Jakarta (ANTARA) - Suku Dinas Sumber Daya Air Jakarta Timur (SDA Jaktim) melalui Satuan Pelaksana Sumber Daya Air (Satpel SDA) Kecamatan Cakung melakukan pengerukan sedimen lumpur dan sampah di Saluran Penghubung (Phb) Sangkuriang.
"Petugas mampu mengangkat sekitar 400 meter kubik lumpur dan sampah dari dalam Saluran Penghubung (Phb) Sangkuriang di Jalan Al Falah, RT 01/02, Kelurahan Ujung Menteng," kata Kepala Satpel SDA Kecamatan Cakung Dian Nur Cahyono di Jakarta, Rabu.
Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi potensi genangan atau banjir saat musim hujan.
Dian menyebutkan kondisi saluran tersebut sebelumnya dipenuhi endapan lumpur yang cukup tebal sehingga menghambat aliran air.
Jika tidak segera ditangani, maka kondisi tersebut berpotensi menimbulkan genangan, bahkan banjir di kawasan permukiman warga.
"Total panjang saluran yang dibersihkan sekitar 80 meter dengan lebar 1,8 meter," ujar Dian.
Ketebalan sedimentasi di dalam saluran tersebut mencapai sekitar 40 sentimeter. Kondisi ini membuat 11 petugas harus bekerja keras, bahkan turun langsung ke dalam gorong-gorong untuk mengeruk lumpur yang mengendap.
Proses pengerukan dilakukan secara manual menggunakan peralatan sederhana, seperti cangkul, linggis, garpu, ember, dan karung plastik.
Baca juga: DKI pastikan pengendali banjir berfungsi optimal antisipasi banjir
Menurut Dian, lumpur hasil pengerukan itu tidak sepenuhnya dibuang. Sebagian dimanfaatkan untuk pembuatan tanggul guna memperkuat bantaran, sementara sisanya diangkut dan dibuang ke bantaran Banjir Kanal Timur (BKT) sisi timur.
Pekerjaan pengerukan itu telah dimulai sejak 25 Maret 2026 dan ditargetkan rampung pada 10 April 2026. Sampai dengan saat ini, proses pengerjaan terus berjalan meski menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
Dian mengungkapkan salah satu hambatan utama pengerukan itu, yakni adanya bangunan yang berdiri di atas saluran air, sehingga menyulitkan akses petugas dalam melakukan pembersihan secara optimal.
Kondisi tersebut dinilai memperlambat proses pengerukan dan berpotensi mengurangi efektivitas normalisasi saluran.
Dian pun mengimbau masyarakat untuk tidak mendirikan bangunan di atas saluran air atau mengokupasi area tersebut.
Dia juga menegaskan keberadaan bangunan liar di atas saluran air dapat memperparah risiko banjir.
"Kami minta warga untuk tidak mengokupasi area saluran atau mendirikan bangunan di atasnya. Kalau sudah banjir, nanti kita semua yang merasakan dampaknya," ucap Dian.
Dia berharap melalui pengerukan itu, kapasitas aliran air di Phb Sangkuriang dapat kembali normal sehingga mampu mengurangi risiko genangan saat curah hujan tinggi, sekaligus meningkatkan kenyamanan dan keamanan lingkungan bagi warga sekitar.
Baca juga: Sungai di Jakarta dikeruk untuk atasi banjir
Baca juga: Jaktim keruk saluran air untuk antisipasi banjir
"Petugas mampu mengangkat sekitar 400 meter kubik lumpur dan sampah dari dalam Saluran Penghubung (Phb) Sangkuriang di Jalan Al Falah, RT 01/02, Kelurahan Ujung Menteng," kata Kepala Satpel SDA Kecamatan Cakung Dian Nur Cahyono di Jakarta, Rabu.
Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi potensi genangan atau banjir saat musim hujan.
Dian menyebutkan kondisi saluran tersebut sebelumnya dipenuhi endapan lumpur yang cukup tebal sehingga menghambat aliran air.
Jika tidak segera ditangani, maka kondisi tersebut berpotensi menimbulkan genangan, bahkan banjir di kawasan permukiman warga.
"Total panjang saluran yang dibersihkan sekitar 80 meter dengan lebar 1,8 meter," ujar Dian.
Ketebalan sedimentasi di dalam saluran tersebut mencapai sekitar 40 sentimeter. Kondisi ini membuat 11 petugas harus bekerja keras, bahkan turun langsung ke dalam gorong-gorong untuk mengeruk lumpur yang mengendap.
Proses pengerukan dilakukan secara manual menggunakan peralatan sederhana, seperti cangkul, linggis, garpu, ember, dan karung plastik.
Baca juga: DKI pastikan pengendali banjir berfungsi optimal antisipasi banjir
Menurut Dian, lumpur hasil pengerukan itu tidak sepenuhnya dibuang. Sebagian dimanfaatkan untuk pembuatan tanggul guna memperkuat bantaran, sementara sisanya diangkut dan dibuang ke bantaran Banjir Kanal Timur (BKT) sisi timur.
Pekerjaan pengerukan itu telah dimulai sejak 25 Maret 2026 dan ditargetkan rampung pada 10 April 2026. Sampai dengan saat ini, proses pengerjaan terus berjalan meski menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
Dian mengungkapkan salah satu hambatan utama pengerukan itu, yakni adanya bangunan yang berdiri di atas saluran air, sehingga menyulitkan akses petugas dalam melakukan pembersihan secara optimal.
Kondisi tersebut dinilai memperlambat proses pengerukan dan berpotensi mengurangi efektivitas normalisasi saluran.
Dian pun mengimbau masyarakat untuk tidak mendirikan bangunan di atas saluran air atau mengokupasi area tersebut.
Dia juga menegaskan keberadaan bangunan liar di atas saluran air dapat memperparah risiko banjir.
"Kami minta warga untuk tidak mengokupasi area saluran atau mendirikan bangunan di atasnya. Kalau sudah banjir, nanti kita semua yang merasakan dampaknya," ucap Dian.
Dia berharap melalui pengerukan itu, kapasitas aliran air di Phb Sangkuriang dapat kembali normal sehingga mampu mengurangi risiko genangan saat curah hujan tinggi, sekaligus meningkatkan kenyamanan dan keamanan lingkungan bagi warga sekitar.
Baca juga: Sungai di Jakarta dikeruk untuk atasi banjir
Baca juga: Jaktim keruk saluran air untuk antisipasi banjir





