Pantau - Komisaris Energi Uni Eropa (EU) Dan Jorgensen memperingatkan bahwa konflik yang berlangsung di Timur Tengah berpotensi menyebabkan gangguan berkepanjangan pada pasar energi global.
Pernyataan tersebut disampaikan Jorgensen setelah para menteri energi Uni Eropa menggelar pertemuan melalui konferensi video pada Selasa (31/3) untuk mengoordinasikan respons terhadap situasi tersebut.
"Bahkan jika perdamaian terwujud besok, tetap akan ada konsekuensi," kata Jorgensen, seraya menambahkan bahwa infrastruktur energi di kawasan itu telah mengalami kerusakan berat.
Harga Gas dan Minyak MelonjakJorgensen mengungkapkan bahwa sejak konflik dimulai sekitar 30 hari lalu, harga energi di kawasan Uni Eropa mengalami lonjakan signifikan.
Harga gas di kawasan tersebut tercatat meningkat sekitar 70 persen, sementara harga minyak naik sekitar 50 persen.
Ia juga menyebutkan konflik tersebut telah menambah beban impor bahan bakar fosil Uni Eropa hingga 14 miliar euro atau sekitar 16,2 miliar dolar Amerika Serikat.
Kenaikan biaya tersebut dinilai memberikan tekanan tambahan bagi ekonomi negara-negara anggota Uni Eropa yang masih berupaya menjaga stabilitas pasokan energi.
Uni Eropa Siapkan Langkah AntisipasiKomisi Eropa saat ini tengah menyiapkan serangkaian langkah untuk merespons dampak konflik terhadap pasar energi.
Langkah tersebut disebut serupa dengan kebijakan yang pernah diterapkan saat krisis energi pada 2022.
Jorgensen menekankan bahwa negara-negara anggota perlu mempertimbangkan pengurangan permintaan minyak, terutama untuk bahan bakar diesel dan avtur, sambil tetap memastikan perlindungan bagi kelompok masyarakat rentan.
Pada krisis energi 2022, Uni Eropa sempat menerapkan sejumlah kebijakan darurat seperti penetapan batas harga gas, pengenaan pajak keuntungan tak terduga atau windfall levy pada sektor energi, serta penetapan target pengurangan konsumsi gas alam.




