Pink Moon Hiasi Langit Jakarta Malam Ini, Ini Waktu Terbaik Mengamatinya

kompas.com
12 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Fenomena Pink Moon atau bulan purnama April akan muncul di langit Jakarta pada Rabu (1/4/2026) malam.

Profesor astronomi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Thomas Djamaluddin, mengatakan bahwa fenomena ini merupakan fase bulan purnama yang terjadi pada awal April.

“Purnama pink tahun ini pada Rabu, malam Kamis, 1-2 April 2026,” ujar Thomas, Selasa (31/3/2026), dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan, masyarakat dapat mulai mengamati Pink Moon sejak setelah terbenam matahari, Rabu (1/4/2026) hingga sebelum matahari terbit, Kamis (2/4/2026).

Baca juga: Harga BBM 1 April 2026 Jakarta dan Sekitarnya di SPBU Pertamina, Ini Daftarnya

Waktu Terbaik Mengamati Pink Moon

Berdasarkan informasi dari situs astronomi Time and Date, waktu terbaik untuk menyaksikan Pink Moon adalah sesaat setelah bulan terbit, atau bertepatan dengan waktu setelah terbenam matahari.

Pada momen ini, bulan berada di posisi rendah dekat cakrawala sehingga menimbulkan efek ilusi optik.

Efek atmosfer tersebut membuat bulan tampak lebih besar dan memancarkan cahaya keemasan yang lebih jelas dibandingkan saat berada tinggi di langit.

Fenomena ini dapat diamati hingga dini hari, selama kondisi langit tidak tertutup awan tebal.

Baca juga: “Bukan Hak Saya, Maka Saya Kembalikan”: Saat Warga Tinggalkan Lahan Makam di Jakbar

Bisa Dilihat Tanpa Alat

Thomas menegaskan, Pink Moon dapat diamati secara langsung tanpa alat bantu.

“Dapat diamati tanpa alat atau dengan teleskop plus kamera,” kata dia.

Fenomena ini juga aman untuk disaksikan dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat.

Secara umum, kondisi yang terjadi sama seperti bulan purnama lainnya, termasuk peningkatan pasang air laut akibat posisi Bulan dan Matahari yang hampir segaris dengan Bumi.

Baca juga: BMKG: Prakiraan Cuaca Jakarta 1 April 2026 Berawan hingga Hujan Sedang

Pink Moon Bukan Pekat Berwarna Pink

Meski disebut “Pink Moon”, Thomas menegaskan warna bulan tidak berubah menjadi merah muda yang tegas.

“Warnanya bukan pink, sama dengan purnama umumnya, putih kekuningan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, istilah tersebut berasal dari tradisi penamaan bulan purnama di Amerika Serikat.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Nama “Pink Moon” merujuk pada bunga liar berwarna merah muda, yaitu phlox (Phlox subulata), yang mekar pada musim semi bulan April di Amerika Utara.

Dengan demikian, istilah tersebut lebih berkaitan dengan penanda musim, bukan warna bulan yang terlihat dari Bumi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Multivision Plus (RAAM) Pangkas Rugi Jadi Rp54,30 Miliar di 2025
• 4 jam laluidxchannel.com
thumb
Pendidikan bagi Perempun Masih Ada Kesenjangan, Apa yang Akan Dilakukan Pemerintah?
• 6 jam lalukompas.id
thumb
Kepuasan Penumpang Kereta Api Mudik Lebaran Capai 92,1%
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Rupiah menguat seiring optimisme deeskalasi perang AS-Iran
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Mendagri Terbitkan SE Aturan WFH ASN Pemda, Berlaku Setiap Hari Jumat
• 7 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.