Kiamat Uang Kertas di Mana-mana, Negara Maju Pilih Cara Lama

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ilustrasi tips dan etika pinjam uang ke teman. (CNBC Indonesia/File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan industri digital global turut mengubah perilaku masyarakat dalam melakukan transaksi keuangan. Kemunculan mobile banking, dompet digital, hingga layanan pembayaran QRIS membuat transaksi sehari-hari makin praktis.

Berbagai layanan tersebut bisa diakses melalui aplikasi di HP, sehingga pembayaran barang/jasa bisa dilakukan dengan mekanisme transfer tanpa harus ke ATM. Masyarakat juga tak perlu terus-terusan membawa uang kertas untuk berbelanja.


Fenomena ini membuat ketergantungan terhadap uang kertas kian menurun. Tak heran jika era digital disebut-sebut membawa 'kiamat' ke uang kertas.

Kendati demikian, fenomena unik terjadi di negara maju. Sepanjang tahun lalu, penggunaan aplikasi pembayaran mobile di Swiss dilaporkan mandek, menurut survei dari Swiss National Bank (SNB).

Penggunaan uang tunai dikatakan tetap populer untuk berbelanja barang atau membayar jasa secara langsung. Mayoritas responden survei mengatakan lebih memilih untuk terus menggunakan uang tunai.

Hanya 2% yang berniat untuk beralih ke pembayaran digital. Pasalnya, responden mengaku pembayaran digital justru tak praktis dan marak digunakan untuk aktivitas ilegal, dikutip dari Reuters, Selasa 931/3/2026).

Aplikasi pembayaran mobile seperti Twint asal Swiss atau Apple Pay digunakan dalam 17% transaksi sepanjang 2025, menurut studi SNB. Angka itu menurun dari persentase 18% sepanjang 2024.

Pilihan Redaksi
  • Sukses Transformasi Bank Raya Catat Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan
  • Akhiri Tradisi 165 Tahun, Tanda Tangan Trump Akan Muncul di Dolar AS
  • Awas! Pecahan Rupiah Ini Tak Berlaku Lagi, Cek Deadline Penukarannya

Kartu debit masih menjadi metode pembayaran paling populer, digunakan dalam 37% pembelian. Kemudian di urutan kedua adalah pembayaran dengan uang tunai sebesar 30%, setara dengan persentase pada 2024.



"Masyarakat menyukai anonimitas daro uang tunai," kata Marcel Stadelmann, peneliti pembayaran di Zurich University.

"Sebagian orang tidak suka meninggalkan jejak di dunia digital saat mereka membayar dengan kartu atau aplikasi mobile," ia menuturkan.

Stadelmann menyebutkan langkah-langkah pemerintah di era Covid-19 membuat sebagian orang lebih sadar akan masalah privasi. Pertumbuhan aplikasi pembayaran digital, menurut Stadelmann, terhenti karena sebagian besar masyarakat Swiss membutuhkan kemudahan tambahan agar tertarik menggunakannya.

"Dengan pembayaran instan, dibutuhkan sesuatu yang membuat pembayaran lebih cepat, lebih mudah, lebih nyaman, atau memberi orang lebih banyak kendali atas pengeluaran mereka dengan memberikan umpan balik langsung jika mereka telah menghabiskan uang secara berlebihan," katanya.

Bulan ini, SNB mengumumkan para perancang uang kertas berikutnya, yang akan mulai beredar pada tahun 2030-an. Stadelmann mengatakan orang-orang menyukai tindakan membelanjakan uang tunai, sebab mereka merasa mereka memiliki kendali atasnya.

"Uang tunai fisik akan tetap penting di Swiss untuk beberapa waktu," katanya.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Teknologi Peralatan Rumah Tangga Kian Canggih & Mudahkan Hidup

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejagung Sita Uang Rp1 Miliar Usai Geledah Kantor Samin Tan
• 14 jam laluidxchannel.com
thumb
Dari Jepang, Prabowo Lanjutkan Lawatan ke Korea Selatan
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Pemerintah Berlakukan WFH bagi ASN Tiap Jumat
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Perlawanan Para Seniman dari Balai Pemuda Surabaya
• 11 jam lalukompas.id
thumb
Pertamax Diisukan Naik Jadi Rp 17.850
• 19 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.