Bos ID Food Beberkan Dampak Perang Timteng, Impor Pangan Terganggu?

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Holding BUMN Pangan, PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) alias ID Food mengungkapkan dampak konflik Timur Tengah terhadap keberlangsungan industri pangan dalam negeri.

Direktur Utama ID Food, Ghimoyo mengungkapkan bahwa sejauh ini, dampak bagi perseroan yang melakukan impor dari penugasan pemerintah belum signifikan, tetapi mulai terasa. Salah satunya dari gejolak harga komoditas daging impor.

“Daging itu pasti dengan kurs yang naik dan harga yang di sana [negara asal impor] naik, itu pasti berdampak," kata Ghimoyo dalam rapat dengar pendapat Komisi VI DPR RI, Jakarta Pusat, Senin (30/3/2026).

Secara umum, dia juga menyampaikan bahwa dampak terhadap industri pangan dari kondisi global saat ini mencakup volatilitas harga, utamanya karena ketegangan geopolitik, perubahan iklim, hingga keterkaitan antara energi dan pangan.

Pihaknya memandang bahwa konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel yang berujung pada penutupan Selat Hormuz dan infrastruktur strategis di Teluk Persia telah mengganggu pasokan energi serta jalur logistik global.

Akibatnya, lonjakan harga pangan dan ancaman krisis ketahanan pangan berpotensi menekan stabilitas ekonomi negara-negara pengimpor pangan.

Baca Juga

  • Danantara Resmi Mulai Proyek Peternakan Ayam Terintegrasi, ID Food Janji Serap Panen Rakyat
  • Pacu Hilirisasi Pangan, ID FOOD Garap Peternakan Unggas dan Industri Garam
  • Perang Timteng Berisiko Picu Krisis Pangan Global, Kondisi RI Aman?

Terkait dengan perubahan iklim, Ghimoyo menukil prakiraan badan meteorologi internasional terkait probabilitas El Nino mencapai 60% pada musim panas 2026, dengan potensi memburuk menjadi Super El Nino yang berkekuatan signifikan menjelang akhir tahun. 

“Fenomena ini mengancam ketahanan pangan karena pola cuaca ekstrem yang ditimbulkannya,” ujarnya.

Mengenai keterkaitan antara energi dan pangan, Ghimoyo menyoroti potensi komoditas pertanian yang dapat menjadi salah satu bahan alternatif untuk dikonversi menjadi biofuel.

Kondisi ini kemudian dinilai menyebabkan kebutuhan pada komoditas menjadi tinggi, sehingga mempengaruhi harga komoditas.

“Mempertimbangkan kondisi global yang mempengaruhi stabilitas pangan, ID Food akan mengambil peran dalam stabilisasi harga pangan dan menjadi stabilisator ekosistem pangan nasional yang membangun ketahanan pangan berbasis sumber daya lokal untuk mengantisipasi guncangan geopolitik, iklim, dan krisis energi,” ujar Ghimoyo.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kemenkes Terbitkan SE Kewaspadaan Campak, Tenaga Kesehatan Diminta Perkuat Perlindungan
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Dukungan Orang Tua Menguat, Pembatasan Akses Media Sosial Anak di Bawah 16 Tahun Dinilai Penting
• 10 jam lalupantau.com
thumb
Ilmuwan Belah Batu Purba, Hasilnya di Luar Ekspektasi
• 19 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Jam Pulang Kerja, Kawasan Senayan Macet Usai Diguyur Hujan
• 21 menit lalukumparan.com
thumb
Persiapan Verifikasi 2027, Ketum PPP Minta Kader Tak Terprovokasi Isu Miring
• 17 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.