Pimpinan 25 Kampus Ikuti Program Kepemimpinan Hadapi Transformasi Teknologi Digital

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

SURABAYA, KOMPAS - Pimpinan dari 25 perguruan tinggi di Indonesia mengikuti program pengembangan kapabilitas kepemimpinan di Universitas Kristen Petra, Surabaya, Jawa Timur, yang dimulai Senin (30/3/2026). Program ini bertujuan mengembangkan kapabilitas pimpinan kampus menghadapi transformasi teknologi digital dan perubahan demografi mahasiswa.

Program bertajuk National Multiplication Training Leadership Enchancement Through Awareness and Peer-Learning for Transformational Change ini merupakan hibah Pemerintah Federal Jerman melalui Layanan Pertukaran Akademik Jerman (DAAD).

Program ini juga didukung Universitas Postdam serta kementerian terkait di Jerman dan Indonesia. Di Surabaya, acara ini akan berlangsung hingga 2 April 2006. Selanjutnya, program ini akan berlanjut di Surakarta pada 10-13 Agustus 2026.

”Indonesia adalah mitra penting sehingga kami mendukung pengembangan kapabilitas pemimpin perguruan tinggi,” kata Direktur DAAD Kantor Regional Jakarta Guido Schnieders.

Baca JugaTerbangun Pusat Riset Akal Imitasi di Surabaya
Baca JugaAI Mengetuk Pintu Kampus, Masa Depan Pendidikan Dipertaruhkan

Guido, dengan wilayah kerja Malaysia, Singapura, Indonesia, dan Timor Leste melanjutkan, dari program ini diharapkan kerja sama lanjutan dengan kampus-kampus di Jerman. Pertukaran atau kemitraan global diyakini memajukan pendidikan tinggi di kedua negara.

Menurut Guido, topik hangat yang diperbincangkan dalam program ini terutama kecerdasan buatan (AI) dan Generasi Alfa (Gen-A). Kampus harus bertransformasi bagaimana memanfaatkan AI untuk kemajuan sekaligus memenuhi kebutuhan Gen-A.

”AI membantu membantu pekerjaan manusia. Namun, dalam pendidikan tinggi, jangan sampai AI mengambil alih kebutuhan berpikir dosen dan mahasiswa. Berpikir dan bekerja dengan AI,” ujar Guido.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Khairul Munadi mengapresiasi UK Petra dan Ubaya yang berhasil mendapat hibah sekaligus tuan rumah program.

“Kolaborasi ini peluang strategis memperkuat kepemimpinan transformasional di kampus dalam perubahan global,” katanya.

Dalam konteks AI dan Gen-A, lanjut Khairul, kampus jangan sekadar unggul secara akademik. Kampus patut menjadi pusat solusi yang berdampak bagi masyarakat sesuai tridharma. Kampus berkewajiban mendidik, meneliti dan mengembangkan kemampuannya untuk masyarakat.

”Keberhasilan program ini dapat diukur dari sejauh mana pimpinan kampus mampu menggerakkan perubahan dan menerjemahkan pembelajaran menjadi aksi nyata yang visioner dan kolaboratif,” ujar Khairul.

Memberantas plagiarisme

Sebagai pemateri, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah 7 Jawa Timur Dyah Sawitri mengingatkan, pemanfaatan AI jangan sampai membuat sivitas akademika menjadi malas berpikir, malas berinovasi, apalagi plagiarisme atau penjiplakan.

”Aktivitas akademik dan inovasi jangan meninggalkan etika dan integritas,” ujar Dyah, mantan Rektor Universitas Gajayana, Malang.

Pemanfaatan AI tidak dilarang tetapi diarahkan untuk memberantas plagiarisme sekaligus mendorong sivitas akademik tetap produktif dalam gagasan, penelitian, dan pengabdian berdampak positif untuk peradaban masyarakat.

Dyah melanjutkan, pimpinan kampus patut berkemampuan mendesain kembali kurikulum. Gen-A diyakini lebih menyukai perkuliahan AI tetapi berbasis pemecahan masalah. Selain itu, perkuliahan jangan berpusat pada dosen dan searah. Pusatkanlah atensi terhadap pemajuan dan kemajuan pembelajaran mahasiswa.

Baca JugaAI dan Masa Depan Pendidikan
Baca JugaGen Z dan Gen Alfa, Ujung Tombak Pelestari Budaya

Ketua panitia acara Josua Tarigan menekankan, program bagi pimpinan ini untuk ekosistem pendidikan tinggi yang adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan. ”Juga berbasis agility (kelincahan), empati, dan pemanfaatan digital serta AI agar pimpinan kampus mampu merespons perubahan dan tuntutan zaman,” kata Dekan School of Business and Management UK Petra ini.

Di UK Petra, peserta program akan berpengalaman belajar berbasis AI melalui peer consulting. Fasilitas ini ada pada Petra Digital Institute dan e-Journey, platform pendidikan berbasis AI terintegrasi dengan canvas LMS yang diklaim pertama di Indonesia dengan fitur auto grading, content creation, dan assessment. Selain itu, mereka berkesempatan berkontribusi pada buku ISBN yang memuat pemikiran dan pengalaman kepemimpinan.

Sertifikasi standar global

Menurut Wakil Rektor Ubaya Maria Goretti Marianti Purwanto, program bukan sekadar diskusi teoretis, melainkan membekali pimpinan kampus dengan kemampuan manajemen perubahan yang tangguh guna memastikan keberlanjutan institusi. Di Ubaya, peserta akan belajar pengalaman dari Ubaya LIFe (Life Science Integrated Facility)

”Untuk mendemonstrasikan strategi membangun diferensiasi tridharma perguruan tinggi yang unik melalui tema unggulan aging wellness,” kata Maria.

Adapun peserta program akan mendapatkan sertifikat IC3 Digital Literacy dari International Test Center. Sertifikasi ini berstandar global untuk memvalidasi kompetensi digital pimpinan kampus sehingga diharapkan meningkatkan daya saing institusi secara nasional dan global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wamenhaj: Keberangkatan Pertama Jemaah Haji RI ke Saudi 22 April
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Canggih! Rice Cooker Ini Bisa Mengurangi Kandungan Karbohidrat dalam Nasi
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Minibus Rombongan Seni Warok Masuk Jurang di Batang, 9 Orang Luka-luka
• 12 jam lalurctiplus.com
thumb
Dituding kasih THR cuma Rp15.000, Dewi Perssik jelaskan juga beri beras premium untuk warga
• 5 jam lalubrilio.net
thumb
Efisiensi Energi, Jakarta Siap Terapkan WFH 1 Hari per Pekan
• 8 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.