Parlemen Iran mulai memproses rencana penerapan “manajemen cerdas” di Selat Hormuz, menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Abbas Goudarzi Juru bicara Dewan Pimpinan Parlemen Iran menyatakan, rencana tersebut telah masuk pada agenda legislatif setelah pengumpulan lebih dari 250 tanda tangan anggota parlemen dari total 290 kursi.
Menurutnya, rencana itu bertujuan dalam peningkatan keamanan jalur maritim serta memberlakukan pungutan biaya dalam mata uang lokal rial dari kapal-kapal yang melintas.
Pada Minggu (29/3/2026), Alireza Salimi anggota parlemen senior mengatakan ada empat tujuan utama dalam rencana darurat ganda tersebut.
Melansir Antara pada Selasa (31/3/2026), tujuan-tujuan tersebut antara lain memastikan keamanan pelayaran, menuntut pelaku pencemaran lingkungan, memungut biaya untuk layanan pemandu, dan membentuk dana pembangunan regional.
Perkembangan ini sekaligus menjadi pengendalian ketat Iran terhadap Selat Hormuz yang sejak akhir Februari 2026 telah membatasi kapal-kapal yang berafiliasi dengan Israel, AS, dan sekutunya untuk melintas.
Sebelumnya, pada 28 Februari 2026 lalu AS dengan Israel melancarkan serangan kepada beberapa target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban jiwa sipil.
Ali Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran juga turut menjadi korban jiwa dalam serangan tersebut.
Sebagai balasan, Iran menyerang Israel serta beberapa titik fasilitas militer AS di negara-negara Teluk. (ant/vve/saf/ipg)




