Penulis: Nirmala Hanifah
TVRINews, Jakarta
Pemerintah telah melakukan penyesuaian pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari upaya efisiensi anggaran negara yang terintegrasi dalam kebijakan transformasi budaya kerja dan penghematan energi. Hal tersebut, diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Ia menjelaskan, pada kebijakan terbaru, distribusi MBG yang sebelumnya dilaksanakan enam hari dalam sepekan kini dioptimalkan menjadi lima hari. Langkah ini dinilai sebagai bentuk penataan ulang agar program tetap berjalan efektif namun lebih efisien dari sisi pembiayaan.
Selain itu, ia mengatakan jika pemerintah tetap memastikan kualitas dan keberlanjutan program, khususnya dalam penyediaan makanan bergizi bagi kelompok penerima manfaat.
“Pemerintah mendorong optimalisasi daripada program Makan Bergizi Gratis. Program ini diarahkan untuk penyediaan makanan segar selama lima hari dalam seminggu,” kata Airlangga Hartarto dalam konferensi pers, kutip Rabu, 1 April 2026
Meski ada perubahan skema, pemerintah memberikan pengecualian bagi sejumlah wilayah dan kelompok tertentu. Sekolah berasrama, daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta wilayah dengan prevalensi stunting tinggi tetap menjalankan distribusi enam hari, mulai Senin hingga Sabtu.
Kebijakan optimalisasi ini menjadi bagian dari paket besar reformasi efisiensi belanja negara yang mulai berlaku 1 April 2026. Pemerintah menilai penyesuaian pola distribusi dapat mengurangi potensi pemborosan tanpa mengurangi jangkauan utama program.
Dari sisi fiskal, lanjutnya pemerintah memperkirakan langkah ini mampu menghasilkan penghematan hingga Rp20 triliun.
“Potensi penghematan dari kegiatan ini mencapai Rp20 triliun,” ujar Airlangga.
Hingga awal Maret 2026, program MBG telah menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat, termasuk anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta lansia di berbagai wilayah Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews





