Dampak Konflik Timur Tengah, Harga Kedelai hingga Plastik Tahu di Jabar Melejit

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

BANDUNG, KOMPAS- Konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah semakin rentan berdampak pada dapur rumah tangga warga Jawa Barat. Kenaikan harga minyak dunia membuat harga kedelai hingga plastik kemasan tahu melonjak drastis.

Kenaikan harga kedelai dirasakan di sentra pengrajin tahu Cibuntu, Kelurahan Babakan, Kota Bandung, Selasa (31/3/2026). Di sana, beroperasi sedikitnya 100 industri rumahan pengrajin tahu. Rata-rata produksi tahunya 4 kuintal hingga 8 ton per hari.

Sekarang, perajin harus membeli kedelai dengan harga Rp 10.700 per kilogram. Padahal, di awal tahun ini, harga kedelai hanya Rp 8000 per kg. Bahan baku kedelai datang dari Kanada dan Amerika Serikat.

Baca JugaHarga Kedelai di Jabar Melambung, Pelaku Usaha Khawatirkan Dampak Perang

Tidak hanya itu, harga plastik kemasan tahu juga melonjak. Dari awalnya Rp 44.000 per kg, kini menjadi Rp 60.000 per kg. Biji plastik diimpor dari sejumlah negara, seperti Arab Saudi, China, hingga Yaman.

Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat Muhammad Zamaludin mengatakan, harga kedelai dan plastik kemasan tahu kian melonjak dalam sepekan terakhir. Hal ini memicu kekhawatiran pengrajin tahu dan tempe di Jabar, yang jumlahnya mencapai 1.000 orang.

"Pihak distributor terpaksa menaikkan harga kedelai karena biaya pengiriman dari luar negeri terus melonjak,. Hal ini dipicu kenaikan harga minyak," ungkap Zamaludin.

Mulai dinaikkan

Zaski (21), penjual tahu di Kota Bandung mengaku, sudah menaikkan harga satu papan tahu berisi 100 potong. Dari awalnya Rp 60.000 menjadi Rp 62.000 mulai Selasa ini. Zaski adalah pedagang yang memasok tahu dari Cibuntu.

"Saya terpaksa menaikkan harga jual ke konsumen. Sebab, terjadi lonjakan harga plastik dan tahu di tingkat pengrajin, " ungkapnya.

Pengamat ekonomi Universitas Pasundan Bandung Acuviarta Kartabi berpendapat, kenaikan energi akan berdampak kepada harga komoditas impor. Harga biji plastik, misalnya, melonjak drastis dalam dua pekan terakhir.

Menurutnya, terdapat sejumlah faktor komoditi impor terdampak kenaikan harga, antara lain perubahan rantai pasokan dan faktor spekulasi. Hal ini juga dipengaruhi nilai tukar rupiah yang kini melemah hingga Rp 17.100 per dollar AS.

"Solusinya pemerintah harus mencari opsi mencari komoditi impor alternatif dan memastikan pasokannya tetap terjaga. Hal ini untuk mencegah lonjakan harga yang signifikan, " tuturnya.

Baca JugaTerdampak Perang, Ekspor Tekstil Jabar ke Timur Tengah Tertunda


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sempat Macet Parah, Pramono Sebut Lalin di Pelabuhan Tanjung Priok Sudah Terkendali
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Peran 2 Tersangka Baru di Kasus Kuota Haji, KPK: Atur Jatah-Setoran ke Pejabat Kemenag
• 21 jam lalurctiplus.com
thumb
TAUD Desak Komnas HAM Percepat Investigasi Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Kemenhut Larang Sawah Baru di Hutan, Bagaimana Nasib yang Terlanjur?
• 21 jam lalukatadata.co.id
thumb
Prabowo ke PM Takaichi: Terima Kasih Undang Saya saat Musim Bunga Sakura
• 44 menit laluokezone.com
Berhasil disimpan.