Yogyakarta (ANTARA) - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menggelar napak tilas menyusuri jejak sejarah persandian menuju situs Rumah Sandi Dukuh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa, sebagai rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 lembaga tersebut.
Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi memimpin upacara pembukaan di Lapangan Dekso, yang kemudian dilanjutkan dengan napak tilas bersama para taruna Politeknik Siber dan Sandi Negara, perwakilan Forkomsanda DIY, unsur pemerintah daerah, serta jurnalis menuju situs Rumah Sandi Dukuh.
"Diharapkan para peserta dapat menghayati, memaknai semangat, dedikasi, perjuangan, dan pengorbanan dari para pendahulu persandian di negara ini," kata Nugroho di hadapan peserta napak tilas.
Nugroho menjelaskan para perintis dahulu harus berjalan kaki menyeberangi sungai hingga memanggul sepeda dengan berbagai risiko fisik maupun nyawa demi mengamankan pesan rahasia negara.
Hal yang tidak pernah berubah dan menjadi panduan saat ini adalah semangat dedikasi dan kerelaan berkorban tersebut.
Menurut dia, tantangan saat ini telah bertransformasi ke berbagai platform siber, frekuensi elektromagnetik, hingga algoritma teknologi untuk menjamin keamanan informasi dari ancaman pihak lawan.
Kepala Museum Sandi Setyo Budi Prabowo menambahkan krusialnya peran teknologi komunikasi radio dan sandi saat era Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun 1948.
"Saat itu unit intelijen Belanda selalu memonitor komunikasi pihak Republik sehingga perlu diamankan dengan persandian agar hubungan ke luar negeri berjalan baik," ujar Setyo.
Ia mengatakan Rumah Sandi Dukuh menjadi bukti sejarah tempat komunikasi rahasia disandikan sebelum dipancarkan melalui radio untuk menembus blokade informasi pihak Belanda.
Sistem sandi tangguh warisan Dr. Roebiono Kertopati membuat hubungan diplomatik ke New Delhi dan Singapura tetap berjalan lancar tanpa bisa disadap musuh.
"Kita perlu meneladani patriotisme, integritas, dan tanggung jawab pendahulu karena para pejuang sandi dahulu bekerja tanpa mengharap imbalan atau jasa," tambah Setyo.
Dalam kegiatan itu, peserta menelusuri rute perbukitan hingga menyeberang sungai yang dahulu digunakan para kurir untuk mendistribusikan pesan rahasia sebagai refleksi beratnya tantangan menjaga keamanan informasi.
"Ini untuk pertama kalinya saya ikut napak tilas. Kita jadi tahu bagaimana perjuangan para pendahulu pada masa itu. Sekarang sebagian jalannya bagus, dulu pasti sulit dan tidak ada penerangan," kata Kepala Seksi Persandian Kominfo Sleman Neti Kusumawati.
Situs Rumah Sandi terletak di Dusun Dukuh, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Lokasinya yang tersembunyi di perbukitan Menoreh menjadi pusat komunikasi rahasia antara Pemerintah Indonesia dengan dunia internasional pada masa perang kemerdekaan.
Rumah tradisional Jawa berbentuk limasan milik warga bernama Merto Setomo tersebut masih terjaga keaslian struktur bangunan berdinding anyaman bambunya.
Di dalamnya terdapat sejumlah koleksi artefak, seperti replika alat tulis sandi manual, buku kode rahasia, hingga media penyimpanan pesan yang dahulu digunakan para kurir.
Kepala BSSN Nugroho Sulistyo Budi memimpin upacara pembukaan di Lapangan Dekso, yang kemudian dilanjutkan dengan napak tilas bersama para taruna Politeknik Siber dan Sandi Negara, perwakilan Forkomsanda DIY, unsur pemerintah daerah, serta jurnalis menuju situs Rumah Sandi Dukuh.
"Diharapkan para peserta dapat menghayati, memaknai semangat, dedikasi, perjuangan, dan pengorbanan dari para pendahulu persandian di negara ini," kata Nugroho di hadapan peserta napak tilas.
Nugroho menjelaskan para perintis dahulu harus berjalan kaki menyeberangi sungai hingga memanggul sepeda dengan berbagai risiko fisik maupun nyawa demi mengamankan pesan rahasia negara.
Hal yang tidak pernah berubah dan menjadi panduan saat ini adalah semangat dedikasi dan kerelaan berkorban tersebut.
Menurut dia, tantangan saat ini telah bertransformasi ke berbagai platform siber, frekuensi elektromagnetik, hingga algoritma teknologi untuk menjamin keamanan informasi dari ancaman pihak lawan.
Kepala Museum Sandi Setyo Budi Prabowo menambahkan krusialnya peran teknologi komunikasi radio dan sandi saat era Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun 1948.
"Saat itu unit intelijen Belanda selalu memonitor komunikasi pihak Republik sehingga perlu diamankan dengan persandian agar hubungan ke luar negeri berjalan baik," ujar Setyo.
Ia mengatakan Rumah Sandi Dukuh menjadi bukti sejarah tempat komunikasi rahasia disandikan sebelum dipancarkan melalui radio untuk menembus blokade informasi pihak Belanda.
Sistem sandi tangguh warisan Dr. Roebiono Kertopati membuat hubungan diplomatik ke New Delhi dan Singapura tetap berjalan lancar tanpa bisa disadap musuh.
"Kita perlu meneladani patriotisme, integritas, dan tanggung jawab pendahulu karena para pejuang sandi dahulu bekerja tanpa mengharap imbalan atau jasa," tambah Setyo.
Dalam kegiatan itu, peserta menelusuri rute perbukitan hingga menyeberang sungai yang dahulu digunakan para kurir untuk mendistribusikan pesan rahasia sebagai refleksi beratnya tantangan menjaga keamanan informasi.
"Ini untuk pertama kalinya saya ikut napak tilas. Kita jadi tahu bagaimana perjuangan para pendahulu pada masa itu. Sekarang sebagian jalannya bagus, dulu pasti sulit dan tidak ada penerangan," kata Kepala Seksi Persandian Kominfo Sleman Neti Kusumawati.
Situs Rumah Sandi terletak di Dusun Dukuh, Desa Purwoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo. Lokasinya yang tersembunyi di perbukitan Menoreh menjadi pusat komunikasi rahasia antara Pemerintah Indonesia dengan dunia internasional pada masa perang kemerdekaan.
Rumah tradisional Jawa berbentuk limasan milik warga bernama Merto Setomo tersebut masih terjaga keaslian struktur bangunan berdinding anyaman bambunya.
Di dalamnya terdapat sejumlah koleksi artefak, seperti replika alat tulis sandi manual, buku kode rahasia, hingga media penyimpanan pesan yang dahulu digunakan para kurir.





