Surat Terbuka untuk Pak Eri Cahyadi: Jangan Biarkan Rumah Seniman Surabaya Ini Hilang

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Hamid Nabhan

Surabaya, 30 Maret 2026

Bapak Eri Cahyadi,
Walikota Surabaya yang saya hormati dan cintai.

Saya menulis surat ini dengan hati yang berat. Bukan sebagai seorang pejabat, bukan sebagai pengamat, melainkan sebagai seorang pelaku seni yang telah menghabiskan sebagian besar masa kreatif saya di ruang-ruang yang kini terancam hilang. Saya menulis ini sebagai bagian dari komunitas yang merasa seperti kehilangan rumah—rumah yang penuh kenangan, tempat kami bertumbuh, dan tempat kami menemukan suara.

Rumah yang Lebih Tua dari Kota Ini Bernama

Balai Pemuda. Begitulah kami biasa menyebutnya. Namun, dinding-dinding ini telah berdiri jauh sebelum nama itu melekat. Dibangun pada tahun 1907 oleh arsitek Belanda Westmaes, gedung ini awalnya bernama De Simpangsche Societeit. Setelah kemerdekaan, tepatnya 12 Desember 1957, gedung ini diserahkan kepada Pemerintah Kota Surabaya dan resmi berganti nama menjadi Balai Pemuda—sebuah ikon kebanggaan kota yang pada tahun ini resmi terdaftar sebagai cagar budaya.

Sejak 30 September 1971, melalui pertemuan bersama Walikota Soekotjo Sastrodinoto, sekretariat Dewan Kesenian Surabaya (DKS) beserta galerinya mulai menempati sisi utara Balai Pemuda. Sejak saat itu, kompleks ini menjelma menjadi Pusat Pagelaran Kesenian Surabaya (PPKS)—jantung kebudayaan Arek Suroboyo.

Namun sejarah di sini bahkan lebih panjang. Pada tahun 1968, Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera)—lembaga pendidikan seni rupa bergaya sanggar yang melahirkan banyak seniman besar—telah lebih dulu menjadikan ruang di Balai Pemuda sebagai tempat berkarya. Hingga akhirnya pada tahun 1972, Aksera berpindah ke Dukuh Kupang, meninggalkan ruang yang kemudian terus hidup sebagai galeri publik bagi para seniman Surabaya hingga hari ini.

Tempat di Mana Nama-Nama Besar Itu Lahir

Pak Eri, di ruang-ruang inilah nama-nama besar seni Indonesia tumbuh. Amang RahmanOH. SuponoDaryono, dan para pelukis legendaris lainnya pernah meneteskan keringat di sini, menghiasi lantai dengan warna-warna kehidupan.

Di dunia musik, nama-nama seperti GomblohLeo KristiNaniel, hingga Franky Sahilatua pernah berkumpul dan mencipta di ruang yang sama. Di dunia sastra, Muhammad Ali—sastrawan yang karyanya menyuarakan denyut nadi rakyat kecil—juga menemukan suaranya dari tempat ini.

Bahkan ketika Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-7 digelar di Surabaya pada tahun 1969, para seniman Aksera yang berkumpul di Balai Pemuda bekerja tanpa lelah membuat spanduk, tulisan, dan karya seni untuk memeriahkan acara besar tersebut. Ini membuktikan bahwa seni bukan sekadar tentang keindahan—tapi juga tentang cinta tanah air dan kontribusi nyata kepada kota.

Dulu, tempat ini menjadi persinggahan bagi seniman dari berbagai generasi dan berbagai kota di Indonesia. Mereka datang bukan hanya untuk pamer, tetapi untuk berbagi, menginspirasi, dan membuktikan bahwa Surabaya adalah rumah bagi kreativitas yang besar.

Ada Juga Mak Ning yang Hatinya Berdenyut di Sini

Namun, Pak Eri, Balai Pemuda tidak hanya hidup dari karya-karya besar. Tempat ini juga memiliki hati yang berdenyut setiap hari: sebuah kantin kecil yang dikelola oleh Mak Ning, seorang janda tua yang telah melayani para seniman, pegawai, dan supir DPRD Surabaya selama puluhan tahun.

Ketika surat perintah pengosongan itu tiba di tangannya yang gemetar, saya melihat air mata yang ia sendiri tak sadari menetes di pipinya.

“Saya sudah menganggap tempat ini sebagai rumah saya,” ujarnya dengan suara lirih.

Selama puluhan tahun, kantin Mak Ning bukan sekadar tempat mencari nafkah. Di sanalah cerita-cerita terlontar, kekhawatiran dan harapan diutarakan, tawa bersama mengisi sudut kecil yang penuh kehangatan. Kini, ia bimbang harus ke mana. Setelah semua yang ia kenal selama bertahun-tahun harus ditinggalkan, bagaimana ia akan mencari nafkah?

Dan Ini Rumah Saya Juga

Untuk saya pribadi, Pak Eri, Galeri DKS di Komplek Balai Pemuda adalah tempat pertama saya menunjukkan karya kepada publik. Di sanalah saya belajar bahwa seni bukan hanya tentang lukisan, patung, atau kata-kata—tapi tentang menyampaikan suara kota. Setiap sudut ruangan itu menyimpan cerita: dari ungkapan yang terlukis di kanvas, nyanyian yang menyuarakan harapan rakyat, hingga puisi-puisi yang mengabadikan jiwa Surabaya.

Bahkan lezatnya masakan Mak Ning yang selalu mengisi hari-hari penuh tawa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kenangan tentang rumah kita.

Apa yang Terjadi, Pak?

Kabar bahwa tempat-tempat ini akan dikosongkan membuat kami bingung dan sedih. Sebuah keputusan yang—maaf—terasa lahir dari pihak yang mungkin tidak sepenuhnya memahami sejarah panjang dan kontribusi yang telah diberikan insan seni Surabaya selama lebih dari setengah abad.

Di mana kami akan bertemu?
Di mana karya Arek-Arek Suroboyo akan bisa dilihat masyarakat?
Di mana para seniman itu akan hidup dan tumbuh?
Dan di mana Mak Ning akan tetap bisa menghidupi dirinya dengan makanan hangat yang telah menjadi bagian dari hidup kami?

Pak Eri, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dengan tegas menyatakan bahwa Pemerintah Daerah berkewajiban memfasilitasi dan memajukan kebudayaan—termasuk menyediakan fasilitas fisik dan anggaran. Namun tindakan pengosongan ini, jika diteruskan, seolah mengabaikan amanat tersebut.

Kami Hanya Ingin Pulang ke Rumah

Pak Walikota yang saya cintai, seniman bisa menjadi duta terbaik bagi Surabaya. Karya mereka bisa membawa nama kota ini ke berbagai tempat, menarik perhatian dunia pada kekayaan budaya kita. Tapi bagaimana kami bisa melakukannya tanpa tempat yang bisa kami sebut sebagai milik sendiri—apalagi tempat yang merupakan bagian dari cagar budaya yang telah menyaksikan perjuangan dan perkembangan kota Surabaya selama lebih dari satu abad?

Bagaimana mungkin sebuah kota membangun masa depannya dengan menggusur bagian penting dari dirinya sendiri?

Saya dan para insan seni Surabaya sangat berharap, Bapak Walikota dapat melihat betapa berharganya warisan ini. Balai Pemuda, Dewan Kesenian Surabaya, galeri-galeri, dan tak terkecuali kantin Mak Ning—semua ini bukanlah beban. Mereka adalah aset berharga yang telah mengangkat martabat Surabaya selama bertahun-tahun.

Mari kita duduk bersama. Mari kita cari solusi bersama. Surabaya layak memiliki seniman yang berkembang. Seniman layak memiliki rumah di kotanya sendiri yang mereka cintai. Dan setiap orang yang telah mengabdikan hidupnya untuk merawat tempat ini—seperti Mak Ning—layak mendapatkan wadah untuk terus hidup dan berkontribusi.

Balai Pemuda, Dewan Kesenian Surabaya, dan semua ruang kreatif di dalamnya adalah jantung kebudayaan Surabaya. Bukan hanya cagar budaya dengan sejarah panjang, tapi juga rumah bagi saya, rumah bagi teman-teman seniman lainnya, dan tempat penghidupan bagi orang-orang seperti Mak Ning yang telah begitu lama merawat tempat ini.

Sekali lagi, saya memohon dan sangat berharap Bapak Walikota dapat memperhatikan hal ini. Semoga kita bisa menemukan jalan keluar bersama—jalan yang menghargai sejarah, menghidupi masa kini, dan membangun masa depan yang berbudaya.

Atas perhatian dan kebijaksanaan Bapak, saya ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.

Hamid Nabhan
Pelaku Seni Surabaya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prasetyo dan Purbaya Rapat di Danantara, Ini yang Dibahas!
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Halal Bihalal Warnai Hari Pertama Sekolah Sukma Bangsa Pidie
• 20 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Kuota Habis? Ini Fitur agar Tetap Bisa Akses Internet
• 1 jam laluharianfajar
thumb
Mindset Perempuan Modern yang Bikin Karier Melesat
• 20 jam lalubeautynesia.id
thumb
Terbaru! 37 Kode Redeem FC Mobile 1 April 2026 Masih Aktif, Klaim 5 Juta Poin dan Raih 9.999.999 FC Points
• 12 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.