jpnn.com, JAKARTA - Ketum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir menyampaikan tausiah syawalan dalam rangkaian acara Silaturahmi Idulfitri 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa, (31/3) di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Haedar menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin serta mengakui masih adanya kekurangan dalam pengabdian selama memimpin Muhammadiyah. “Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pengabdian yang kami lakukan,” ujarnya.
BACA JUGA: Sidang Terbuka Senat Jadi Momentum Milad ke-70 UMJ
Dia juga mengapresiasi seluruh elemen Muhammadiyah atas kontribusinya dalam mendorong perkembangan organisasi dan kepercayaan masyarakat.
“Terima kasih atas segala pengabdian, sehingga Muhammadiyah mampu berkembang dan memperoleh kepercayaan masyarakat,” tuturnya.
BACA JUGA: Muhammadiyah Sudah Tetapkan Awal Ramadan, Haedar: Perbedaan Tak Perlu Diributkan
Haedar menyampaikan duka mendalam atas gugurnya anggota pasukan perdamaian PBB di Lebanon, Farizal Rhomadhon, kader Muhammadiyah asal Kulon Progo, Yogyakarta. “Kami menyampaikan duka yang mendalam,” ujar Haedar.
Dia juga mengecam segala bentuk kekerasan dan penindasan yang dilakukan Zionis Israel. “Kami mengutuk segala bentuk kekerasan dan penindasan,” tegasnya.
BACA JUGA: Pakar Keuangan UMJ: Redenominasi Bisa Tingkatkan Kredibilitas Rupiah di Mata Global
Haedar menilai dunia saat ini menunjukkan dua realitas besar, yakni kegagalan peradaban modern dan kondisi global yang bersifat katastrofik. Ia menyebut berbagai bentuk kekerasan, genosida, hingga lemahnya hukum internasional menjadi bukti belum tercapainya cita-cita peradaban.
“Ini menunjukkan bahwa cita-cita besar peradaban modern belum sepenuhnya tercapai,” ujarnya.
Meski demikian, dia menegaskan pentingnya tetap menjalankan peran kemanusiaan dan moral. “Sekecil apa pun peran itu tetap penting untuk menjaga peradaban,” tuturnya.
Dalam konteks kebangsaan, Haedar menegaskan pentingnya berpegang pada keputusan Tanwir Makassar 2015 tentang Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah.
Dia menyebut Muhammadiyah akan tetap berada di garis Negara Pancasila dengan menjaga nilai kebangsaan, agama, dan kebudayaan. “Indonesia sebagai negara dengan dasar Pancasila harus kita jaga sebagai hasil konsensus nasional,” kata Haedar.
Dia menambahkan Muhammadiyah harus terus berperan dalam mencerdaskan dan memajukan kehidupan bangsa serta bekerja sama dengan seluruh komponen. “Muhammadiyah harus tetap mengawal bangsa agar menuju Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” tutur Haedar.
Haedar menyampaikan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks di berbagai bidang, sehingga Muhammadiyah perlu memanfaatkan sisa masa kepemimpinan untuk menjalankan amanat Muktamar 2022.
Dia menekankan pentingnya mewujudkan Muhammadiyah yang profesional, maju, dan berkehadiran nyata di tengah masyarakat. “Muhammadiyah harus menjadi organisasi yang profesional dan berkemajuan,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dengan perspektif Islam Berkemajuan dan berbagai upaya transformasi, termasuk pengembangan Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT), Muhammadiyah terus menunjukkan peran strategisnya di tingkat global. (cuy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Tausiah Ramadan, Hidayat Nur Wahid Ajak Civitas Akademika UMJ Perkuat Iman, Ilmu & Amal
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan



