Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor migas Indonesia menurun hingga 30,36 persen secara tahunan (yoy) pada Februari 2026 menjadi USD 2 miliar.
Sementara secara kumulatif pada Januari-Februari 2026, impor migas turun 3,5 persen (yoy) menjadi USD 5,16 miliar.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengatakan angka impor yang dicatat BPS baru hingga Februari 2026, sehingga belum bisa memastikan seberapa besar dampak blokade Selat Hormuz oleh Iran yang masih terjadi hingga saat ini.
Pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran terjadi sejak 28 Februari 2026. Penutupan Selat Hormuz, sebagai langkah retaliasi Iran terhadap serangan, menyebabkan disrupsi logistik yang sangat masif, karena jalur tersebut dilewati seperlima pasokan minyak mentah global.
"Kami belum bisa untuk mengkaitkan dengan blokade yang di Selat Hormuz, karena data yang kita rilis masih kondisi di Februari. Kalau tidak salah, perang antara Amerika Israel dan Iran baru terjadi pada akhir Februari," ungkapnya saat konferensi pers, Rabu (1/4).
Dengan demikian, Ateng meminta agar data impor migas yang terimbas perang di Timur Tengah lebih lanjut harus menunggu pada awal bulan mendatang.
BPS mencatat, impor migas mencakup minyak mentah, BBM, dan produk hasil minyak. Untuk produk BBM mengalami penurunan 15,68 persen pada Januari-Februari 2026 menjadi sebesar USD 5,16 miliar dengan volume 9,59 juta ton, turun 3,5 persen.
Sementara volume impor minyak mentah pada periode tersebut naik 32,65 persen menjadi 3,13 juta ton dengan nilai impor yang naik 8,12 persen menjadi sebesar USD 1,49 miliar. Negara utama impor minyak mentah berasal dari Nigeria, Angola, dan Arab Saudi.
"Untuk impor hasil minyak sebesar 6,46 juta ton, naik sebesar 8,93 persen atau senilai USD 3,68 miliar dengan negara utamanya Singapura, Malaysia, dan juga di Amerika Serikat," ungkap Ateng.
Di sisi lain, Ateng menyebutkan BPS juga belum bisa mengumumkan data ekspor dan impor migas dari Qatar, yang terkena serangan pada beberapa fasilitas energinya pada pertengahan Maret 2026.
Dia hanya mencatat selama Februari 2026,ekspor migas Indonesia ke Qatar sebesar USD 43,3 ribu dan USD 517,7 ribu ke Timur Tengah secara keseluruhan.
"Sedangkan impor migas yang dari Qatar itu USD 37,2 juta. Timur Tengah, impor yang untuk yang migas ini USD 447,9 juta. Begitu untuk gambaran kondisi Februari 2026," tandasnya.





