JAKARTA, KOMPAS.com - Penumpukan sampah yang terus berulang di Jakarta setiap momen Lebaran Idul Fitri dinilai bukan sekadar persoalan teknis di lapangan.
Dosen Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, Mahawan Karuniasa, menyebut ada masalah mendasar dalam sistem pengelolaan sampah.
Lonjakan volume sampah saat Lebaran menjadi salah satu pemicu utama.
Baca juga: Klaim Jakarta Sudah Bersih dari Sampah, Pramono Diminta Turun Langsung: Buktinya Masih Ada
“Akar masalahnya sebenarnya sudah lama dan terus berulang. Pertama, volume sampah Jakarta terlalu besar, terutama sampah organik dan kemasan sekali pakai saat Lebaran,” ujar Mahawan saat dihubungi Kompas.com, Selasa (31/3/2026).
Selain itu, rendahnya pemilahan sampah dari rumah tangga juga memperparah kondisi.
“Kedua, pemilahan dari rumah tangga masih rendah, sehingga semua bercampur dan membebani pengangkutan,” kata Mahawan.
Ia menambahkan, kapasitas fasilitas dan armada pengangkutan belum sebanding dengan lonjakan sampah musiman.
Baca juga: Klaim Pramono Jakarta Sudah Bersih dari Sampah Dinilai Terlalu Dini
“Ketiga, kapasitas TPS, armada, dan fasilitas pengolahan belum sebanding dengan lonjakan sampah musiman. Akibatnya, ketika ada peningkatan konsumsi atau gangguan distribusi, sistem langsung kewalahan,” ujarnya.
Mahawan menilai, kondisi ini menunjukkan sistem pengelolaan sampah di Jakarta masih bersifat reaktif.
“Jadi masalahnya bukan semata karena petugas kurang cepat, tetapi karena tata kelolanya masih reaktif, belum preventif,” ucapnya.
Kondisi di Lapangan
Sebelumnya, penumpukan sampah terjadi di sejumlah wilayah Jakarta setelah Lebaran.
Antrean pengangkutan sempat mengular hingga berjam-jam, bahkan di beberapa titik muncul gunungan sampah.
Di Pasar Induk Kramat Jati, misalnya, tumpukan sampah sempat mencapai ribuan ton dan belum sepenuhnya terurai meski pengangkutan telah dilakukan.
Baca juga: Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati Bikin Aktivitas Bongkar Muat Terganggu
Sementara di sejumlah wilayah lain, warga juga mengeluhkan keterlambatan pengangkutan hingga memicu bau tidak sedap dan gangguan lingkungan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang