LARANTUKA, KOMPAS — Larantuka di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, sedang memasuki masa Semana Santa atau pekan suci dalam ajaran Gereja Katolik. Para peziarah dari sejumlah daerah dan mancanegara terus berdatangan ke kota berjulukan ”Reinha” atau Ratu, merujuk pada Bunda Maria sebagai pelindung kota dan warga.
Pantauan Kompas pada Rabu (1/4/2026), pagar lilin sudah berdiri di sepanjang jalan pusat kota. Warga bergotong royong memasang pagar tersebut. Pagar terbuat dari kayu dan bambu yang diikat menggunakan tali dari pohon gewang.
Pagar itu menyesuaikan dengan alur prosesi Jumat Agung yang dimulai dari Katedral Reinha Rosari Larantuka, mengelilingi pusat kota, dan kembali lagi ke katedral. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ribuan orang mengikuti jalannya prosesi Jumat Agung.
Di sejumlah kapela hingga katedral, kegiatan peribadatan terus dilakukan oleh umat Katolik setempat dan para peziarah. Semana Santa dimulai pada Minggu Palma (29/3/2026) hingga Minggu Paskah (5/4/2026) mendatang.
Semana Santa merupakan tadisi Katolik yang dilakukan sejumlah suku di bawah Kerajaan Larantuka, kerajaan bercorak Katolik yang pernah ada di Nusantara. Semanta Santa, tradisi warisan Portugis itu diklaim sudah berlangsung lebih dari lima abad.
”Saya penasaran seperti apa jalannya Semana Santa. Saya mengikuti ini sebagai sebuah perjalanan spiritual. Ini adalah kesempatan saya menemukan keheningan,” kata Marsel Abanit (30), warga asal Kabupaten Malaka di Pulau Timor.
Sementara itu, dalam rilis tertulis, Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Larantuka RD Ansel Liwun menegaskan, pelaksanaan Semana Santa 2026 harus dijalani sebagai momentum ziarah dan devosi.
”Bukan sebagai ajang pembuatan konten,” ujarnya.
Menurut Ansel, salah satu hal yang menjadi perhatian serius adalah maraknya penggunaan telepon genggam untuk mengambil foto dan video selama prosesi berlangsung.
Bahkan, dalam beberapa momen sakral, cahaya flash dari ponsel terlihat lebih dominan dibandingkan dengan nyala lilin yang seharusnya menjadi simbol utama dalam perayaan tersebut.
Situasi ini dinilai mengganggu kekhidmatan dan mengurangi makna spiritual dari tradisi Semana Santa. ”Kita datang ke Larantuka untuk berziarah dan berdevosi, bukan untuk membuat konten. Jangan sampai kehadiran kita justru mengganggu umat lain yang sedang berdoa,” ucapnya.
Sejauh ini, panitia Perayaan Pekan Suci telah menyiapkan sistem peliputan resmi. Seluruh dokumentasi kegiatan akan dilakukan oleh tim media yang telah ditunjuk dan akan disiarkan melalui layanan live streaming. Dengan demikian, umat tidak perlu mengambil dokumentasi secara berlebihan selama mengikuti prosesi.
Untuk menjaga ketertiban dan kekhusyukan, panitia juga menetapkan sejumlah ketentuan yang wajib dipatuhi oleh seluruh peziarah. Setiap umat yang mengikuti rangkaian kegiatan Semana Santa diwajibkan melakukan pendaftaran, baik secara daring maupun langsung di sekretariat panitia.
Selain pendaftaran, panitia mewajibkan setiap peziarah mengenakan tanda pengenal resmi selama mengikuti kegiatan. Penggunaan atribut lain yang dapat mengganggu suasana ibadah tidak diperkenankan.
Aturan khusus juga diberlakukan bagi insan media. Setiap jurnalis yang akan melakukan peliputan diwajibkan mendaftarkan diri melalui jalur resmi dan mengenakan identitas selama bertugas.
Jadwal peliputan telah diatur secara rinci oleh panitia, termasuk waktu-waktu tertentu untuk pengambilan gambar di lokasi devosi, seperti Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana.
Panitia juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, seperti warga lansia, orang sakit, ibu hamil atau menyusui, anak balita, serta penyandang disabilitas. Mereka akan diberikan tanda khusus berupa pita merah dan prioritas pelayanan selama mengikuti ziarah di berbagai titik devosi.
Bernadus Tukan, budayawan di Larantuka, menilai, terjadi banyak pergeseran dalam trandisi Semana Santa. Pergeseran itu terjadi setelah tradisi ini dijadikan sebagai destinasi pariwisata.
Pergeseran itu mulai terasa saat pemerintah terlibat lebih dalam dan pelaku tradisi perlahan tersingkir. ”Semana Santa seakan menyesuaikan dengan selera wisatawan. Identitas aslinya bergeser,” ucapnya.




