Jakarta, VIVA – PT Triputra Agro Persada Tbk menginisiasi program pelatihan Petani Berkualitas dan Sejahtera (Perkasa), bagi seluruh perusahaan anaknya di Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Pelatihan Perkasa ini merupakan bagian dari inisiatif "TAP untuk Negeri" sebagai sahabat petani dari PT Triputra Agro Persada Tbk, yang konsisten dan fokus dalam meningkatkan kualitas agronomi.
Melalui program ini, produktivitas kebun petani diharapkan meningkat seiring tumbuhnya kesejahteraan secara berkelanjutan. Hal itu sebagaimana yang dirasakan oleh Maijan, petani sawit Desa Suak Putat, Sekernan, Muaro Jambi, Jambi.
- Istimewa
Dia mengaku kini jadi lebih terstruktur dalam melakukan pemupukan di kebunnya, dengan menakar dosis dengan tepat dan mengaplikasikannya dengan jadwal yang makin disiplin.
“Dulu saya pikir mupuk itu gampang, tinggal tabur saja. Ternyata cara kita memupuk itu menentukan sehat tidaknya sawit yang ditanam. Kalau pemupukan dilakukan dengan benar, hasilnya memang akan optimal," kata Majian dalam keterangannya, Kamis, 2 April 2026.
Melalui pelatihan tersebut, Maijan mulai memahami pentingnya praktik agronomi yang benar, mulai dari pemilihan pupuk yang sesuai, dosis yang tepat, hingga waktu aplikasi yang efektif untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
"Karena sebelumnya saya hanya mengandalkan kebiasaan turun-temurun tanpa dasar pengetahuan yang memadai," ujarnya.
Program pelatihan Perkasa dirancang dengan memadukan 40 persen teori dasar dan 60 persen praktik langsung di lapangan secara intensif selama tiga hari. Harapannya, petani peserta dapat langsung mempraktikkan cara merawat tanaman secara presisi, sehingga mereka pulang dengan kepercayaan diri untuk menjadi ahli di kebun sendiri.
Petani sawit asal Desa Muara Pias, Long Kali, Paser, Durham, yang juga menjadi peserta PERKASA, mengaku selama ini menghadapi berbagai kendala dalam budidaya kelapa sawit akibat keterbatasan pengetahuan. Mulai dari persoalan bibit yang tidak sesuai harapan, serangan hama di awal tanam, hingga tanaman yang tidak berbuah tanpa diketahui penyebab pastinya.
"Setelah ikut pelatihan Perkasa, kami jadi paham sistem dan praktik yang benar. Ilmu ini sangat membantu untuk memperbaiki pengelolaan kebun agar hasilnya bisa lebih baik,” ujarnya.





