Kolaborasi demi Mendobrak Sekat AI di Tanah Air

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Keterbatasan infrastruktur digital hingga persoalan geografis kerap menjadi hambatan dalam memperluas akses akal imitasi atau AI di Tanah Air. Padahal, setiap orang seharusnya menikmati manfaat AI. Kolaborasi berbagai pihak dapat mendobrak hambatan tersebut.

Kolaborasi itu, antara lain, datang dari Indosat Ooredoo Hutchison, perusahaan telekomunikasi digital, bersama Nvidia, perusahaan semikonduktor di Amerika Serikat. Kerja sama itu diumumkan dalam GTC Nvidia 2026, konferensi teknologi GPU, di California, AS, akhir Maret lalu.

Dalam kolaborasi itu, Indosat memanfaatkan teknologi Nemotron, yakni model dasar bahasa besar (large language model/LLM) yang dikembangkan Nvidia. Adapun LLM adalah sistem AI tingkat lanjut yang dapat memahami, memproses, dan menghasilkan teks alami serupa manusia.

Salah satu wujud dari LLM adalah mesin percakapan berbasis AI atau chatbot, yang mampu memahami konteks pembicaraan. Chatbot itu tidak berdiri sendiri, tetapi dibangun oleh model dasar, seperti Nemotron, Llama dari raksasa teknologi Meta, atau ChatGPT dari OpenAI. 

Nemotron bersifat open source sehingga siapa saja dapat mengakses, mempelajari model kerjanya, hingga mengutak-atik parameter yang digunakan dalam pelatihan model AI. Ini berbeda dengan LLM yang bersifat tertutup dan berbayar sehingga tidak bebas diakses.

Model ini juga memiliki kemampuan dalam mengembangkan agen AI, yang mampu melakukan kerja-kerja secara mandiri. Soal efisien, model ini dapat memproses hingga 1 juta token dengan pembuatan token 50 persen lebih cepat dibandingkan dengan model terbuka lainnya.

Kami percaya masa depan AI di Indonesia harus bisa dinikmati oleh semua orang, bukan hanya di kota besar atau oleh industri tertentu.

Melalui Nemotron, pengguna dapat mengembangkan solusi berbasis AI. Di bidang pendidikan, misalnya, guru bisa membuat chatbot yang berhubungan dengan kurikulum. Rumah sakit juga dapat membangun chatbot terkait informasi rawat inap pasien.

”Kami percaya masa depan AI di Indonesia harus bisa dinikmati oleh semua orang, bukan hanya di kota besar atau oleh industri tertentu,” ujar Vikram Sinha, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison, dalam keterangan tertulisnya, Kamis (26/3/2026).

Dalam kolaborasi ini, pihaknya bakal memanfaatkan model Nemotron untuk pengembangan Sahabat-AI, yakni LLM yang dikembangkan Indosat dalam bahasa Indonesia dan daerah. Sahabat-AI dapat menjawab pertanyaan, melakukan riset, serta membuat kode pemrograman.

Dengan Nemotron, kinerja Sahabat-AI bisa lebih optimal karena langsung terhubung dengan unit pemrosesan grafis (GPU), yang juga berasal dari Nvidia. GPU merupakan perangkat keras yang digunakan untuk memproses data, melatih, dan menjalankan model AI.

Menggunakan infrastruktur GPU dari dalam negeri, pihaknya menjamin data pengguna lebih aman. Dengan keunggulan bahasa Indonesia, Jawa, Sunda, Batak, dan Bali, Sahabat-AI dapat memahami konteks budaya. Hal ini relevan bagi pengguna yang ingin mengembangkan aplikasi AI lokal.

Sahabat-AI juga bersifat terbuka sehingga memungkinkan pengguna memanfaatkan berbagai kapabilitas AI di platform ini. Diluncurkan sejak akhir Februari lalu, aplikasi ini telah diunduh secara gratis lebih dari 1.000 kali di Google Play Store. Pengguna juga dapat mengunduhnya dari App Store. 

Baca JugaAplikasi Sahabat-AI, Jalan Menuju Kedaulatan AI

”Dengan menggabungkan teknologi kelas dunia, seperti model Nemotron dari NVIDIA, infrastruktur AI nasional kami, dan platform seperti Sahabat-AI, kami ingin membawa manfaat AI lebih dekat ke kehidupan sehari-hari masyarakat di seluruh Indonesia,” ujar Vikram.

Saat ini, pihaknya juga tengah membangun AI Grid, yakni infrastruktur AI yang terdistribusi di berbagai daerah. Infrastruktur ini akan menghadirkan akses AI lebih dekat bagi para pengembang (developer) AI, pelaku usaha, dan komunitas di daerah, terutama di luar Jakarta.

Dengan begitu, latensi atau jeda waktu (delay) saat mengirim dan menerima data bisa diminimalkan. Pengguna yang mengakses aplikasi AI di Papua, misalnya, dapat mengalami jeda sepersekian detik karena infrastruktur komputasinya, seperti pusat data, terpusat di Jakarta dan sekitarnya.

Melalui AI Grid, Indosat akan membangun ”pusat data kecil” di berbagai daerah. Pendekatan ini memungkinkan akses yang lebih cepat terhadap daya komputasi AI sekaligus membuka peluang inovasi AI yang lebih luas di daerah, tidak hanya di kota-kota besar. Sekat geografis pun dilunturkan.

Bukan pertama 

Kolaborasi antara Indosat dan Nvidia bukan kali ini saja. Nvidia turut mendukung pembuatan Sahabat-AI pada akhir 2024. Awal Maret lalu, Nvidia dan Nokia turut mengembangkan panggilan 5G berbasis AI atau AI-RAN pertama di Asia Tenggara. Inovasi ini dapat membuat jaringan menjadi lebih cepat dan cerdas sehingga bermanfaat bagi pengguna.

Ronnie Vasishta, Senior Vice President Nvidia, mengatakan, kolaborasi ini tidak hanya mendorong inovasi lokal yang didukung perangkat lunak 5G Nokia dan komputasi Nvidia, tetapi juga membentuk cetak biru pembangunan jaringan. ”Kolaborasi ini untuk memperkuat ekosistem (AI) nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi,” ujarnya via tertulis.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengapresiasi upaya Indosat dan berbagai pihak dalam membangun kekuatan AI dalam negeri. Menurut dia, kehadiran Sahabat-AI merupakan wujud kedaulatan AI di Tanah Air karena berasal dari Indonesia dan untuk warga Indonesia.

”AI yang berdaulat tentu kita harapkan mencerminkan orang-orang Indonesia, budaya-budaya Indonesia, kebiasaan-kebiasaan masyarakat Indonesia yang majemuk, agamanya banyak, sukunya banyak, apalagi pulaunya,” ujar Meutya saat meresmikan peluncuran aplikasi Sahabat-AI, akhir Februari lalu.

Baca JugaPertama di Asia Tenggara, Indosat Kembangkan Panggilan 5G Berbasis AI

Secara terpisah, Ayu Purwarianti, peneliti di Pusat AI Institut Teknologi Bandung, menilai, untuk memperluas akses AI, dibutuhkan ekosistem AI. ”Ekosistem itu pengembangan sumber daya manusia, dukungan dana penelitian terkait AI, kehadiran infrastruktur digital, hingga aturan yang melindungi perusahaan-perusahaan teknologi dalam negeri,” ujarnya.

Kolaborasi berbagai pihak memang dibutuhkan untuk memperluas akses AI. Sebab, setiap orang seharusnya dapat menikmati manfaat dari AI.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kapal Tanker Aqua 1 Diserang Rudal di Perairan Qatar, Seluruh Awak Berhasil Dievakuasi
• 39 menit lalupantau.com
thumb
Cerita Charis Yulianto Mengenai Comeback Timnas Indonesia di Kandang Malaysia pada Semifinal Piala AFF 2004
• 5 jam lalubola.com
thumb
Gibran Wakil Presiden Laporkan Harta Kekayaannya Tahun 2025 Sebanyak Rp27,9 Miliar
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Komisi I DPR Kecam Keras Israel Setujui Hukuman Mati bagi Warga Palestina
• 10 jam laludetik.com
thumb
Mensos Gus Ipul Kawal Pembangunan Sekolah Rakyat di OKU Timur dan Sambas
• 4 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.