BALIKPAPAN, KOMPAS — Kebakaran hutan dan lahan mulai muncul di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara pada akhir Maret 2026. Selain menyiagakan personel, pemerintah setempat menyiapkan langkah taktis hingga status siaga bencana guna mengantisipasi dampak lebih besar menjelang fenomena El Nino ”Godzilla”.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbaru terjadi di Kota Tarakan pada Jumat, 27 Maret 2026. Adapun kebakaran di Kalimantan Timur terjadi di Kabupaten Kutai Kartanegara pada Sabtu, 28 Maret 2026.
”Total 8 hektar terbakar di dua provinsi tersebut. Di Kutai Kartanegara lahan seluas 2 hektar ludes terbakar. Di Kota Tarakan sedikitnya 6 hektar lahan gambut terbakar,” ujar Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Selasa (31/3/2026).
Titik api di Kutai Kartanegara dilaporkan muncul di Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak. Sementara itu, di Kota Tarakan, api dilaporkan terlihat di Desa Kampung Satu, Kecamatan Tarakan Tengah. Api dilaporkan telah padam.
”Penyebab kebakaran masih dalam tahap penyelidikan oleh pihak terkait,” kata Abdul.
Dampak El Nino ”Godzilla” yang diperkirakan terjadi mulai April hingga Oktober 2026 pun diantisipasi. Fenomena ini berpotensi memicu kemarau panjang di sebagian wilayah Indonesia. Dampaknya bisa berujung pada kegagalan panen bahan pangan dan kesulitan sumber air.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat, puluhan titik panas (hotspot) mulai muncul di sejumlah wilayah. Pada 31 Maret 2026, terdeteksi 38 titik panas di provinsi ini.
Koordinator Pusdalops BPBD Kaltim Cahyo Kristanto mengatakan, tim gabungan mempercepat komunikasi untuk mengecek titik api tersebut. Selain menyiapkan perlengkapan, pihaknya menunggu penetapan status siaga bencana dari pemerintah provinsi.
”Penetapan status siaga masih berproses. Ini penting sebagai acuan bagi kabupaten dan kota dalam menentukan langkah penanganan,” kata Cahyo.
Sementara itu, Kepala BPBD Provinsi Kaltara Andi Amriampa mengatakan, Kaltara diperkirakan tidak terdampak langsung El Nino ”Godzilla” 2026. Hujan masih berpotensi turun di provinsi ini pada 2026.
”Prakiraan cuaca bulan April-September 2026, berdasarkan informasi BMKG, wilayah Kaltara mengalami hujan dengan kriteria rendah hingga menengah, yaitu 20-150 milimeter per dasarian,” katanya.
Kaltara, lanjut Andi, termasuk dalam tipe iklim 1, yakni wilayah yang mengalami hujan sepanjang tahun tanpa perbedaan musim yang ekstrem. Kendati demikian, beberapa daerah di Kaltara tetap berpotensi terkena dampak El Nino.
Dari pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, fenomena El Nino berdampak pada kekeringan. Misalnya, sejumlah sumber air di Pulau Nunukan menyusut pada 2005, 2014, dan 2024 karena intensitas hujan di pulau tersebut rendah.
Andi mengatakan, Kabupaten Nunukan telah berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Kalimantan V guna meningkatkan infrastruktur embung. Pengeboran sumber air tanah di beberapa titik juga sedang berproses, menggandeng pihak swasta dalam tanggung jawab sosial.
Sebagai langkah taktis di lapangan, kata Andi, BPBD Kabupaten Nunukan menyurvei sumber air yang tidak kering saat kemarau di Nunukan.
”BPBD Kabupaten Nunukan mendistribusikan air bersih ke masyarakat menggunakan mobil tangki saat terjadi kekeringan,” katanya.





