Kasus grooming pada anak sering kali tidak disadari sejak awal karena pelakunya biasanya membangun kedekatan, kepercayaan, hingga ketergantungan emosional terlebih dahulu. Oleh karena itu, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan-perubahan kecil yang muncul pada anak.
Dalam webinar bersama IDAI, Selasa (31/3), Dokter Spesialis Anak sekaligus Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Dr. dr. Ariani, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), M. Kes, menyebut orang tua umumnya yang paling mengenal karakter anak. Jadi ketika ada sikap atau kebiasaan yang berubah drastis, hal itu sebaiknya tidak dianggap sepele.
Ciri-ciri Anak Mengalami Grooming1. Mengalami Perubahan Perilaku
Perubahan perilaku menjadi salah satu alarm penting yang perlu diperhatikan. Anak yang sebelumnya terbuka bisa tiba-tiba menjadi lebih tertutup. Mereka juga bisa tampak lebih mudah marah, cemas, atau tidak nyaman saat diajak bepergian.
Selain itu, anak juga bisa mulai menyimpan banyak rahasia dari keluarga. Misalnya, menjadi sangat protektif terhadap ponsel atau laptopnya, memasang password, hingga tidak mengizinkan orang tua melihat isi perangkat pribadinya.
"Misalnya HP-nya di password, harus pakai face recognition untuk masuk ke laptopnya. Sering diajak bepergian dengan pasangan yang jauh lebih tua. Atau perilaku seksual yang tidak sesuai usianya," ujarnya.
2. Perubahan Emosional
Selain perilaku, perubahan emosi juga patut diperhatikan. Anak yang mengalami grooming bisa tampak lebih sensitif, mudah tersinggung, atau mengalami perubahan suasana hati yang drastis.
Mereka juga bisa terlihat lebih cemas, murung, depresi, atau memilih mengurung diri di kamar. Pada beberapa anak, kondisi ini muncul perlahan sehingga sering kali disalahartikan sebagai “fase remaja biasa”. Padahal, perubahan emosi yang konsisten tetap perlu dicermati.
3. Perubahan dalam Hubungan Sosial
Tanda lainnya bisa terlihat dari kehidupan sosial anak. Anak yang sebelumnya aktif saat berkumpul bersama keluarga atau teman, lalu ia mulai menarik diri, menolak diajak pergi, atau bahkan menghilang dalam waktu tertentu tanpa penjelasan yang jelas.
"Akhirnya di sekolah terjadi penurunan prestasi," ucap dr. Ariani.
4. “Red Flag” Khusus yang Tidak Boleh Diabaikan
Selain itu, dr. Ariani juga mengingatkan adanya beberapa tanda bahaya khusus yang sering kali luput dari perhatian keluarga.
Salah satunya adalah ketika anak sering menerima hadiah yang tidak wajar, misalnya jam tangan, gadget, atau barang-barang mahal yang sebenarnya sulit dibeli oleh anak seusianya. Jika anak tiba-tiba memiliki barang baru tetapi tidak bisa menjelaskan asalnya dengan jelas, orang tua perlu lebih waspada.
"Kemudian seringnya dia telepon malam-malam atau dia video call, zoom dengan orang yang tidak dikenal oleh keluarganya," tegasnya.
Kerentanan Keluarga Bisa Jadi Pintu Masuk PelakuMenurut dr. Ariani, salah satu faktor penting yang kerap dimanfaatkan pelaku adalah kerentanan dalam keluarga. Ya Moms, grooming tidak selalu dimulai karena anak yang kurang hati-hati, tetapi justru karena ada kebutuhan emosional atau kebutuhan sehari-hari anak yang tidak terpenuhi di rumah.
Misalnya, anak merasa tidak ada yang benar-benar hadir untuk mendengarkan, tidak ada yang mengantar atau menjemput sekolah, sering pulang ke rumah kosong, atau tidak memiliki pengasuh yang konsisten. Situasi seperti ini dapat membuat anak lebih mudah merasa dekat dengan orang lain yang tampak perhatian.
"Ada masalah ekonomi, ada masalah rumah tangga, itu juga bisa jadi celah bagi pelaku. Jadi kerentanan keluarganya menjadi sasaran empuk dari si pelaku," tutupnya.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467981/original/006725400_1767939062-James_vs_Hubner.jpg)



