Liputan6.com, Jakarta - Di tengah hiruk-pikuk Pasar Kopro, Tanjung Duren Selatan, Grogol Petamburan, aktivitas jual beli tetap berlangsung seperti biasa. Pedagang menawarkan dagangan, pembeli berlalu-lalang, dan roda ekonomi terus berputar. Namun, di balik rutinitas itu, sempat muncul pemandangan yang mengusik: tumpukan sampah menggunung disertai aroma menyengat yang sulit diabaikan.
Tumpukan tersebut tidak hanya mengganggu estetika, tetapi juga menyebarkan bau hingga ke badan jalan. Kondisi ini dikeluhkan pedagang dan warga karena berlangsung beberapa hari sebelum akhirnya diangkut petugas.
Advertisement
Berdasarkan pantauan Liputan6.com, penumpukan terjadi sejak libur Lebaran dan baru ditangani pada 31 Maret 2026 dengan pengerahan alat berat oleh petugas kebersihan.
Seorang pedagang menyebutkan, dalam kondisi normal, pengangkutan sampah dilakukan setiap hari. Namun, kali ini terjadi gangguan akibat sistem pembuangan di hilir yang belum sepenuhnya pulih.
“Semua tempat buangan kena efeknya, bukan di satu titik saja,” ujarnya.
Kondisi tersebut berkaitan dengan terganggunya operasional di TPA Bantargebang, yang menyebabkan pembatasan armada pengangkut sampah dari berbagai wilayah Jakarta.
Di sisi lain, lokasi itu sejatinya hanya diperuntukkan bagi sampah warga sekitar RW 05 yang mencakup sekitar 18 RT. Namun, keberadaan sampah liar dari luar wilayah turut memperparah penumpukan.



