FAJAR, MAKASSAR — Di tengah atmosfer kompetisi yang kian menegang, Bernardo Tavares memilih menurunkan ekspektasi ke titik paling realistis. Bukan tanpa alasan. Laga menghadapi Persita Tangerang pada pekan ke-26 BRI Super League 2025/26 bukan sekadar ulangan pertemuan putaran pertama—ini adalah cerita yang sama sekali berbeda.
Persebaya Surabaya memang sempat menang tipis 1-0 atas Persita pada pertemuan sebelumnya. Namun bagi Tavares, sepak bola bukanlah ruang bagi kenangan untuk dijadikan pegangan. Ia memandang pertandingan akhir pekan ini sebagai lembar baru, dengan konteks yang telah berubah secara signifikan. Persita, dalam penilaiannya, bukan lagi tim yang sama seperti beberapa bulan lalu.
Ada sesuatu yang tumbuh dalam tubuh Persita. Sesuatu yang tak kasat mata, tetapi terasa dalam ritme permainan mereka. Kepercayaan diri, misalnya—unsur yang kerap menjadi pembeda antara tim biasa dan tim yang siap melampaui batasnya sendiri. Kemenangan telak 4-1 atas Madura United sebelum jeda kompetisi menjadi bukti konkret bahwa grafik performa mereka sedang menanjak.
Di sisi lain, Persebaya justru datang dengan beban yang tak ringan. Kekalahan pada laga terakhir menyisakan residu psikologis yang tidak mudah dihapus begitu saja. Dalam situasi seperti ini, Tavares tidak hanya berbicara tentang taktik atau strategi. Ia justru menyoroti aspek yang lebih subtil namun krusial: mentalitas.
Bagi pelatih asal Portugal itu, mental bukan sekadar pelengkap dari kemampuan teknis. Ia adalah fondasi. Tanpa mental yang kuat, skema permainan secanggih apa pun akan mudah runtuh ketika tekanan datang. Tavares memahami betul bahwa sepak bola modern menuntut pemain untuk tidak hanya cepat dalam bergerak, tetapi juga tangguh dalam berpikir dan mengambil keputusan.
“Kepercayaan diri tidak datang secara instan,” kira-kira begitu garis besar pandangan yang ia pegang. Ada proses panjang di baliknya—latihan yang berulang, evaluasi yang jujur, dan keberanian untuk menghadapi kegagalan. Dalam beberapa hari menjelang pertandingan, aspek inilah yang menjadi perhatian utama dalam sesi latihan Persebaya.
Namun, membangun mental bukan berarti mengabaikan detail teknis. Justru sebaliknya, Tavares menekankan bahwa keduanya harus berjalan beriringan. Ia menyoroti pentingnya pengambilan keputusan di lapangan—sebuah elemen yang kerap luput dari perhatian, tetapi memiliki dampak besar terhadap jalannya pertandingan.
Dalam situasi menyerang, misalnya, satu keputusan yang terlambat bisa menggagalkan peluang emas. Begitu pula dalam bertahan, kesalahan kecil dalam membaca pergerakan lawan dapat berujung pada kebobolan. Karena itu, detail-detail seperti posisi tanpa bola, transisi dari menyerang ke bertahan, hingga koordinasi antar lini menjadi fokus pembenahan.
Nama Bruno Moreira dan rekan-rekannya disebut secara khusus dalam konteks ini. Mereka diminta tampil lebih disiplin, lebih cermat, dan—yang tak kalah penting—lebih konsisten sepanjang pertandingan. Tavares ingin timnya tidak hanya bermain baik dalam beberapa menit, tetapi mampu menjaga intensitas dari awal hingga akhir.
Pertandingan yang akan digelar di Stadion Gelora Bung Tomo pada Sabtu malam itu pun menjadi semacam titik balik yang dinanti. Bukan hanya soal tiga poin, tetapi juga tentang bagaimana Persebaya merespons tekanan dan ekspektasi yang datang dari berbagai arah.
Dalam lanskap kompetisi yang semakin kompetitif, setiap laga memiliki bobot yang nyaris setara dengan final. Tidak ada ruang untuk lengah, tidak ada waktu untuk sekadar berharap. Semua harus diperjuangkan dengan kerja keras yang nyata di atas lapangan.
Tavares tampaknya memahami betul posisi timnya saat ini. Ia tidak menjanjikan kemenangan dengan kata-kata yang berlebihan. Sebaliknya, ia memilih menegaskan hal yang lebih mendasar: keinginan untuk menang harus dibuktikan melalui usaha yang konkret.
Sikap ini mencerminkan pendekatan yang pragmatis sekaligus reflektif. Dalam dunia sepak bola yang kerap dipenuhi retorika optimisme, Tavares justru berdiri di sisi yang lebih sunyi—mengakui kelemahan, memahami tantangan, dan perlahan membangun kembali kepercayaan diri timnya.
Di ujung hari, pertandingan melawan Persita bukan hanya tentang siapa yang lebih kuat secara teknis. Ia adalah tentang siapa yang lebih siap secara mental, siapa yang lebih disiplin dalam menjalankan rencana, dan siapa yang mampu bertahan dalam tekanan.
Dan di situlah, nasib Persebaya akan ditentukan—bukan oleh kenangan masa lalu, melainkan oleh apa yang mereka lakukan dalam 90 menit yang akan datang.





