REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Rabu (1/4/2026), mengumumkan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali angkatan lautnya. Menurut pernyataan tersebut, analisis dan kesaksian saksi mata menunjukkan bahwa intensitas serangan rudal Iran ke wilayah Israel dan berbagai bagian Timur Tengah sejak dini hari bertentangan dengan klaim Tel Aviv dan Washington.
Di mana, AS dan Israel menyebutkan bahwa serangan Iran telah menurun sebesar 90 persen. Narasi itu disebut terus dipropagandakan oleh pejabat AS dan Israel.
Baca Juga
Dari Adam ke Muhammad: Menelusuri Nasab Suci yang Menggetarkan Sejarah
Melihat Proses Evakuasi KA Ciremai yang Anjlok di Bandung Barat
Iran Luncurkan Serangan Terbesar ke Israel Sejak Awal Agresi
IRGC menyatakan bahwa personel angkatan lautnya, sejak 1 April dini hari, telah melaksanakan lima operasi besar sebagai bagian dari gelombang ke-89 Operasi True Promise 4. Alutsista yang digunakan adalah kombinasi rudal balistik dan jelajah Qadeer serta drone serang untuk menghancurkan target militer utama milik AS dan Israel.
Disebutkan bahwa dalam serangan pertama, dua sistem radar pertahanan udara peringatan dini yang digunakan oleh pasukan AS dan ditempatkan di sebuah struktur maritim di perairan dan pulau-pulau Uni Emirat Arab dihancurkan dengan presisi tinggi.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pernyataan itu juga mencatat bahwa sebuah kapal tanker minyak milik Israel, yang diidentifikasi sebagai “Aqua 1,” menjadi sasaran secara presisi di Teluk Persia bagian tengah. Kapal ini dilaporkan terbakar setelah serangan rudal.