Liputan6.com, Jakarta - Pagi itu, sebuah panggilan sederhana menjadi kenangan terakhir yang kini tak tergantikan. Di tengah jarak ribuan kilometer antara Indonesia dan Lebanon, suara Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar masih sempat menjangkau ayahnya hangat, penuh perhatian, dan tanpa firasat bahwa itu akan menjadi percakapan terakhir.
Iskandarudin, sang ayah, mengingat momen itu dengan suara bergetar. Hari Senin pagi, hanya beberapa jam sebelum ledakan proyektil merenggut nyawa putranya dalam misi perdamaian PBB, Zulmi menghubunginya melalui WhatsApp. Percakapan itu tak panjang, namun sarat makna.
Advertisement
"Senin pagi dia telepon WA. 'Assalamualaikum, Pah. Rencana hari ini mau ke mana?'. Dia bilang 'Nanti Papa kalau berangkat jangan sendirian' karena mungkin mengingat umur ya, dia juga berpesan 'Papa sudah tua, bawa teman atau gantian sopir'," kenang Iskandarudin dengan nada bergetar saat ditemui di rumah duka di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026), seperti dilansir dari Antara.
Perhatian itu kini terasa semakin dalam, seolah menjadi pesan perpisahan yang tak pernah disadari. Bagi Iskandarudin, Zulmi bukan hanya seorang anak, tetapi juga sosok prajurit yang ia banggakan sepenuh hati.
Sebagai seorang pensiunan anggota TNI, Iskandarudin memahami betul kerasnya kehidupan militer. Namun, ia melihat sesuatu yang lebih dalam pada diri putranya: ketekunan, kepemimpinan, dan masa depan yang menjanjikan.
"Karena saya merasa dari bawah selama berkarir jadi anggota saya belum pernah menduduki jabatan karena memang dari golongan terendah, karenanya saya sampaikan kepada dia: 'Jadilah pemimpin yang baik, yang dikenal oleh anggota'," tuturnya.
Zulmi menapaki jalan itu. Ia tumbuh menjadi perwira yang dipercaya memimpin, sosok yang tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga mengemban tanggung jawab dengan penuh dedikasi. Namun takdir berkata lain.




