Inflasi Bulanan Maret 2026 Dipicu Harga Pangan dan Transportasi

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Kelompok pangan dan transportasi menjadi pemicu utama inflasi bulanan pada Maret 2026. Meski tingkat inflasi bulanan masih lebih rendah ketimbang tahun lalu, laju inflasi tahunan pada Maret 2026 melonjak hingga tiga kali lipat dibandingkan Maret 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS), pada Rabu (1/4/2026), melaporkan, indeks harga konsumen (IHK) mengalami inflasi sebesar 0,41 persen secara bulanan, dari 110,5 pada Februari 2026 menjadi 110,95 pada Maret 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 1,65 persen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono memaparkan, kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,07 persen serta memberikan andil inflasi sebesar 0,32 persen.

“Komoditas yang dominan mendorong inflasi kelompok ini adalah ikan segar, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, cabai rawit, minyak goreng serta daging sapi,” kata Ateng dalam konferensi pers di Jakarta secara hibrida.

Secara khusus, BPS juga melaporkan inflasi kelompok transportasi pada momentum Lebaran 2026. Berdasarkan data historis selama lima tahun terakhir, hampir selalu terjadi inflasi pada setiap momentum Lebaran dan Ramadhan, kecuali pada periode 2025.

Umumnya, inflasi pada momentum Lebaran juga cenderung lebih tinggi ketimbang periode awal Ramadhan, kecuali pada 2022 dan 2025. Komoditas yang berkontribusi paling besar bagi inflasi kelompok transportasi ialah bensin dan tarif angkutan antarkota, masing-masing sebesar 0,04 persen dan 0,03 persen.

Sebaliknya, terdapat beberapa komoditas kelompok transportasi yang meredam inflasi, yaitu tarif angkutan udara, jalan tol, angkutan laut, ASDP, serta kereta api. Ini terjadi seiring dengan gelontoran paket stimulus ekonomi oleh pemerintah berupa diskon tarif.

Baca JugaHarga Pangan Merangkak Naik pada Awal Ramadhan

Ateng menambahkan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut meredam inflasi bulanan pada Maret 2026 dengan tingkat deflasi sebesar 0,21 persen, terendah dalam empat tahun terakhir. Komoditas utama yang memberikan andil terbesar ialah emas perhiasan yang pertama kalinya mengalami deflasi, setelah 30 bulan beruntun inflasi.

“Komoditas emas perhiasan mencatatkan deflasi sebesar 1,17 persen secara bulanan,” ujarnya.

Inflasi tahunan

Meski laju inflasi secara bulanan lebih rendah, inflasi melonjak secara tahunan. BPS mencatat, kenaikan IHK secara tahunan sebesar 3,48 persen, dari 107,22 pada Maret 2025 menjadi 110,95 pada Maret 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan inflasi tahunan Maret 2025 sebesar 1,03 persen.

Ateng menjelaskan, kondisi ini salah satunya disebabkan oleh masih adanya sedikit pengaruh efek basis rendah (low-base effect). Efek tersebut dipengaruhi oleh kebijakan diskon tarif listrik pada Januari-Februari 2025 yang menekan IHK.

Meskipun tarif listrik prabayar kembali normal pada Maret 2025, diskon untuk pascabayar masih berlanjut. Alhasil, tingkat inflasi pada Maret 2026 masih terlihat lebih tinggi, meskipun dinamika harga secara umum tetap sejalan dengan tren fundamental.

“Masih adanya sedikit pengaruh low-base effect ini terlihat dari angka inflasi tahunan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga pada Maret 2026 yang mencapai 7,24 persen, dengan andil inflasi sebesar 1,08 persen,” tuturnya.

Selain itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi tahunan 3,34 persen dengan andil sebesar 0,99 persen. Lebih lanjut, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat mengalami deflasi sebesar 0,03 persen, dengan andil deflasi hampir nol persen.

Ateng menambahkan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatatkan inflasi sebesar 15,32 persen dengan andil 1,02 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi tersebut ialah emas perhiasan yang mengalami inflasi sebesar 0,96 persen secara tahunan.

Dihubungi secara terpisah, ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, mengatakan, inflasi inti tetap stabil di level 2,52 persen secara tahunan. Inflasi ini didorong oleh komoditas emas perhiasan, mobil, dan beras beserta lauk-pauknya.

Baca JugaInflasi Terasa hingga di Lidah Masyarakat

Sementara itu, inflasi pangan yang naik tipis menjadi 4,24 persen secara tahunan didorong oleh kenaikan harga daging ayam, beras, dan telur akibat faktor permintaan secara musiman. Meski demikian, kenaikan tersebut masih dapat diimbangi dengan program bantuan pangan.

“Potensi penyesuaian harga bahan bakar non-subsidi kemungkinan dapat meningkatkan angka inflasi inti,” kata Hosianna.

Ia memperkirakan, dampak dari penyesuaian tersebut akan meningkatkan inflasi sebesar 0,23 persen secara tahunan untuk setiap kenaikan harga eceran sebesar 10 persen. Dengan catatan, harga bahan bakar (BBM) bersubsidi tetap tidak berubah.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jakarta Garuda Jaya Dikabarkan Rekrut Pemain Asing Baru, Setter Asal Rusia Siap Tampil di Final Four Proliga 2026
• 7 jam lalutvonenews.com
thumb
CLEO Bukukan Penjualan Rp2,82 Triliun di 2025, Optimistis Tumbuh Double Digit
• 32 menit laluidxchannel.com
thumb
Trump Perketat Aturan Pemungutan Suara via Pos, Singgung Potensi Kecurangan
• 6 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Lewat MotoGP Mandalika, Indonesia Catat Dampak Ekonomi hingga Rp4,96 Triliun
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Grup Bakrie Unggul, Saham Konglomerat Kompak Reli di Awal April
• 1 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.