Bisnis.com, MEDAN – Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Utara (Sumut) menyebut kinerja ekspor karet alam asal Sumatra Utara pada Februari 2026 cenderung stagnan, hanya meningkat sebesar 1,05% (month-to-month/mtm) dibandingkan Januari 2026.
Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut Edy Irwansyah mengatakan, tertahannya laju ekspor karet alam Sumut periode Februari disebabkan oleh sejumlah hal, termasuk penundaan pengapalan (delay shipment) akibat kendala jadwal kapal yang dipengaruhi oleh dinamika logistik global.
“Gangguan jalur pelayaran di kawasan strategis seperti Selat Hormuz menjadi satu dari sekian faktor utama yang masih menekan kinerja ekspor karet alam dari Sumut,” kata Edy, Senin (30/3/2026).
Edy mengatakan, total volume ekspor karet alam dari Sumut pada Februari 2026 sebesar 18.661 ton, naik tipis dari Januari 2026 yang tercatat sebesar 18.467 ton.
Meski secara bulanan menunjukkan perbaikan terbatas di tengah pelemahan permintaan global, kinerja ekspor karet Sumut secara tahunan (year-on-year/yoy) terkontraksi sedalam 9,67% (yoy) dibanding Februari 2025 yang sebesar 20.659 ton.
Kinerja ekspor bulanan karet alam Sumut ini juga disebut Edy masih relatif stagnan dan jauh dari level normal historis yang dapat mencapai 42.000 ton per bulan.
Baca Juga
- Tarif Resiprokal 0% AS Berpeluang Dongkrak Ekspor Karet Sumsel
- Harga Karet di Sumsel Tembus Rp15.000 per Kg, Petani Semringah
- Kenaikan Harga Dongkrak Ekspor Karet Sumsel pada 2025
“Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan permintaan global terhadap karet alam masih berlangsung secara bertahap dan belum merata,” ujar Edy.
Dari catatan Gapkindo Sumut, ekspor karet Sumut pada Februari 2026 masih menyasar negara-negara utama, yaitu Jepang sebanyak 30,06%; Amerika Serikat sebanyak 22,95%; China sebanyak 10,18%; dan Brasil sebanyak 9,07%.
Korea Selatan (Korsel) yang biasanya tak masuk peringkat 10 besar pengimpor karet dari Sumut, pada Februari kemarin tercatat menduduki posisi lima teratas dengan permintaan hingga 3,35% dari total ekspor.
Edy menyebut, hal itu mengindikasikan adanya peningkatan permintaan dari industri hilir di Korsel, khususnya sektor ban dan manufaktur berbasis karet.
“Kemungkinan terkait dengan kebutuhan blending antara karet alam dan sintetis,” tambahnya.
Selain kelima negara utama di atas, total ekspor karet Sumut ke kawasan Uni Eropa pada Februari 2026 tercatat sebesar ±13,5% dari total ekspor atau sekitar 2.420 ton. Ada 11 negara yang menjadi tujuan ekspor ke Uni Eropa, dengan perincian ke Italia sebanyak 2,6%; Jerman 2,2%; Prancis 2,1%; Spanyol 1,6%; dan Rumania 1,6%.
Diikuti Belgia 1,5%; Luksemburg 0,6%; Slovenia 0,6%; Polandia 0,4%; Bulgaria 0,2%; serta Belanda 0,1%.
“Data tersebut menunjukkan bahwa kontribusi Uni Eropa cukup signifikan secara agregat. Namun, tersebar luas tanpa dominasi kuat dari satu negara tertentu,” kata Edy.
Hambatan Ekspor Karet Sumut
Gapkindo Sumut memerinci beberapa faktor utama yang masih menekan kinerja ekspor karet alam dari Sumut. Selain permintaan global yang belum pulih sepenuhnya, penundaan pengapalan (delay shipment) akibat kendala jadwal kapal yang terpengaruh dinamika logistik global termasuk gangguan jalur pelayaran di kawasan strategis seperti Selat Hormuz juga berandil.
Di sisi lain, Edy menekankan bahwa pasokan karet alam dari Sumut hingga saat ini masih terbatas seiring dengan musim gugur daun (wintering) yang menyebabkan penurunan produksi di tingkat kebun.
Di tengah kondisi tersebut, lanjutnya, harga karet justru menunjukkan penguatan yang signifikan. Rata-rata harga pada Februari 2026 tercatat sebesar 193,76 sen/kg, meningkat 9,49 sen dibandingkan Januari. Tren penguatan ini berlanjut hingga akhir Maret, dengan harga penutupan pada 27 Maret 2026 mencapai 200,3 sen/kg
“Kenaikan harga ini tidak terlepas dari dinamika global, termasuk krisis energi yang mendorong kenaikan biaya produksi karet sintetis berbasis petrokimia sehingga meningkatkan daya tarik karet alam sebagai substitusi,” jelas Edy.
Dia menyebut, meski kinerja ekspor karet Sumut masih berada di tahap konsolidasi, penguatan harga dan mulai munculnya permintaan dari pasar non-tradisional seperti Korea Selatan memberikan sinyal awal adanya potensi perbaikan pasar ke depan.





