DEPOK, KOMPAS.com - Di wilayah Kukusan, Beji, hingga Depok Baru, Kota Depok, Jawa Barat, ada satu jenis usaha yang tak pernah benar-benar "tidur".
Warung kelontong atau yang biasa disebut dengan warung madura berdiri dengan lampu neon terang, rak penuh barang, dan pintu yang selalu terbuka, bahkan saat dini hari.
Di wilayah yang dikelilingi kampus dan indekos ini, warung madura bukan sekadar toko kelontong.
Itu menjadi simpul kebutuhan harian yang hidup mengikuti ritme kota, dari pagi hingga pagi kembali.
Baca juga: Kisah di Balik Menjamurnya Warung Madura, Ada Bos yang Dukung Pekerja Buka Usaha Sendiri
Pemandangan khas langsung terlihat dari bagian depan, Pertamini berdampingan dengan galon air mineral, serta spanduk bertuliskan “Madura Jaya” atau “Rejeki Mengalir” yang mencolok.
Beberapa warung bahkan menambahkan gerobak minuman instan atau kopi sachet, menjadikannya titik singgah bagi pengendara motor dan mahasiswa.
Namun, yang paling mencolok bukan hanya tampilan fisiknya, melainkan keputusan operasionalnya. Buka 24 jam tanpa henti.
Karakter Depok sebagai kota penyangga Jakarta dengan dominasi mahasiswa, pekerja informal, dan penghuni kos menciptakan pola konsumsi yang unik, tidak terbatas waktu.
Izmi (38), pemilik warung Madura di kawasan Kukusan, melihat pola itu sejak awal merintis usaha pada 2012.
“Awalnya saya buka sampai malam saja. Tapi lama-lama pelanggan datang tengah malam, bahkan jam 02.00 WIB masih ada,” ujar Izmi saat ditemui di warung miliknya, Selasa (31/3/2026).
Lingkungan sekitar yang dekat dengan kampus membuat aktivitas malam hari tetap hidup.
Mahasiswa yang bergadang, pengemudi ojek online yang bekerja hingga subuh, hingga warga yang ronda menjadi langganan.
Kondisi inilah yang mendorong Izmi mengubah jam operasional warungnya menjadi 24 jam penuh sejak 2016.
“Kalau tutup, mereka bisa pindah ke tempat lain. Sekali pindah, belum tentu balik lagi,” kata dia.
Menurut Izmi, alasan lainnya kenapa warung Madura buka 24 jam karena faktor ikut-ikutan. Sebagian pemilik hanya mengikuti pola warung lain yang tak pernah tutup.
“Enggak, enggak ada alasan spesifik, tapi memang ada yang sekadar ikut-ikutan atau sudah jadi ciri khas lah,” ucap dia.
Baca juga: Mengapa Warung Madura di Jabodetabek Buka 24 Jam?
24 jam tak pernah benar-benar sepiBerbeda dengan toko pada umumnya, warung Madura di Depok memiliki siklus harian yang nyaris tanpa jeda.
Pagi hari, sekitar pukul 06.00 WIB, aktivitas dimulai dengan pembeli yang hendak berangkat kerja. Mereka membeli kopi, rokok, atau sarapan cepat.
Memasuki siang hingga sore, pelanggan didominasi mahasiswa dan warga sekitar yang membeli kebutuhan harian. Pada jam ini, transaksi menjadi yang paling tinggi.
Malam hari, sekitar pukul 19.00 hingga 22.00 WIB, arus pembeli kembali meningkat seiring kepulangan pekerja.
Namun, keunikan justru terlihat setelah pukul 22.00. Ketika banyak toko tutup, warung Madura tetap melayani pelanggan “malam”, mulai dari mahasiswa, pengemudi ojek online, hingga petugas ronda.
“Jam 01.00 atau 02.00 WIB itu masih ada saja yang datang. Kadang 5 sampai 7 orang,” kata Izmi.
Meski sempat melambat pada pukul 02.00 hingga 05.00 WIB, aktivitas tidak pernah benar-benar berhenti. Transaksi kecil seperti kopi sachet, mie instan, atau rokok tetap terjadi.
Operasional 24 jam tidak mungkin berjalan tanpa pembagian kerja. Di warung Izmi, pekerja dibagi dalam tiga shift, pagi, sore, dan malam.
Sebagian besar pekerja berasal dari Madura, meski tidak semuanya keluarga dekat. Ada pula pekerja dari warga lokal atau mahasiswa.
“Yang penting bisa dipercaya dan mau kerja,” kata Izmi.
Bagi para pekerja, warung menjadi peluang ekonomi di tengah keterbatasan lapangan kerja di kampung halaman.
Meski pekerjaan ini melelahkan, ia tetap bertahan demi membantu perekonomian keluarga.
“Yang penting bisa kirim uang ke orangtua,” ujarnya.





