IQ Rendah, Alarm Pembenahan Pembangunan SDM

kompas.id
12 jam lalu
Cover Berita

Laporan bertajuk Average IQ by Country 2026 yang dirilis oleh International IQ Test memberikan sinyal peringatan bagi Indonesia. Pasalnya, posisi Indonesia dalam daftar rata-rata IQ global justru menjadi catatan yang cukup memprihatinkan.

Dari 137 negara yang terdata, Indonesia berada di peringkat ke-126 dengan skor yang turun cukup signifikan dibanding capaian tahun sebelumnya.

Laporan yang bertujuan memetakan negara mana saja yang memiliki Intelligence Quotient (IQ) paling tinggi di dunia ini diolah dari data sekitar 1.212.714 peserta tes daring sepanjang tahun 2025. Hasilnya, Korea Selatan menjadi juara baru mengungguli China, juara tahun sebelumnya.

Korea Selatan dengan skor 106,97 dari 26.996 partisipan, membuktikan bahwa sistem pendidikan dan budaya belajar mereka yang kuat membuahkan hasil nyata, sehingga mencapai rata-rata IQ tertinggi di dunia.

Blok negara Asia Timur mendominasi tiga besar rata-rata IQ tertinggi. Di urutan kedua adalah China dengan skor 106,48 diikuti Jepang di urutan ketiga dengan rata-rata IQ 106,30.

Dominasi ini menunjukkan pola yang konsisten bahwa negara dengan sistem pendidikan kuat, investasi tinggi pada riset, dan budaya belajar yang disiplin cenderung menghasilkan skor IQ lebih tinggi.

IQ dalam konteks ini bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari ekosistem pembangunan manusia yang terkelola dengan baik

Terpotret, capaian skor Korea Selatan mengalami peningkatan, sementara sebagian besar skor negara lainnya dalam peringkat 20 besar justru mengalami penurunan.

Salah satunya yang turun cukup signifikan adalah Singapura. Jika pada pemetaan tahun 2025 menduduki peringkat kelima dengan skor 105,14, di tahun 2026 turun ke peringkat tujuh dengan skor 103,56.

Hal yang menarik adalah capaian skor rata-rata IQ di Vietnam, Albania, dan Siprus yang mengalami lonjakan sangat signifikan. Albania dari peringkat 64 dengan skor 97,19 naik ke peringkat 19 dengan skor 101.

Sementara Siprus dari peringkat 52 dengan skor 98,51 menjadi peringkat 12 dengan skor 102,12. Sementara Vietnam dari urutan 24 dengan skor 100,12 naik dan masuk 10 besar dengan skor 102,26.

Negara-negara yang masuk 20 besar tersebut memiliki kesamaan, yakni investasi besar pada pendidikan, sistem pembelajaran yang terstruktur, serta budaya akademik yang kuat. IQ dalam konteks ini bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari ekosistem pembangunan manusia yang terkelola dengan baik.

Sinyal serius

Di tengah capaian negara lain, rata-rata IQ Indonesia justru menunjukkan arah sebaliknya, yaitu mengalami penurunan, dari skor 93,18 menjadi 89,96.

Bahkan peringkatnya berada di urutan 11 terbawah dari 137 negara. Penurunan ini tidak hanya berdampak pada posisi global, tetapi juga memperlebar jarak dengan negara tetangga.

Di kawasan negara ASEAN rata-rata IQ Indonesia berada di papan bawah, hanya satu tingkat di atas Timor Leste. Artinya, Indonesia tidak hanya tertinggal secara global, tetapi juga secara regional di Asia Tenggara. Peringkat ini menjadi sinyal adanya persoalan mendasar yang harus dibenahi. Sinyal ini tidak bisa diabaikan.

Intelligence Quotient (IQ) yang merupakan ukuran standar kemampuan kognitif dan intelektual seseorang tidak bisa dilihat secara sempit. Skor ini dipengaruhi oleh banyak variabel kompleks, seperti kualitas pendidikan, standar kesehatan, nutrisi, akses teknologi, hingga stimulasi lingkungan sejak dini.

Dalam konteks Indonesia, persoalan tersebut masih menjadi pekerjaan rumah. Di antaranya, masih terjadi ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah, pengentasan stunting, rendahnya literasi membaca dan numerasi, serta belum meratanya akses digital menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Indonesia masih menghadapi prevalensi stunting yang cukup tinggi meski trennya sudah menurun. Persoalan Stunting berkorelasi dengan IQ karena berdampak pada perkembangan otak. Oleh karena itu asupan gizi penting sebagai fondasi biologis kecerdasan untuk mengurangi hambatan perkembangan kognitif.

Meski demikian, kecerdasan manusia tidak hanya ditentukan oleh IQ, namun bersifat multidimensi yang meliputi kreativitas, empati, kemampuan sosial, dan inovasi. Namun, rata-rata IQ tetap sering digunakan sebagai indikator komparatif untuk melihat kualitas kognitif populasi secara umum.

Hasil berbagai asesmen internasional seperti PISA dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan adanya kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata global.

Dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) tahun 2024, dibandingkan negara-negara tetangga di ASEAN, Indonesia berada di tengah dengan skor 0,728 dan masuk kategori tinggi.

Meski Indeks Pembangunan Manusia Indonesia telah mencapai kategori tinggi, posisinya masih tertinggal dari negara-negara utama di Asia Tenggara.

Lebih penting lagi, capaian tersebut belum sepenuhnya tercermin dalam kualitas kognitif, sebagaimana terlihat dari skor PISA dan IQ yang masih rendah. Artinya, secara agregat kondisi Indonesia tidak buruk tetapi kualitas SDM belum kompetitif.

Rendahnya kualitas SDM tentu akan berdampak pada produktivitas ekonomi masa depan. Saat ini Indonesia juga masih menghadapi tantangan skor Human Capital Index (HCI) yang masih rendah, berkisar antara 0,54 - 0,56.

Kondisi ini mencerminkan anak Indonesia baru tumbuh dengan sekitar 54-56 persen dari potensi produktivitas maksimalnya. Tentu data ini menunjukkan masih banyak tantangan pembangunan SDM yang harus segera dibenahi.

Pelajaran dari Vietnam

Vietnam menjadi contoh menarik sebagai negara berkembang yang berhasil membangun kualitas pendidikan hingga level global. Capaian IPM Indonesia dan Vietnam menggambarkan posisi yang hampir setara, tetapi Vietnam berhasil mencapai skor PISA dan rata-rata IQ yang tinggi.

Dalam beberapa dekade terakhir, negara ini berhasil melakukan reformasi pendidikan secara sistematis. Titik baliknya adalah saat dimulainya kebijakan Doi Moi yang berarti perubahan pada tahun 1986.

Transisi ekonomi yang dilakukan memiliki kaitan erat dan dampak transformatif terhadap sistem pendidikan di negara tersebut. Doi Moi memicu reformasi fundamental yang mengubah pendidikan dari sekadar alat ideologis menjadi faktor kunci pembangunan ekonomi dan SDM unggul.

Sejak kebijakan Doi Moi, Vietnam secara konsisten menjadikan pendidikan sebagai prioritas pembangunan. Vietnam antara lain menekankan kemampuan dasar literasi, numerasi, dan sains sejak dini.

Hasilnya sudah terlihat nyata dari capaian-capaian yang diraih dan Vietnam membuktikan sebagai negara berkembang bisa melompat jauh dalam kualitas pendidikan.

Keberhasilan Vietnam bisa menjadi contoh praktik baik dan turunnya hasil International IQ Test Indonesia bisa menjadi momentum untuk melakukan refleksi dan pembenahan. Apalagi Indonesia mempunyai potensi jumlah SDM yang begitu besar dan bonus demografi yang sedang berlangsung.

Pada akhirnya, peringkat IQ hanyalah salah satu indikator. Namun, di balik angka tersebut terdapat pesan penting tentang kondisi dan arah pembangunan suatu bangsa. (LITBANG KOMPAS)

Serial Artikel

PISA dan Kemampuan SDM Kita

Kita masygul dan kecil hati melihat hasil yang diperlihatkan Program for International Student Assessment (PISA) 2018 yang diselenggarakan oleh OECD.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
MPM Group (MPMX) Raup Laba Bersih Rp462 Miliar pada 2025, Turun 19 Persen
• 26 menit laluidxchannel.com
thumb
Ciri Kepribadian Orang yang Rajin Olahraga meski Sibuk
• 20 jam lalubeautynesia.id
thumb
Komisi III DPR Beri Penghargaaan ke Kapolres Metro Bekasi Bantu Selesaikan Polemik Musala
• 22 jam laludetik.com
thumb
Kemenhut Bahas Kerja Sama Sister Park dengan Jepang
• 20 jam lalujpnn.com
thumb
Prof Henry Indraguna: Negara Jangan Lembek Hadapi Mafia Migas
• 22 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.