ETIndonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, di berbagai daerah di Tiongkok dilaporkan adanya drone yang diam-diam menyemprotkan bahan kimia yang tidak diketahui, menyebabkan kerugian besar bagi para petani dan memicu kemarahan publik. Baru-baru ini, di Nanyang, Henan, terjadi lagi kasus drone menyemprot pestisida hingga menyebabkan banyak ikan di kolam mati.
Pemilik kolam ikan mengunggah video dan tulisan di media sosial untuk mengadukan kejadian tersebut: “Kolam pancing seberat puluhan ribu kilogram hancur! Pestisida langsung disemprot ke dalam kolam, dalam semalam semua ikan mengapung ke permukaan. Polisi sudah datang, tapi pihak pelaku masih berdalih. Usaha yang semula berjalan baik terpaksa berhenti, kerugian mencapai ratusan ribu yuan. Mohon keadilan dari semua pihak!”
Menurut laporan media daratan Tiongkok, insiden terjadi di Kota Bidian, Nanyang. Drone yang digunakan untuk menyemprot pestisida ke lahan pertanian tanpa sengaja mengenai kolam ikan, menyebabkan ratusan jin (1 jin = 0,5 kG- 1 kg = 2 jin) ikan mati.
近日,河南南陽畢店鎮因無人機給農田噴灑藥物波及魚塘,導致大量魚類死亡,魚塘主人損失慘重。 pic.twitter.com/nxeG31iQTG
— 甜甜 (@tiantian108) March 28, 2026Setelah memeriksa rekaman CCTV, pemilik kolam menemukan bahwa penyemprotan dilakukan oleh pihak ketiga yang ditugaskan oleh pemerintah daerah dan desa untuk melakukan penyemprotan gratis menggunakan drone. Dalam prosesnya, pestisida beberapa kali masuk ke kolam ikan.
Pihak terkait, Tuan Wang, mengatakan bahwa operator drone mengklaim bahan yang disemprot “bukan racun, bahkan manusia bisa meminumnya.” Namun, ratusan kg ikan sudah mati, dan ikan yang masih mengapung pun tidak lagi bergerak saat ditangkap.
Ia menambahkan bahwa polisi telah menemukan pelaku, yang mengaku mendapat perintah dari pihak pemerintah desa. Pejabat pertanian tingkat kecamatan juga telah datang ke lokasi.
Pada 27 Maret, staf pemerintah Kota Bidian menanggapi bahwa mereka telah mengetahui situasi tersebut dan akan menangani masalah ini dengan baik untuk pemilik kolam.
Sejak tahun lalu, pemerintah Tiongkok secara luas mendorong penggunaan drone dalam pertanian melalui program yang disebut “pengendalian terpadu.” Media resmi gencar melaporkan keunggulan efisiensi dan penghematan tenaga kerja, bahkan mengklaim dapat mengurangi penggunaan pestisida hingga 30%, serta menjadi bagian penting dari upaya “revitalisasi pedesaan.”
Baru-baru ini, setelah media resmi CCTV melaporkan penggunaan drone untuk menyemprot pestisida pada bunga kanola di bawah bimbingan ahli, praktik ini semakin terbuka dilakukan.
Namun, para petani mengkritik bahwa penyemprotan pada masa berbunga dapat membunuh lebah penyerbuk dan menyebabkan penurunan hasil panen. Banyak peternak lebah mengunggah video keluhan tentang kematian massal lebah mereka. Selain itu, sejumlah petani mengeluhkan sayuran mereka tidak lagi bisa dijual setelah terkena pestisida, bibit gandum mati, bahkan ikan di kolam ikut mati.
Seorang peternak lebah dari Shaanxi yang sedang berpindah mengikuti musim bunga di Tianmen, Hubei, bernama Liu Baoguo (nama samaran), mengatakan bahwa penyemprotan dilakukan siang dan malam tanpa memperhatikan waktu. Ia bahkan melihat satu lahan disemprot dua hingga tiga kali. Ia menduga sebagian operator sengaja melakukan penyemprotan berulang untuk memperbesar luas lahan yang dilaporkan, demi mendapatkan subsidi pemerintah lebih banyak.
Peternak lebah lain dari Yunnan, Zhang Aimin (nama samaran), yang kini berpindah ke Xishuangbanna untuk menghindari area bunga kanola, juga mengalami kerugian besar. Ia memiliki 400 kotak lebah dan telah beternak selama hampir 30 tahun. Tahun ini saja, kerugiannya diperkirakan lebih dari 200 ribu yuan. Ia mengatakan setiap hari menerima banyak telepon dari rekan sesama peternak di seluruh negeri, hampir semuanya melaporkan kasus keracunan.
Baik Zhang maupun Liu menyatakan bahwa skala penyemprotan drone tahun ini belum pernah terjadi sebelumnya.
“Pada tahun-tahun sebelumnya mungkin hanya sekitar 1% peternak lebah yang melaporkan kasus keracunan, tetapi tahun ini terjadi secara luas,” kata mereka.
Zhang juga mengamati bahwa sebagian petani di wilayah utara semakin marah terhadap kebijakan penyemprotan paksa. Bahkan ada yang “lebih memilih menghancurkan seluruh tanaman kanola dengan mesin” sebagai bentuk protes diam.
Dilaporkan oleh Li Siya/Disunting oleh Xia He





