BEKASI, KOMPAS.com – Warga Perum Mega Regency, Desa Sukaragam, Kecamatan Serang Baru, Kabupaten Bekasi, terkejut atas tewasnya Abdul Hamid (39), petugas keamanan kios ayam goreng Al-Fazza yang jasadnya ditemukan dalam freezer, Sabtu (28/3/2026).
Bintang (39), pemilik kios servis ponsel di sekitar lokasi, tak menyangka terjadi pembunuhan di sekitar tempat usahanya.
“Taunya pembobolan ruko. Soalnya ada motor yang hilang juga. Beritanya saya tahu pembunuhan itu hari ini,” ujar Bintang saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (30/3/2026).
Baca juga: Pemutilasi Karyawan Ayam Goreng dalam Freezer di Bekasi Ternyata Rekan Kerja Korban
Bintang lebih terkejut lagi setelah mengetahui korban ditemukan dalam kondisi dimutilasi.
“Kaget bangetlah. Syok juga sampai sebegitu teganya. Kirain cuma dibunuh, ternyata dimutilasi dan dimasukin freezer gitu,” ucapnya.
Selama mengenal korban yang akrab disapa Bedul, Bintang mengaku tidak pernah mendengar adanya konflik di antara para karyawan kios ayam goreng tersebut.
Ia juga mengaku tidak terlalu mengenal dua karyawan lain berinisial S (27) dan ANC (23) yang diduga melakukan aksi keji itu.
“Enggak pernah dengar ada konflik ya. Terus kalau yang dua itu saya kurang kenal. Cuma kenal muka saja,” katanya.
Baca juga: Bagian Tubuh Pria di Bekasi yang Dimutilasi dalam Freezer Ditemukan di Bogor
Menurut Bintang, korban dikenal sebagai sosok yang rajin dan ulet bekerja.
“Setiap jam 8 pagi itu sudah bersih-bersih, sering nyapu. Kadang karyawan yang datang sudah tinggal dagang,” ujarnya.
Ia menyebut korban bersama dua karyawan lainnya tinggal di kios dan memulai aktivitas usaha sejak pagi hingga malam hari.
Peristiwa ini membuat warga sekitar merasa cemas dan khawatir. Bintang berharap polisi segera mengungkap motif di balik kejadian tersebut.
“Yang sampai sekarang penasaran di sini sebenarnya motifnya apa,” ujarnya.
Sementara itu, Aang Wijaya (38), pedagang rujak di sekitar lokasi, mengatakan, Abdul Hamid telah bekerja di kios tersebut sejak 2,5 tahun lalu.
“Kesehariannya dia baik, enggak temperamen. Sama tetangga juga sering mengobrol, sering bantu istilahnya. Dia numpang hidup di sini. Kasihan, sudah sebatang kara,” ujar Aang.