Fenomena Pink Moon adalah sebutan untuk Bulan Purnama yang terjadi pada bulan April. Meskipun dinamakan "Pink Moon," warna bulan tersebut tidak akan berubah menjadi merah muda.
Nama ini diambil dari bunga liar yang mekar di awal musim semi, yaitu Phlox subulata, yang dikenal di Amerika Utara bagian timur sebagai creeping phlox atau moss phlox. Bunga yang sering disebut sebagai "moss pink" ini dikenal mekar penuh sekitar waktu Bulan Purnama di bulan April.
Selain terkenal dengan nama Pink Moon, Bulan Purnama di bulan April juga memiliki banyak nama lain yang digunakan di berbagai budaya. Beberapa di antaranya termasuk "Breaking Ice Moon" (Algonquin) dan "Bulan Saat Sungai Kembali Dapat Dilayari" (Dakota), yang menggambarkan mencairnya es dan meningkatnya aktivitas di akhir musim dingin.
Sembari mempertimbangkan berbagai nama ini, ada pula yang menyebutnya Bulan Tunas Tumbuhan dan Semak (Tlingit) serta Bulan Rumput Merah Muncul (Oglala), yang mencerminkan pertumbuhan tanaman yang mulai aktif kembali. Nama lain seperti Bulan Saat Bebek Kembali (Lakota) dan Bulan Katak (Cree) menunjukkan pentingnya siklus kehidupan hewan yang bergantung pada perubahan musim.
Waktu dan Cara Melihat Pink MoonDalam astronomi, Bulan Purnama merujuk pada waktu tertentu ketika Bulan berada di posisi berlawanan dengan Matahari. Bulan akan tampak bulat selama satu hari sebelum dan sesudah waktu tersebut, sehingga para pengamat di Bumi dapat melihat bulan yang bulat dan cerah.
Fenomena Pink Moon pada tahun 2026 dapat disaksikan mulai tanggal 1 hingga 2 April. Puncak fenomena ini akan terjadi pada Kamis, 2 April, tepatnya pada pukul 09.11 WIB.
Meskipun puncak purnama terjadi pada pagi hari, pengamat di Indonesia masih bisa menikmati keindahan bulan ini pada malam hari antara 1 dan 2 April.
Waktu terbaik untuk melihat fenomena ini adalah ketika Bulan terbit di cakrawala timur, sekitar waktu Maghrib. Saat berada di posisi rendah dekat cakrawala, Bulan akan mengalami ilusi optik yang membuatnya terlihat lebih besar dan berwarna keemasan akibat pantulan atmosfer.
Untuk menyaksikannya dengan jelas, lokasi seperti lapangan terbuka, dataran tinggi, atau pesisir pantai sangat disarankan karena minim dari polusi cahaya dan tidak terhalang oleh bangunan tinggi atau pohon.
Baca Juga:Fenomena Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Waktu dan Lokasi Terbaik untuk Menyaksikannya
Fenomena Pink Moon tidak hanya terkait dengan sains, tetapi juga memiliki makna budaya yang mendalam. Banyak tradisi di berbagai masyarakat merayakan Bulan Purnama dengan berbagai cara, dari upacara spiritual hingga kegiatan pertanian.
Beberapa budaya mengaitkan Pink Moon dengan waktu untuk memperbarui diri dan merangkul perubahan, sambil merayakan pertumbuhan kembali dalam alam.
Legenda dan cerita rakyat juga sering dikaitkan dengan Pink Moon. Pada masyarakat Anishinaabe, terdapat keyakinan bahwa saat Bulan Purnama ini, ikan sucker kembali ke sungai untuk bertelur, yang menandai waktu penting dalam kalender mereka. Cerita-cerita ini selalu menyiratkan hubungan yang harmonis antara alam dan kehidupan sehari-hari.
Baca Juga:Fenomena Gerhana Matahari Cincin, Kapan Dan Di Mana Bisa Menyaksikannya?





