Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Senin (30/3/2026). Tekanan datang dari kondisi geopolitik global yang menyulut harga energi yang mengharuskan Indonesia sebagai net importir minyak mengeluarkan lebih banyak rupiah. Namun, dalam jangka panjang rupiah diprediksi akan kembali ke level Rp16.000 sejalan dengan langkah stabilitasi Bank Indonesia.
Melansir Bloomberg, rupiah ditutup terdepresiasi 0,13% atau 22 poin ke Rp17.002 per dolar AS. Di saat yang sama, indeks dolar AS menguat 0,10% ke 100,24.
Pergerakan nilai tukar rupiah di pasar keuangan saat ini masih tertekan oleh penguatan dolar AS yang terus menguat di tengah konflik Timur Tengah.
Laporan Trading Economics menyebut, ada kehati-hatian pasar menjelang rilis data ekonomi pada pekan depan, termasuk data inflasi bulan Maret 2026 dan data perdagangan di bulan Februari 2026. Selain itu, pasar juga mengambil sikap siaga merespons kondisi fiskal dalam negeri yang disorot lembaga pemeringkat global seperti Moody's dan Fitch.
"Pemerintah menegaskan kembali bahwa tidak berniat melanggar batas defisit anggaran 3%, meskipun harga minyak yang terus tinggi dapat menguji sikap ini dan mendorong penyesuaian kebijakan," tulis laporan tersebut.
Sentimen lain yang menyertai gerak rupiah di pasar keuangan adalah pasar menunggu langkah-langkah baru Bank Sentral untuk menjaga stabilitasi rupiah. Namun, hal tersebut dirasa akan sulit apabila harga energi terus melambung.
Baca Juga
- Rupiah Melemah, Cek Kurs di Bank Mandiri, BNI, BRI, dan BCA Senin (30/3/2026)
- Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini (30/3) Dibuka Melemah ke Level Rp16.981
- Analis: Rupiah Diproyeksi Melemah, Bisa Sentuh Rp17.100 Pekan Depan
"Sebagai importir bersih minyak dan gas, Indonesia tetap rentan terhadap kenaikan biaya energi global yang terus membebani rupiah," tulisnya.
Atas sejumlah sentimen yang ada, Trading Economics memperkirakan rupiah akan berada di posisi Rp16.975 per dolar AS pada akhir kuartal pertama tahun ini. Dalam jangka panjang, diperkirakan rupiah akan berada di posisi Rp16.615,80 per dolar AS dalam waktu 12 bulan ke depan.





