Proses kreatif di balik sebuah busana kini menjadi sorotan utama dalam Indonesia Fashionpreneur Competition (IFPC) 2026. Di panggung Ramadan Runway 2026, sembilan finalis unjuk gigi memperlihatkan bagaimana ide fashion diwujudkan secara spontan melalui sesi live draping di hadapan juri dan penonton.
Kompetisi hasil kolaborasi Sparks Fashion Academy (SFA) dan APPMI ini menghadirkan pengalaman berbeda, di mana proses kreatif tidak lagi tersembunyi di balik layar, melainkan menjadi bagian utama pertunjukan. Pada momen tersebut, para finalis terlihat sibuk mengolah wastra bermotif megamendung khas Batik Trusmi, Cirebon, menjadi busana secara langsung di atas runway.
Founder dan CEO SFA, Floery Dwi Mustika, menjelaskan bahwa live draping menjadi elemen penting dalam penilaian karena merepresentasikan kemampuan kreatif peserta secara real time.
“Live Draping itu jadi keunikan penyelenggaraan IFPC 2026. Bahkan jadi aspek penting di dalam penilaian juri. Kompetisi ini mengajak para peserta menciptakan konsep desain kain agar selaras dengan tema ‘The Reconstruct Garden’. Tidak semata berhenti pada konsep visual, karya kain terpilih kemudian akan diwujudkan pada sesi Live Draping secara spontan di atas panggung menjadi bagian gelaran,” kata Floery.
Mengusung konsep Evo Fabric, para peserta ditantang mengeksplorasi kain sebagai medium kreatif yang tidak hanya unik secara visual, tetapi juga memiliki nilai jual. Tidak hanya memperlihatkan keunikan masing-masing, proses ini menegaskan bahwa fashion bukan sekadar hasil akhir, melainkan perjalanan kreatif yang melibatkan eksplorasi ide, teknik, dan material.
Dari sembilan finalis, tiga pemenang terpilih berdasarkan penilaian dewan juri yakni Leny Rafael, Sally Giovanny, dan Elissa CH. Juara ketiga diraih Edita dengan nilai 7,75, disusul Zayyan di posisi kedua dengan nilai 7,93, dan Devina sebagai juara pertama dengan nilai 8.
Selain hadiah uang tunai total Rp10 juta, para pemenang juga mendapatkan beasiswa senilai Rp30 juta dari SFA. Floery menegaskan bahwa kompetisi ini tidak hanya melahirkan desainer, tetapi juga mendorong lahirnya pelaku industri kreatif yang siap membangun brand.
“Artinya tidak hanya produk atau kreatif desain, tapi juga bisnis dan brand-nya. Makanya namanya Indonesia Fashionpreneur Competition,” tegas Floery.
Selain kompetisi, SFA juga menampilkan fashion show bertajuk “The Reconstruct Garden” pada hari kedelapan Ramadan Runway 2026. Koleksi ciamik yang ditampilkan mengusung siluet maximalism, detail fragmented, dan gaya asymmetrical yang mencerminkan kebebasan berekspresi generasi muda.
Tema tersebut merepresentasikan taman sebagai simbol kehidupan, pertumbuhan, dan regenerasi. Para desainer mengeksplorasi konsep rekonstruksi melalui material dan teknik, menggabungkan unsur alam dengan sentuhan modern dalam setiap karya.
Adapun delapan desainer muda turut ambil bagian dalam fashion show ini, di antaranya Cheryl Aziza, Avryl Hilary x Destyani, Crista Flora, Alifia Herfiani, hingga Cutemonster by Ninditha.
Melalui gelaran IFPC 2026, panggung fashion tidak hanya menampilkan hasil akhir, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan kreativitasnya secara langsung, menjadikan proses sebagai bagian penting dari karya itu sendiri.





