannya untuk memahami kompleksitas keputusan di tingkat makro,” ujar Iswan Nusi.
Meski demikian, kenaikan pangkat Iswan sempat memicu berbagai persepsi di masyarakat. Sebagian pihak mempertanyakan proses di balik promosi tersebut, bahkan mengaitkannya dengan faktor non-institusional. Padahal, dalam sistem TNI, kenaikan pangkat perwira tinggi merupakan hasil mekanisme kolektif yang mempertimbangkan rekam jejak, pengalaman operasional, serta capaian pendidikan.




