Mengenal Avoidant Attachment dalam Hubungan dan Dampaknya

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Sering overthinking karena pasangan tiba-tiba menjauh? Atau merasa hubungan berjalan tanpa kejelasan meski dia terlihat peduli?

Bisa jadi kamu sedang berada dalam hubungan avoidant attachment yaitu pola keterikatan yang membuat seseorang cenderung menjaga jarak secara emosional.

Hubungan dengan pasangan avoidant sering terasa membingungkan. Di satu sisi, mereka terlihat peduli dan hadir. Namun di sisi lain, mereka juga bisa tiba-tiba menjauh tanpa penjelasan yang jelas. Pola ini yang membuat banyak orang merasa lelah secara emosional.

Tidak sedikit yang akhirnya mempertanyakan perasaan pasangannya sendiri. Apakah dia memang serius, atau hanya sekadar datang dan pergi tanpa arah yang jelas. Ketidakpastian ini membuat hubungan terasa tidak stabil. Bahkan, dalam beberapa situasi, bisa memicu overthinking dan rasa tidak aman.

Perasaan “dekat tapi jauh” ini bukan tanpa alasan. Dalam banyak kasus, hal tersebut berkaitan dengan pola keterikatan dalam hubungan. Sikap tarik-ulur yang muncul bukan selalu tanda tidak tertarik, tapi bisa jadi cara seseorang melindungi diri. Namun tetap saja, dinamika ini tidak mudah dijalani dalam jangka panjang.

Apa itu avoidant attachment dalam hubungan?

Dalam attachment theory, kondisi ini dikenal sebagai avoidant attachment. Pola ini biasanya terbentuk dari pengalaman masa lalu, terutama saat kebutuhan emosional tidak terpenuhi secara konsisten. Akibatnya, seseorang tumbuh dengan kecenderungan menjaga jarak dan menghindari ketergantungan emosional.

Menurut dr. Brooke Keels, psikolog dan pakar terapi keluarga dari Amerika Serikat, individu dengan gaya avoidant tetap menginginkan memiliki hubungan. Namun, mereka merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional.

“Bukan karena tidak tertarik, tapi karena mereka tidak nyaman dengan kedekatan emosional,” jelasnya.

Ciri-ciri pasangan avoidant dalam hubungan dan dampaknya

Pasangan avoidant biasanya menunjukkan komunikasi yang tidak konsisten. Mereka bisa sangat hangat di satu waktu, lalu tiba-tiba menjadi dingin atau sulit dihubungi. Mereka juga cenderung menghindari pembicaraan yang terlalu dalam atau serius. Hal ini sering membuat pasangan merasa tidak mendapatkan kejelasan.

Saat konflik terjadi, mereka lebih memilih menarik diri daripada membahas masalah bersama. Bagi mereka, ini adalah cara untuk menghindari tekanan emosional. Namun bagi pasangan, sikap ini bisa terasa seperti diabaikan. Pola seperti ini yang akhirnya membuat hubungan terasa melelahkan.

Menjalani hubungan dengan pasangan avoidant bisa memicu kelelahan emosional jika tidak dipahami dengan baik. Pasangan sering merasa harus terus menyesuaikan diri dan menahan ekspektasi. Ada rasa tidak pasti karena hubungan berjalan tanpa konsistensi yang jelas. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memengaruhi kesehatan emosional.

Karena itu, penting untuk memahami batas diri dalam hubungan. Komunikasi yang terbuka dan kesadaran akan kebutuhan masing-masing menjadi kunci. Jika hubungan lebih banyak menimbulkan kebingungan daripada rasa aman, itu bisa menjadi tanda untuk mengevaluasi lagi hubunganmu, Ladies.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usai Libur Lebaran: Cerita Warga Balik ke Rutinitas hingga Asa Mencari Pekerjaan
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Daftar Kode Safe Resident Evil Requiem, Lengkap Lokasi dan Hadiahnya
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
NasDem Desak Perkuat Perlindungan Pasukan TNI di Zona Konflik
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prajurit TNI Tewas Dalam Misi Perdamaian, Legislator Dorong Investigasi Transparan
• 3 jam lalujpnn.com
thumb
Kasus Campak Melonjak di Jabar, 102.000 Anak Belum Imunisasi Lengkap
• 1 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.