Apa Saja Program Studi dengan Banyak Peminat dalam Penerimaan Mahasiswa Tahun Ini?

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita
Apa yang dapat Anda pelajari dari artikel ini?
  1. Apa saja program studi yang paling diburu pendaftar dalam jalur prestasi (SNBP) dan jalur tes (SNBT)?
  2. Mengapa program studi vokasi dan pertanian kini mulai dilirik kembali oleh calon mahasiswa?
  3. Bagaimana peta persaingan dan rasio kelulusan di kampus-kampus favorit?
  4. Sejauh mana pengaruh akal imitasi (AI) memengaruhi pemilihan program studi di masa depan?
Apa saja program studi yang paling diburu pendaftar dalam jalur prestasi dan jalur tes?

Berdasarkan data Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, bidang kesehatan, teknik, dan hukum tetap menjadi primadona utama bagi lulusan SMA/SMK sederajat. Di rumpun sains dan teknologi (STEM), program studi Kedokteran, Farmasi, dan Ilmu Keperawatan mencatatkan jumlah pendaftar tertinggi, dengan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB menempati posisi puncak pendaftar terbanyak. Sementara pada bidang sosial humaniora, Ilmu Hukum secara konsisten menjadi prodi dengan minat terbanyak ketimbang bidang lainnya.

Tren serupa terlihat pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Prodi seperti Ilmu Komunikasi, Manajemen, dan Teknik Informatika terus mendominasi daftar pilihan favorit. Menariknya, meskipun pendaftar Ilmu Komunikasi masih sangat tinggi, tren jumlah peminatnya sebenarnya mengalami penurunan dalam lima tahun terakhir, berbeda dengan Ilmu Hukum yang justru terus menanjak. Penurunan ini diduga dipengaruhi oleh pertimbangan calon mahasiswa terhadap kemajuan teknologi yang mulai menyentuh bidang komunikasi.

Selain program sarjana, program diploma tiga (D-3) kini mulai ”kebanjiran” peminat karena menawarkan kesiapan kerja yang lebih cepat. Di Universitas Sebelas Maret (UNS), misalnya, prodi D-3 Farmasi, Manajemen Administrasi, Perpajakan, dan Akuntansi memiliki peminat hingga ribuan orang dengan tingkat persaingan yang sangat ketat. Hal ini menunjukkan bahwa calon mahasiswa semakin pragmatis dalam memilih jurusan yang memiliki keterhubungan kuat dengan kebutuhan industri.

Baca JugaSNBP Diumumkan, Kuota Jalur Prestasi Masih Tersisa 10.000 Kursi
Mengapa program studi vokasi dan pertanian kini mulai dilirik kembali oleh calon mahasiswa?

Peningkatan minat pada pendidikan vokasi (D-3 dan D-4) didorong oleh persepsi bahwa lulusannya lebih siap terserap di pasar kerja karena fokus pada praktik dan kompetensi. Data Kemendikbudristek menunjukkan tingkat penyerapan lulusan vokasi mencapai lebih dari 80 persen dalam enam bulan pertama setelah lulus, angka yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata lulusan sarjana akademik. Program ini dinilai memberikan ”amunisi” keterampilan praktis yang selaras dengan perkembangan zaman, seperti penggunaan perangkat lunak khusus dan proyek industri langsung.

Di sisi lain, rumpun pertanian, pangan, serta keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menunjukkan dinamika kenaikan minat yang signifikan sejak 2024. Laporan global, seperti ”Future of Jobs 2025”, memproyeksikan tambahan 35 juta pekerjaan di sektor pertanian hingga 2030, menjadikannya ladang peluang besar di tengah krisis regenerasi petani. Hal ini mengubah citra pertanian dari sektor ”pinggiran” menjadi kebutuhan strategis masa depan yang membutuhkan tenaga terampil di bidang agronomi dan teknologi pangan.

Khusus untuk program studi K3, lonjakan peminatnya sangat ekstrem, meningkat hampir 10 kali lipat dari tahun 2021 ke 2025. Peningkatan ini mencerminkan tingginya kesadaran masyarakat terhadap standar keselamatan kerja di industri modern. Perguruan tinggi merespons tren ini dengan meningkatkan daya tampung kursi secara signifikan untuk mengakomodasi permintaan pendaftar yang terus tumbuh setiap tahun.

Baca JugaProdi Pertanian dan K3 Makin Diminati, Ini Peta Persaingannya
Bagaimana peta persaingan dan rasio kelulusan di kampus-kampus favorit?

Persaingan masuk ke PTN favorit masih sangat terpusat di Pulau Jawa, baik untuk jalur SNBP maupun SNBT. Pada jalur SNBP 2026, universitas seperti Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan Universitas Padjadjaran (Unpad) masuk dalam jajaran kampus yang paling banyak diburu. Tingkat keketatan di kampus-kampus ini sering kali membuat peluang diterima di prodi favorit menjadi di bawah 1 persen, di mana satu kursi diperebutkan oleh ratusan orang.

Rasio persaingan paling ekstrem di rumpun kesehatan dan hukum ditemukan di universitas papan atas, seperti UI, UGM, dan Unair. Dalam laporan Jurnalisme Data Kompas pada SNBT 2026, prodi Ilmu Komunikasi UGM, rasionya mencapai 1:66, sementara di prodi K3 UNS, persaingannya mencapai tingkat 1:139. Untuk program diploma, tingkat keketatan di UNS bahkan ada yang mencapai rasio 1:200, membuktikan bahwa tiket masuk ke kampus favorit tetap menjadi tantangan besar bagi pendaftar.

Menariknya, terdapat perbedaan distribusi pendaftar antara jalur seleksi reguler dan pengajuan beasiswa KIP Kuliah. Jika pendaftar reguler memprioritaskan kampus di Jawa, pendaftar KIP Kuliah justru lebih banyak memilih PTN di luar Jawa, terutama di politeknik. Hal ini menunjukkan adanya pola strategis yang berbeda di kalangan calon mahasiswa dalam mengamankan kursi perguruan tinggi berdasarkan kondisi ekonomi dan peluang kelulusan.

Baca JugaSejumlah Prodi D-3 Ini Kebanjiran Peminat di SNBT
Sejauh mana pengaruh akal imitasi (AI) memengaruhi pemilihan program studi di masa depan?

Kehadiran kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) mulai memengaruhi cara pandang calon mahasiswa terhadap keberlanjutan profesi di bidang sosial humaniora. Menurut laporan World Economic Forum (WEF), tugas-tugas administratif dan teknis, seperti penerjemahan, perangkuman teks, hingga sekretaris legal, sangat berpeluang digantikan oleh mesin. Meskipun minat pada prodi Bahasa Inggris dan Komunikasi masih tinggi, tren penurunan peminat secara perlahan mulai terjadi seiring meningkatnya penggunaan teknologi AI di industri tersebut.

Namun, tenaga manusia profesional tetap dianggap sangat dibutuhkan untuk peran-peran yang memerlukan pengawasan, konteks budaya, dan pemecahan masalah kompleks. Kemampuan multibahasa tetap dikategorikan sebagai keterampilan kognitif global yang berharga, asalkan dibarengi dengan kemampuan berpikir analitik yang tidak bisa dilakukan oleh AI. Oleh karena itu, kurikulum di perguruan tinggi kini mulai diintegrasikan dengan pemahaman teknologi agar lulusannya tetap relevan.

Di masa depan, pekerjaan yang berhubungan dengan pendidikan (guru dan dosen) serta ekonomi keperawatan diprediksi akan terus meningkat signifikan. Meskipun AI dapat membantu tugas-tugas guru, interaksi manusia dalam pengajaran tetap menjadi inti yang tidak tergantikan. Perubahan paradigma masyarakat dan kolaborasi lintas sektor pun dianggap perlu untuk memastikan pendidikan tinggi, baik akademik maupun vokasi, tetap menjadi pionir kemajuan bangsa di era digital.

Baca JugaSNBT 2026 Rumpun Sosial Humaniora, Prodi Mana Paling Memberi Peluang?

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nasib Dean James & Nathan Tjoe-A-On Terancam! Tersandung Status WNI, Klub Belanda Larang Main dan Latihan
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Komisi III soal Vonis Bebas Amsal Sitepu: APH Akhirnya Dengarkan Suara Publik
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
Kumpulan Link Twibbon Jumat Agung 2026, Cocok Diunggah di Medsos!
• 4 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jazz Gunung Series 2026 Umumkan Line Up Pertama
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Pedagang Ketoprak Dibacok di Cengkareng, Warga Duga Dipicu Masalah Asmara
• 4 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.