Kisah Disabilitas di Kudus Door to Door Tawarkan Produk Tas, Kini Banjir Pesanan

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Disabilitas di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Ahmad Saad dahulu menawarkan produk tas buatannya secara door to door ke berbagai instansi. Kini, pesanan tasnya semakin ramai, bahkan ia juga mendapatkan pesanan membuat goodie bag dari berbagai instansi.

kumparan menemui Ahmad Saad di kediamannya di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, pada Rabu (1/4). Ia membagikan pengalaman jatuh bangun membuat produk tas.

Saad, sapaan akrabnya, dahulu lahir normal. Pada usia tiga tahun, ia berjalan normal menggunakan kedua kakinya. Suatu hari, ia jatuh dari sepeda hingga mengalami demam dan kejang. Setelah itu, kakinya lumpuh hingga sekarang.

Empat belas tahun yang lalu, tepatnya pada 2012, ia memulai usaha tas. Ada berbagai jenis tas yang dibuatnya, mulai dari tas punggung, tas gunung, hingga beragam jenis tas lainnya. Ia menawarkan produknya dari pintu ke pintu kantor di berbagai daerah di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Kudus, Demak, Pati, dan Jepara.

Sambil membawa dua tongkat penyangga di tangan kanan dan kiri, ia menawarkan produk tas yang dibawanya di punggung. Sementara itu, untuk berpindah lokasi, Saad menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi menjadi roda tiga. Meski berat, ia menjalaninya selama setahun.

"Terkadang ditolak karena mereka belum membutuhkan. Ada juga yang tidak percaya kalau produk tas tersebut buatan saya sendiri," katanya saat ditemui, Rabu (1/4).

Belum lagi, terkadang ada pelanggan yang sudah memesan tas, namun tidak membayar. Alhasil, ia hanya bisa mengikhlaskan. Bahkan, ia pernah mendapatkan pesanan membuat goodie bag untuk suatu acara, namun kembali berujung tidak dibayar.

"Padahal jumlahnya ratusan goodie bag. Penghasilannya seharusnya bisa saya gunakan untuk modal. Tapi ya sudahlah, diikhlaskan saja. Kalau dipikir berlebihan, pusing," terangnya.

Menjalani kehidupan sebagai penyandang disabilitas menurutnya tidaklah mudah. Aktivitas sehari-harinya harus dijalani menggunakan alat bantu krek (tongkat penyangga), kursi roda, dan sepeda motor roda tiga.

Ia menceritakan, dirinya sempat malu melanjutkan studi ke jenjang SMP. Bahkan, ia sempat vakum selama setahun setelah lulus SD. Setelah itu, ia akhirnya melanjutkan hingga lulus SMP. Selepas tamat SMP, ia mulai membuat tas dan goodie bag dengan cara bekerja di tempat kakaknya.

"Saya sempat malu menjadi disabilitas. Setelah vakum setahun, saya didatangi Dinsos Kudus yang menawarkan untuk melanjutkan sekolah SMP di Solo khusus disabilitas. Akhirnya saya jalani sampai lulus SMP," ujarnya.

Dari sekolah SMP di Solo itulah mentalnya berangsur membaik. Ia mendapatkan banyak pengalaman dari rekan-rekannya bahwa penyandang disabilitas juga bisa berdaya.

Pada tahun 2011, ia mulai membuka usaha produk tas buatannya sendiri di rumah. Ia juga melayani pesanan pembuatan goodie bag dari berbagai instansi, salah satunya dari Kemensos dan RSUD Loekmono Hadi Kudus. Selain itu, pesanan tas dari Pertamina, BNI, dan TIKI juga pernah ia kerjakan.

"Saya tetap semangat menyelesaikan pesanan walaupun hanya bisa menggunakan kaki kiri untuk mengoperasikan dinamo mesin jahit. Kaki kanan saya tidak bisa digunakan. Ketika berjalan, tumpuan saya hanya menggunakan kaki kiri," ujarnya.

Pria berusia 46 tahun itu kini memiliki beragam produk tas, di antaranya tas punggung, tas gunung, handbag, tas tempat tamiya, dan berbagai jenis lainnya. Harga tas tersebut berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 180 ribu.

Produk tasnya telah dibeli hingga ke berbagai daerah seperti Kudus, Pati, Jepara, Semarang, Jakarta, Bali, dan daerah lainnya di Indonesia.

Produk tas gunung dan tas tempat tamiya menjadi yang paling diminati tahun ini. Pemasaran secara online juga dilakukannya.

Ia menjamin kualitas produk tas buatannya bagus dan awet. Begitu juga dengan ritsleting tas yang dijamin tidak mudah rusak.

"Saya menggunakan benang yang biasa digunakan untuk celana jeans. Benangnya besar dan kuat supaya tas buatan saya tidak cepat jebol. Ritsleting tas saya gunakan yang besar dan kuat agar tidak mudah rusak," ujarnya.

Jerih payahnya membuahkan hasil. Penghasilan dari produk tas dan pesanan goodie bag mampu mengantarkannya menyekolahkan kedua anaknya. Selain itu, ia juga dapat membeli sepeda motor baru dan sebidang tanah.

Ayah dua anak ini bersyukur dapat sampai di titik ini. Ke depannya, ia akan terus menghidupkan mesin jahitnya untuk membuat berbagai produk tas.

"Ke depannya saya akan terus menekuni usaha ini," imbuhnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
WFH Setiap Jumat, Ini Strategi Pemkot Surabaya Cegah ASN Keluar Kota Saat Long Weekend
• 1 jam lalurealita.co
thumb
Pertamina Patra Niaga Jamin Distribusi BBM Optimal dan Harga Tetap
• 5 jam lalumatamata.com
thumb
Setelah dari Jepang, Prabowo Tiba di Seoul untuk Bertemu Presiden Korsel
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Farizal Romadhon, prajurit ramah itu gugur di Lebanon
• 15 jam laluantaranews.com
thumb
Harga BBM Dipastikan Tidak Naik, PAN Minta Pengawasan Distribusi Diperketat
• 20 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.