Mi memang sudah lama menjadi salah satu makanan favorit banyak orang. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, banyak yang menyukai mi karena rasanya yang lezat dan cara penyajiannya yang mudah.
Namun, di balik kepraktisannya, sebagian besar mi yang beredar di pasaran masih berbahan dasar tepung terigu. Selain itu, tidak semua produk mi memiliki kandungan gizi yang seimbang, terutama dari sisi serat dan indeks glikemik. Hal ini pun memunculkan kebutuhan akan alternatif mi yang lebih sehat.
Dari kebutuhan tersebut, lahirlah berbagai inovasi pangan berbasis bahan lokal. Salah satunya adalah mi taroben, mi non-gluten dengan indeks glikemik rendah yang dikembangkan oleh inovator IPB University, Prof. Ahmad Sulaiman.
“Upaya pemerintah untuk meningkatkan diversifikasi pangan menjadi salah satu latar belakang inovasi ini. Konsumsi beras memang mulai menurun, tetapi konsumsi mi berbahan terigu justru meningkat,” kata Ahmad seperti dikutip dari laman IPB University, Rabu (1/4).
Di balik tingginya konsumsi mi tersebut, Ahmad juga menyoroti bahwa bahan baku utamanya, yakni terigu, masih menjadi perhatian serius. Sebab, terigu sepenuhnya berasal dari impor, sehingga ketergantungan terhadap bahan ini cukup tinggi.
“Ketergantungan yang tinggi terhadap terigu impor tentu dapat mengancam ketahanan pangan nasional. Padahal Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang potensial,” jelasnya.
Inovasi produk yang dikembangkan Ahmad bahkan berhasil masuk dalam daftar 117 Inovasi Indonesia 2025 versi Business Innovation Center (BIC). Keunikan produk ini terletak pada bahan bakunya, yakni talas beneng, tanaman lokal asal Pandeglang, Banten yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai pangan sehari-hari.
“Selama ini talas beneng lebih banyak dimanfaatkan daunnya yang diekspor sebagai bahan baku tembakau alternatif. Padahal umbinya memiliki potensi besar sebagai sumber pangan,” kata dia.
Umbi talas beneng juga diketahui mengandung pati, tinggi serat, serta prebiotik yang baik untuk kesehatan pencernaan. Selain itu, bahan ini juga bebas gluten dan memiliki indeks glikemik rendah, sehingga lebih ramah bagi tubuh.
“Keunggulan tersebut menjadikan talas beneng sangat potensial untuk diolah menjadi pangan fungsional, termasuk mi sehat,” katanya.
Meski begitu, kata Ahmad, proses pengembangan produk mi ini tidak berjalan mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah menciptakan tekstur mi yang tetap kenyal dan nyaman dikonsumsi, meskipun tidak menggunakan gluten seperti mi pada umumnya.
Ahmad berharap pemanfaatan talas beneng dapat semakin berkembang dan mendorong lahirnya berbagai produk pangan sehat berbasis bahan lokal.
“Inovasi pangan lokal seperti ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.





