Wakil Presiden Ke-10 dan Ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), merespons kebijakan WFH setiap Jumat yang ditetapkan pemerintah. Kebijakan ini dalam rangka menghemat energi.
JK sepakat dengan penerapan kebijakan WFH. Meski begitu, ia memberikan sejumlah catatan.
"WFH itu ingin menghemat energi. Ada dua hal di sini. Kalau di kantor, itu energi yang dipakai seperti ini: lampu, AC, itu aja sebenarnya. Itu tidak ada hubungannya dengan BBM karena itu berasal dari listrik," kata JK kepada wartawan di Jakarta, Rabu (1/4).
"Dan listrik di Jakarta ini sebagian besar berasal dari PLTU. PLTU itu bahan bakarnya batu bara. Jadi kita punya batu bara berlebihan, jadi tidak ada hubungannya sebenarnya untuk penghematan BBM di situ," tambah dia.
Terkait pemakaian BBM untuk pegawai atau karyawan ke kantor, JK menilai bisa diatasi yakni dengan memakai angkutan umum. Bahkan di daerah, jika bisa naik sepeda.
"Artinya ada efektifnya, yaitu penghematan bahan bakar bagi pegawai," kata JK.
Meski begitu, JK menilai ada potensi buruk yakni pegawai yang WFH bisa saja tidak bekerja. Ia menyoroti sektor pemerintahan dan swasta yang besar. Menurutnya, mengelolanya tidak bisa dengan WFH.
"Tetapi efeknya mereka tidak kerja. Itu layanan pemerintah itu besar sekali. Apalagi kalau masih diminta pengusaha lagi, bagaimana penjualan, bagaimana produksi? Akan turun. Itu bahayanya akibatnya ini. Nah, jangan kita mendidik, mengajar, memberikan budaya kalau ada masalah suruh istirahat, jangan," kata JK.
"Ini dalam kondisi krisis ini kita harus lebih produktif, harus bekerja dengan betul. Pabrik-pabrik harus bekerja betul, pegawai atau karyawan harus bekerja dengan betul untuk mengatasi masalah ini. Jangan pulang ke rumah," tambah dia.
Warga Harus HematKetua Umum PMI ini sepakat dengan anjuran Menteri ESDM Bahlil Lahadalia agar warga hemat menggunakan BBM. Sebab situasi saat ini kompleks sehingga seluruh pihak harus terlibat.
"Hemat memakai BBM artinya angkutan umum lebih umum. Begitu juga seperti anjurkan oleh Bahlil ya, untuk masak harus hemat. Banyak hal yang harus dihemat betul. Tapi memang situasi banyak hal yang tidak bisa diatasi sendiri, karena memang ini naik harga pun karena harga BBM internasional semua kena," kata JK.
"Ya kalau mau seperti dulu yang kita lakukan tahun 2005-2006 waktu krisis: naikkan harga. Supaya dengan harga naik, otomatis orang mengurangi pemakaian BBM. Dia tidak pergi ke mana-mana kalau tidak perlu. Bisa mengurangi setengah pemakaian BBM. Tapi kalau dikasih harga murah, orang seenaknya," tutur dia.





