Trump Bongkar Rencana Akhir: Iran ‘Dikembalikan ke Zaman Batu’ dalam 3 Minggu!

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan di Timur Tengah semakin memuncak setelah Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan bahwa Washington telah memantau secara cermat keterlibatan Tiongkok dan Rusia dalam membantu Iran, dan siap mengambil langkah tegas jika diperlukan.

Dalam konferensi pers di Pentagon pada 31 Maret 2026, Hegseth menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki pemahaman menyeluruh terkait dukungan yang diberikan kedua negara tersebut kepada Teheran.

“Kami sangat memahami apa yang mereka lakukan—apa yang sudah mereka lakukan, maupun yang belum mereka lakukan,” ujarnya.

Meski tidak merinci seluruh informasi kepada publik, Hegseth menegaskan bahwa Washington telah menyiapkan berbagai langkah, mulai dari meredam situasi hingga kemungkinan menghadapi langsung pihak-pihak yang terlibat.

Dia juga memperingatkan bahwa beberapa hari ke depan akan menjadi fase krusial yang dapat menentukan arah konflik di kawasan Timur Tengah.

Iran Kian Tertekan, Kemampuan Militer Menyusut

Di tengah intensitas serangan yang terus meningkat, Hegseth menyatakan bahwa posisi Amerika Serikat semakin kuat, sementara ruang gerak Iran semakin terbatas.

Menurutnya, Iran kini berada dalam kondisi yang sangat sulit untuk membalikkan keadaan secara militer.

Namun demikian, Teheran tidak tinggal diam.

Pada Rabu, 31 Maret 2026, Garda Revolusi Iran mengeluarkan ancaman balasan dengan menyatakan akan menargetkan kepentingan Amerika di kawasan, termasuk perusahaan-perusahaan besar asal AS.

Daftar target yang disebutkan mencakup sejumlah raksasa teknologi dan industri global seperti:

Langkah ini menandai potensi eskalasi konflik ke ranah ekonomi dan korporasi global.

Retakan di NATO: Eropa Mulai Menjauh dari AS

Di sisi lain, dinamika geopolitik di antara sekutu Barat juga menunjukkan tanda-tanda keretakan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyoroti sikap Inggris dan Prancis pada 31 Maret 2026, di tengah sikap dingin sejumlah negara Eropa terhadap operasi militer AS.

Lebih jauh, beberapa negara bahkan mengambil langkah konkret:

Kedua negara tersebut merupakan anggota NATO, sehingga langkah ini dipandang sebagai sinyal serius adanya perbedaan sikap di dalam aliansi.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, memperingatkan bahwa setelah konflik berakhir, pemerintahan Trump akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap hubungan dengan NATO.

Sejumlah analis menilai bahwa kondisi ini berpotensi memicu krisis terbesar dalam aliansi NATO sejak Perang Dunia II.

Bahkan, terdapat spekulasi bahwa AS dapat memindahkan pangkalan militernya ke wilayah alternatif seperti Maroko jika pembatasan dari Eropa terus berlanjut.

UEA Siap Terlibat, Selat Hormuz Jadi Fokus Baru

Sementara itu, perkembangan penting juga terjadi di kawasan Teluk.

Pejabat Arab mengungkapkan bahwa Uni Emirat Arab (UEA) tengah bersiap untuk membantu Amerika Serikat dan sekutunya membuka kembali jalur vital Selat Hormuz, yang sebelumnya terdampak konflik.

Jika langkah ini terealisasi, UEA akan menjadi negara Teluk pertama yang terlibat langsung dalam operasi militer aktif melawan Iran.

Selain itu, UEA juga dilaporkan sedang melobi Dewan Keamanan PBB guna mendapatkan legitimasi internasional atas tindakan tersebut.

Trump: Perang Bisa Berakhir dalam 2–3 Minggu

Dalam pernyataan terpisah pada 31 Maret 2026, Presiden Donald Trump menyampaikan optimisme bahwa konflik dengan Iran dapat segera berakhir.

Dia menyebut bahwa perang kemungkinan dapat diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga minggu, menjadikannya pernyataan paling tegas sejak konflik dimulai.

Namun, Trump juga menegaskan syarat utama penghentian operasi militer:

Iran harus kehilangan kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir dalam waktu dekat.

Dia bahkan menggunakan istilah keras dengan menyebut Iran harus “kembali ke Zaman Batu” dalam konteks kemampuan nuklirnya.

AS Enggan Terlibat di Selat Hormuz

Terkait keamanan Selat Hormuz, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan mengambil peran langsung.

Dia menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga jalur tersebut berada pada negara-negara yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan tersebut.

Trump secara khusus menyinggung Tiongkok sebagai pihak yang akan tetap menggunakan jalur tersebut untuk kebutuhan energi, sementara AS memilih untuk tidak terlibat.

Operasi Militer Masuki Tahap Akhir

Masih pada 31 Maret 2026, Trump menandatangani perintah eksekutif di Gedung Putih dan menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran telah memasuki tahap akhir.

Dia mengklaim bahwa:

Situasi Masih Dinamis

Meski sejumlah pihak mulai berbicara tentang akhir konflik, situasi di lapangan masih sangat dinamis dan penuh ketidakpastian.

Ancaman balasan dari Iran, potensi keterlibatan negara-negara lain, serta retakan di dalam aliansi Barat menjadi faktor yang dapat memengaruhi arah konflik dalam waktu dekat.

Perkembangan dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi penentu apakah konflik ini benar-benar mereda—atau justru meluas menjadi krisis global yang lebih besar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Penemuan Jenazah di Freezer Ayam Gebrek Bekasi
• 18 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tips Menghemat Uang Tanpa Menyiksa Diri
• 3 jam lalubeautynesia.id
thumb
Ketua DPD PDIP Jabar Ono Surono Menyaksikan Langsung Rumahnya Digeledah KPK
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Hartadinata (HRTA) Jajaki Kerja Sama dengan Anak Usaha United Tractors (UNTR)
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
Awal Mula Bareskrim Bongkar Kasus Emas Ilegal Rp 25 T Berbekal Laporan PPATK
• 10 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.