NASA mengumumkan rencana ambisius yang mungkin nyaris mustahil, yakni membangun pangkalan di Bulan sekaligus meluncurkan pesawat antariksa bertenaga nuklir pada 2028.
Langkah ini menjadi perubahan terbaru dalam program Artemis. NASA memutuskan untuk menunda pembangunan stasiun luar angkasa orbit Bulan, Gateway, dan mengalihkan komponennya untuk membangun pangkalan Bulan baru senilai 20 miliar dolar AS.
Administrator NASA, Jared Isaacman, menegaskan komitmen lembaganya untuk kembali mencetak sejarah.
“NASA berkomitmen untuk kembali mencapai hal yang nyaris mustahil, kembali ke Bulan sebelum akhir masa jabatan Presiden Donald Trump, membangun pangkalan Bulan, dan memastikan kepemimpinan Amerika di luar angkasa,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Rencana tersebut dipaparkan dalam konferensi pers bertajuk “Ignition” pada Selasa (24/3). Dalam kesempatan yang sama, Isaacman mengumumkan pengembangan Space Reactor-1 Freedom, pesawat antariksa antarplanet pertama di dunia yang ditenagai energi nuklir. NASA menargetkan pesawat ini bisa meluncur menuju Mars pada 2028.
Dengan demikian, NASA kini membidik dua misi pendaratan manusia di Bulan sekaligus peluncuran pesawat revolusioner dalam satu tahun yang sama—target yang dinilai sangat ambisius.
Pasalnya, program Artemis sebelumnya mengalami berbagai penundaan. Pada 2019, NASA sempat menargetkan pendaratan di Bulan melalui Artemis III pada 2024. Namun hingga 2026, misi Artemis II yang merupakan penerbangan berawak pertama mengelilingi Bulan belum juga diluncurkan, meski dijadwalkan bisa lepas landas dalam waktu dekat.
Isaacman menyebut penundaan dan pembengkakan biaya sebagai alasan utama percepatan program. Ia juga menegaskan ambisi untuk kembali mendaratkan manusia di Bulan sebelum masa jabatan Presiden AS saat ini berakhir.
Selain itu, faktor geopolitik turut menjadi pendorong. NASA mengakui adanya persaingan dengan negara lain dalam eksplorasi luar angkasa. China diketahui menargetkan pendaratan astronot di Bulan sebelum 2030, bahkan membidik lokasi yang sama di wilayah kutub selatan Bulan.
“Perbedaan antara sukses dan gagal akan diukur dalam hitungan bulan, bukan tahun,” kata Isaacman.
Untuk mempercepat program, NASA akan menstandarkan desain roket, meningkatkan kolaborasi dengan industri, serta memperbanyak frekuensi peluncuran.
Dalam pembaruan terbaru, misi Artemis III akan difokuskan untuk menguji proses docking kapsul Orion dengan pendarat Bulan di orbit Bumi pada 2027. Sementara Artemis IV dan V ditargetkan mendaratkan manusia di Bulan pada 2028, dengan Artemis V menjadi misi pendaratan kedua yang akan menjadi fondasi awal pangkalan permanen.
NASA merancang pembangunan pangkalan Bulan dalam tiga tahap: eksperimen desain dan fungsi, pembangunan infrastruktur semi-huni, hingga akhirnya menjadi pangkalan permanen.
Ke depan, NASA juga menargetkan misi berawak ke Bulan secara rutin setiap enam bulan, dengan memanfaatkan teknologi komersial dan perangkat yang dapat digunakan ulang untuk menekan biaya.
Namun, percepatan ini harus dibayar mahal. Proyek Gateway, stasiun luar angkasa yang direncanakan mengorbit Bulan dan menjadi pusat aktivitas astronot internasional, kini ditunda tanpa batas waktu.
Padahal sebelumnya, Gateway disebut sebagai komponen kunci dalam program Artemis, dengan dukungan mitra internasional seperti Eropa, Kanada, Jepang, dan Uni Emirat Arab. Bulan tetap menjadi batu loncatan menuju eksplorasi Mars. Dalam konteks ini, pesawat nuklir Space Reactor-1 Freedom diharapkan memainkan peran penting.
NASA menyebut pesawat ini nantinya akan mengirimkan muatan Skyfall, berupa helikopter mini untuk menjelajahi permukaan Mars. Kendati demikian, belum jelas sejauh mana perkembangan teknologi pesawat nuklir maupun armada helikopter Mars tersebut.
Dengan berbagai target besar yang dicanangkan, NASA kini berada di persimpangan antara ambisi besar dan tantangan teknis yang tak kalah besar.





