Bisnis.com, JAKARTA – PT Honda Prospect Motor (HPM) melakukan pergantian pucuk pimpinan setelah menunjuk Masanao Kataoka sebagai presiden direktur baru, menggantikan Shugo Watanabe.
Perubahan kepemimpinan tersebut terjadi di tengah dinamika pasar otomotif domestik yang masih menghadapi sejumlah tantangan.
Masanao Kataoka dihadapkan pada kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Selain itu, risiko eksternal dari konflik di Timur Tengah turut membayangi, terutama karena harga minyak dunia melonjak hingga melampaui US$100 per barel.
“Kami masih memantau potensi dampak dari konflik di Timur Tengah, terutama pengaruhnya terhadap produksi dan model kami,” ujar Kataoka di Jakarta, dikutip Selasa (31/3/2026).
Di pasar Indonesia, kinerja Honda masih ditopang oleh model Brio yang menyumbang lebih dari 50% dari total penjualan, termasuk varian low cost green car (LCGC) Brio Satya S CVT. Kendati demikian, pasar LCGC masih melemah sejalan dengan melambatnya daya beli masyarakat kelas menengah.
Data Gaikindo mencatat, pada Januari-Februari 2026, penjualan wholesales LCGC nasional sebesar 22.106 unit, atau turun 21,5% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya 28.147 unit.
Baca Juga
- Bos Baru Honda (HPM) Siap Perkuat Elektrifikasi Kendaraan di Indonesia
- Masanao Kataoka Resmi Pimpin Honda Prospect Motor, Ini Jejak Kariernya
- Respons Bos Honda Soal Persaingan dengan Merek China di Pasar RI
Sebelumnya, Honda menutup 2025 dengan realisasi penjualan ritel sebanyak 71.233 unit, atau merosot 30,9% secara tahunan dibandingkan capaian 103.023 unit pada 2024. Penurunan tersebut mencerminkan kinerja Honda yang melemah dalam dua tahun terakhir seiring perlambatan industri otomotif nasional.
Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Kataoka untuk kembali mendorong permintaan pasar otomotif melalui penyegaran produk serta penambahan model baru Honda.
Di sisi lain, Kataoka memiliki pengalaman panjang di kawasan Asia Tenggara. Pada 2014, dia ditunjuk sebagai Marketing & Sales Advisor & Senior Assistant VP Honda di Manila, Filipina. Empat tahun kemudian, dia menjabat Marketing & Sales Assistant to CEO/COO Honda di Kuala Lumpur, Malaysia.
Berbekal pengalaman tersebut, dia mengatakan akan mempelajari pasar Indonesia untuk menyesuaikan arah strategi bisnis Honda ke depan, termasuk memperkuat portofolio produk kendaraan elektrifikasi.
"Indonesia merupakan pasar yang sangat dinamis dan unik. Cara terbaik untuk memahaminya adalah dengan mendengarkan pelanggan, mitra dealer, rekan kerja, serta rekan-rekan media," pungkasnya.





