Kasus Campak Melonjak di Jabar, 102.000 Anak Belum Imunisasi Lengkap

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

BANDUNG, KOMPAS- Kasus campak terus melonjak di Jawa Barat pada awal tahun ini. Di tengah kondisi itu, 102.000 anak di provinsi tersebut belum mendapatkan imunisasi campak secara lengkap.

Campak yang sangat menular. Penyakit ini tidak hanya menular kepada anak-anak, tetapi juga orang dewasa.

Gejala campak pada orang dewasa sebenarnya tidak berbeda dari anak-anak. Gejalanya yang biasa muncul adalah demam, batuk, dan pilek.

Setelah itu, muncul gejala berupa bercak khas di rongga mulut dan diikuti dengan ruam pada kulit. Ruam umumnya muncul dari bagian kepala lalu menyebar ke seluruh tubuh hingga kaki.

Kasus terakhir kematian dokter magang di Rumah Sakit Pagelaran Kabupaten Cianjur bernama Andito Mohamad Wibisono pada Kamis (26/3/2026) pekan lalu. Andito meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah Cimacan Cianjur.

Dari rilis Kementerian Kesehatan pada Senin ini (30/3/2026), Andito terpapar campak saat bertugas sebelum tanggal 18 Maret 2026. Kondisinya kesehatannya mulai menurun tapi Andito tetap bertugas hingga akhirnya menjalani perawatan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Cimacan.

Kepala Dinas Kesehatan Jabar Vini Adiani mengatakan, sudah melakukan koordinasi dengan kadinkes kabupaten kota, khususnya di wilayah dengan kejadian campak cukup banyak.

Baca JugaDokter ”Intership” di Cianjur Meninggal Diduga Campak, Ini Respons KDM dan Dinkes

Berdasarkan Dinkes Jabar periode Januari-Februari 2026, kasus positif campak sebanyak 257 kasus dan 1.100 kasus suspek. Tahun lalu, total kasus campak di Jabar tercatat 1.785 kasus. Kini, terdapat 102.000 anak yang belum melaksanakan imunisasi dengan lengkap.

“Kami akan meningkatkan imunisasinya karena sekitar 102.000 anak, yang belum diimunisasi secara lengkap. Untuk orang dewasa diharapkan secara mandiri," kata Vini.

Ia menyatakan, dinkes di kabupaten dan kota akan melaksanakan program Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi massal serta Catch-Up Campaign (CUC) atau melengkapi imunisasi untuk mengantispasi penyebaran campak. Targetnya adalah anak usia 9 hingga 59 bulan.

Adapun ORI merupakan imunisasi massal darurat untuk menghentikan penyebaran wabah. Sementara, CUC adalah imunisasi yang bertujuan untuk melengkapi status imunisasi yang belum lengkap.

Vini menyebutkan kegiatan CUC dan ORI kini sedang berlangsung di seluruh kecamatan di Kabupaten Garut dan Tasikmalaya karena adanya peningkatan kasus campak.

Sementara wilayah lainnya dilalukan CUC dan ORI berdasarkan temuan kasus per kecamatan, seperti di Cianjur. Kegiatan CUC dan ORI juga segera menyasar 10 kabupaten dan kota lainnya di Jabar secara menyeluruh.

"Saya meminta harus langsung dilakukan CUC bagi orang-orang yang belum diimunisasi campak. Tapi ketika kasusnya banyak, segera dilakukan ORI," jelasnya.

Ia berharap masyarakat jangan menolak timunisasi dan vaksinasi campak agar KLB campak tidak lagi terjadi kemudian hari. “Wilayah Garut dan Tasikmalaya mengalami kasus campak cukup banyak karena tingkat vaksinasinya yang masih rendah,” ungkapnya.

Jarang terjadi

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Slamet Budiarto mengatakan, kematian akibat campak pada usia dewasa merupakan kasus yang jarang terjadi. Karena itu, investigasi perlu dilakukan secara mendalam untuk memastikan penyebab dari kematian tersebut.

Meski begitu, risiko penularan campak pada tenaga kesehatan dan tenaga medis memang harus diwaspadai di tengah peningkatan kasus di masyarakat. Daya tahan tubuh yang rendah bisa meningkatkan risiko penularan.

”Faktor kelelahan menjadi salah satu yang membuat daya tahan tubuh menjadi menurun. Di lain sisi, virulensi (tingkat penularan) virus (campak) juga sedang meningkat. Hal itu yang membuat risiko paparan penyakit, termasuk campak, semakin besar bagi para dokter,” kata Slamet.

Sejak 1 Januari sampai 23 Februari 2026, Kemenkes telah menemukan 8.224 kasus campak dengan empat kematian di Indonesia. Pada periode itu ada 21 kejadian luar biasa suspek campak di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi (Kompas, 27/2/2026).

Sementara itu, Gubernur Jabar Dedi Mulyadi menyampai rasa dukacita mendalam atas wafatnya dokter muda karena tertular penyakit campak saat bertugas di Cianjur. "Saya sampaikan duka mendalam, itu pengabdian tertinggi dari seorang dokter, meninggal di tempat ketika sedang bertugas," ujarnya.

Atas kasus tersebut, Dedi meminta agar masyarakat semakin waspada akan bahaya campak. Pihak terkait juga harus segera melakukan penanganan KLB campak. "Penyakitnya harus segera ditangani dan diawaspadai, apalagi bupatinya (Cianjur) seorang dokter," tambahnya.

Baca JugaDokter ”Internship” di Cianjur Meninggal Diduga Campak, IDI Soroti Faktor Kelelahan sebagai Pemicu


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Klandestin: Sebuah Kisah Imajiner tentang Seorang Penyair
• 59 menit lalukumparan.com
thumb
Lima Bulan Hiatus, Key SHINee Kemungkinan Bakal Comeback
• 11 jam lalutvonenews.com
thumb
Jalan Raya Bogor Menuju Cililitan Macet Usai Libur Lebaran
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Angka Kecelakaan Turun 6,31 Persen Selama Periode Angkutan Lebaran 2026
• 10 jam laluidxchannel.com
thumb
Trump Desak Iran Akui Kekalahan
• 44 menit lalurealita.co
Berhasil disimpan.