KESEDIHAN mendalam masih dirasakan Iskandarudin setelah kehilangan putra tercintanya, Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar, yang gugur saat menjalankan misi perdamaian PBB di Libanon.
Iskandarudin mengungkapkan momen terakhir komunikasi dengan sang anak yang terjadi pada Senin pagi, hanya beberapa jam sebelum insiden ledakan proyektil yang merenggut nyawa Zulmi. Saat itu, Zulmi menghubunginya melalui WhatsApp dengan penuh perhatian dan kepedulian.
"Senin pagi dia telepon WA. 'Assalamualaikum, Pah. Rencana hari ini mau ke mana?'. Dia bilang 'Nanti Papa kalau berangkat jangan sendirian', karena mungkin mengingat umur ya, dia juga berpesan 'Papa sudah tua, bawa teman atau gantian sopir'," kenang Iskandarudin dengan nada bergetar saat ditemui di rumah duka di Cimahi, Jawa Barat, Rabu (1/4).
Baca juga : Serangan terhadap Pasukan PBB di Libanon Masuk Kategori Kejahatan Perang
Menurut Iskandarudin, almarhum dikenal sebagai sosok prajurit yang memiliki masa depan cerah. Selama berkarier di militer, Zulmi selalu menunjukkan kinerja yang baik hingga dipercaya memimpin rekan-rekannya.
"Karena saya merasa dari bawah selama berkarir jadi anggota saya belum pernah menduduki jabatan karena memang dari golongan terendah, karenanya saya sampaikan kepada dia, ' Jadilah pemimpin yang baik, yang dikenal oleh anggota'," tuturnya.
Kepergian perwira lulusan Akademi Militer tersebut semakin terasa menyayat hati karena Zulmi sebenarnya dijadwalkan menyelesaikan tugas internasionalnya dan pulang ke Indonesia pada 30 Mei 2026.
Baca juga : GKB-NU Kecam Serangan Israel terhadap Pasukan Perdamaian Indonesia, Dorong Prabowo Fokus Perjuangkan Kemerdekaan Palestina
Setelah kembali dari Libanon, ia bahkan telah dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan militer sebagai langkah menuju jabatan baru di satuannya.
Saat ini, keluarga tengah menantikan kedatangan jenazah yang diperkirakan tiba di Indonesia dalam satu hingga dua hari ke depan. Rencananya, jenazah akan diterbangkan dari Beirut menuju Jakarta sebelum dibawa ke rumah duka di Cimahi.
"Di situ nanti kita akan shalatkan, kita bawa ke makam pahlawan," ujar Iskandarudin menutup pembicaraan.
Meski diliputi duka, keluarga menyatakan telah ikhlas atas kepergian Zulmi. Iskandarudin meyakini bahwa putranya wafat dalam keadaan syahid saat menjalankan tugas negara.
Sebelumnya, tiga prajurit TNI yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Libanon (UNIFIL) dilaporkan gugur di Lebanon pada Maret 2026.
Berdasarkan data TNI, korban yang gugur yakni Prajurit Kepala Farizal Rhomadhon, Sersan Satu Muhammad Nur Ichwan, dan Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar.
Farizal dilaporkan meninggal dunia akibat serangan artileri tidak langsung di wilayah Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu (29/3). Sementara itu, Muhammad Nur Ichwan dan Zulmi meninggal akibat ledakan kendaraan di kawasan Bani Haiyyan pada Senin (30/3). (Ant/E-4)





