Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono, meminta sosok pengganti Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI merupakan jenderal bintang tiga yang kompeten, bukan hanya dilihat secara angkatan.
Sebelumnya, jabatan Kabais diserahkan oleh Yudi Abrimantyo. Langkah itu disebut merupakan pertanggungjawaban atas penyiraman air keras yang menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus.
“Ya, setiap prajurit TNI apalagi ketika sudah menjabat pati (perwira tinggi), khususnya lagi ketika sudah menjabat bintang sampai dengan bintang tiga, pasti sudah melalui proses penjaringan yang cukup intens,” ucap Dave di DPR, Senin (30/3).
“Jadi, saya yakin yang ditempatkan di sana pasti perwira pilihan. Bukan hanya sekadar kepentingan sesaat, melihat angkatan, tapi itu memang benar-benar dilihat kapasitas dan kapabilitasnya,” tambahnya.
Ia pun berharap, Kabais baru nantinya bisa lebih baik dari Yudi.
“Dan pejabat yang melanjutkan kita harapkan pasti akan lebih baik lagi, bisa mengurai apa pun kendala yang ada dan juga meningkatkan produktivitas dan performa institusi dan lembaga yang dia pimpin,” lanjut Dave.
Dave mengaku belum tahu siapa perwira tinggi yang akan menggantikan Yudi di posisi Kabais. Ia hanya berpesan agar segera ditunjuk pejabat definitif, bukan pejabat sementara.
“Ya tentunya untuk kepentingan kelanjutan operasional institusi agar segera ditunjuk yang definitif,” ucap Dave.
Saat ini, kursi Kabais TNI untuk sementara dijabat oleh Letjen TNI Richard Taruli H. Tampubolon, yang dulunya menjabat Kepala Staf Umum (Kasum) TNI. Namun, hingga kini belum ada keterangan resmi dari Mabes TNI siapa sosok pengganti Letjen Yudi Abrimantyo.
Sebelumnya, Mabes TNI membenarkan bahwa terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Andrie adalah empat anggota Bais—3 perwira, 1 bintara. Andrie sendiri disiram air keras saat melintasi kawasan Salemba, Jakarta pada 12 Maret 2026 malam.
Akibat penyiraman air keras itu, Andrie mendapatkan luka bakar sebanyak 24 persen di sekujur tubuhnya. Mata kanan menjadi yang paling parah.





