JAKARTA - Dua pasukan penjaga perdamaian PBB yang sedang dalam konvoi tewas terkena ledakan di Lebanon Selatan, di tengah meningkatnya serangan Israel.
Ledakan itu terjadi sehari setelah Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, mengutuk pembunuhan seorang anggota pasukan penjaga perdamaian asal Indonesia di Lebanon selatan, melansir The New York Times, Selasa (31/3/2026). Lokasi itu menjadi tempat Israel dan Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, terlibat dalam bentrokan yang meningkat seiring dengan perluasan invasi darat pasukan Israel di sana.
Sekitar 10.000 pasukan penjaga perdamaian PBB ditempatkan di wilayah tersebut sebagai bagian dari Pasukan Sementara PBB di Lebanon, yang dikenal sebagai UNIFIL, yang didirikan pada tahun 1978 selama perang saudara Lebanon.
Laporan internal yang dilihat menunjukkan, pasukan penjaga perdamaian PBB belum mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas serangan dan kematian terbaru tersebut. Tidak ada komentar langsung dari Israel, Hizbullah, atau UNIFIL.
"Serangan lainnya juga sedang diselidiki," kata UNIFIL dalam sebuah pernyataan.
Dalam ledakan terbaru pada Senin, konvoi PBB yang sedang menuju antara dua pangkalan UNIFIL dihantam, menghancurkan kendaraan terdepan dan menewaskan para penjaga perdamaian. Beberapa lainnya terluka, salah satunya serius, menurut laporan tersebut.
Ledakan tersebut, yang sekali lagi mengenai batalion Indonesia UNIFIL, terjadi di dekat kota Bani Haiyyan di Lebanon selatan, kata laporan itu.




