KABAR duka menyelimuti Tanah Air di penghujung Maret ini. Kapten Inf Zulmi Aditya, seorang prajurit tangguh dari satuan elite Kopassus yang menjabat sebagai Komandan Kompi Task Force Bravo (TFB) INDOBATT, gugur dalam tugas menjaga perdamaian dunia di bawah bendera UNIFIL.
Tragedi yang terjadi di wilayah Bani Hayyan, Lebanon Selatan, bukan sekadar insiden militer biasa, melainkan pengorbanan di tengah misi kemanusiaan yang luhur.
Misi Mulia di Jalur MencekamInsiden bermula ketika Task Force Bravo melaksanakan misi pengawalan logistik sekaligus menjemput jenazah rekannya, Praka Farizal Romadhon.
Saat itu, pasukan TNI tengah mengawal konvoi milik Combat Support Service Unit (CSSU) dari Spanyol yang bergerak dari Sektor 7-2 menuju Sektor 7-1.
Baca juga: 3 TNI Gugur di Lebanon: Saatnya Indonesia Keluar dari Board of Peace
Dalam rangkaian operasi tersebut, dua kendaraan TNI mengawal enam kendaraan logistik, termasuk membawa kotak jenazah untuk evakuasi almarhum Praka Farizal.
Namun, saat konvoi melintas di wilayah Bani Hayyan dan hendak berbelok, ledakan hebat menghantam kendaraan pertama.
Ledakan itu merenggut nyawa Kapten Zulmi dan Sertu Ikhwan di lokasi kejadian. Tragedi ini juga melukai rekan lainnya, termasuk Kapten Inf Sulthan dan Praka Deni, serta beberapa prajurit di kendaraan pengawal kedua.
Ironisnya, mereka yang bertugas memuliakan jenazah prajurit yang telah gugur, justru menyusul dalam barisan pahlawan kusuma bangsa.
Untuk memahami beratnya beban yang dipikul almarhum, kita perlu menilik struktur taktis UNIFIL Sektor Timur melalui mandat SECEAST OPORDER.
Task Force Bravo (TFB) atau Sector East Mobile Reserve (SEMR) bukan sekadar unit infanteri statis, melainkan "otot taktis" yang beroperasi berdasarkan Commander’s Operational Activities Matrix (COAM).
Di bawah kepemimpinan Kapten Zulmi, unit ini memikul tanggung jawab krusial mulai dari pemantauan pelanggaran Resolusi DK PBB 1701—termasuk pelintasan Blue Line dan penerbangan lintas batas—hingga menjamin kebebasan bergerak (Freedom of Movement) bagi seluruh personel PBB di area-area sensitif.
Fleksibilitas TFB juga mencakup koordinasi erat dengan Lebanese Armed Forces (LAF). Mereka tidak hanya memberikan dukungan teknis, tetapi juga harus bersiap melaksanakan misi "sanitasi area" untuk menghancurkan simpanan senjata ilegal berdasarkan intelijen spesifik.
Dalam menjalankan mandat Perlindungan Sipil (Protection of Civilians), unit ini dituntut siaga melakukan pengintaian di area pra-pengerahan agar personel dan kendaraan tempur berada sedekat mungkin dengan titik dampak saat terjadi kondisi darurat di wilayah tanggung jawab mereka.
Baca juga: Darah Prajurit Indonesia di Lebanon: Alarm Keluar dari Ilusi Netralitas Global
Tragedi di Bani Hayyan kian menyesakkan dada karena insiden itu terjadi justru saat TFB sedang menjalankan fungsi Support of UN Elements, mendukung elemen PBB lainnya dalam menyelesaikan misi mereka.
Sebagai unit yang juga dibekali kemampuan evakuasi darurat, gugurnya Kapten Zulmi dalam misi menjemput jenazah rekan menunjukkan ironi yang getir: Sang Penjaga Pedamaian gugur saat memastikan martabat dan kebebasan bergerak elemen PBB lainnya terjaga.





